Kumpulan Proposal PTK

BAB I

PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang Masalah

Pembelajaran IPS Ekonomi di SMA difokuskan pada fenomena empirik permasalahan ekonomi yang terjadi masyarakat. Materi ekonomi ini sangat komplek karena terkait dengan perkembangan ekonomi yang senantiasa terus menerus berkembang sejalan perkembangan dunia yang mengglobal, mulai dari sistem ekonomi mikro sampai dengan ekonomi makro (perdagangan internasional). Melalui mata pelajaran IPS  Ekonomi , peserta didik diarahkan untuk dapat menjadi warga negara Indonesia yang demokratis, dan bertanggung jawab, serta warga dunia yang cinta damai.

Mata pelajaran Ekonomi SMA/MA bertujuan agar peserta didik memiliki kemampuan sebagai berikut.

1. Memahami sejumlah konsep ekonomi untuk mengkaitkan peristiwa dan masalah ekonomi dengan kehidupan sehari-hari, terutama yang terjadi dilingkungan individu, rumah tangga, masyarakat, dan negara

2. Menampilkan sikap ingin tahu terhadap sejumlah konsep ekonomi yang diperlukan untuk mendalami ilmu ekonomi

3. Membentuk sikap bijak, rasional dan bertanggungjawab dengan memiliki pengetahuan dan keterampilan ilmu ekonomi, manajemen, dan akuntansi yang

bermanfaat bagi diri sendiri, rumah tangga, masyarakat, dan negara

4. Membuat keputusan yang bertanggungjawab mengenai nilai-nilai sosial ekonomi dalam masyarakat yang majemuk, baik dalam skala nasional maupun internasional.

SMAN 1 Woja merupakan salah satu SMA di Kota Dompu yang di didirikan tahun 1985 ,namun prestasi belajar siswa khususnya ekonomi tidak mengalami perubahan yang berarti . Dilihat dari hasil belajar siswa, hasil analisis Ulangan Harian untuk 13 KD ( Kompetensi Dasar) dari 3 SK ( Standar Kompetensi ) mata pelajaran ekonomi kelas X , pada semester ganjil tahun pelajaran 2007/2008 nilai rata-rata  diperoleh siswa 55,40 dan rata-rata nilai kelas untuk UTS adalah 59,2, dan rata-rata nilai raport kelas sebesar 61,25 sehingga masih ada siswa yang nilai raport di semester ganjil dibawah kriteria ketuntasan minimal (KKM) yang ditentukan .Padahal KKM yang ditentukan untuk mata pelajaran Ekonomi kels X sama dengan  70.  Deminikan pula berdasarkan rekap nilai rata-rata Ujian Nasional th 2006/2007  menurut mata pelajaran, ternyata rata-rata nilai pelajaran ekonomi  hanya 4,5 dengan kualifikasi C

Dari hasil belajar di atas dapat disimpulkan bahwa hasil belajar siswa untuk ulangan harian masuk dalam kategori rendah, untuk hasil belajar UTS masuk dalam kategori sedang dan nilai raport semester ganjil masuk dalam kategori sedang.  Hasil tersebut menunjukkan hasil yang memprihatinkan, dan mungkin dipengaruhi oleh beberapa faktor, di antaranya adalah perencaaan pengajaran  yang kurang, penggunaan metode yang tidak tepat dapat menimbulkan kebosanan, dan kurang kondusifnya sistem pembelajaran, sehingga penyerapan pelajaran kurang. Hal ini merupakan salah satu masalah yang dihadapi dalam pembelajaran IPS , khususnya  mata pelajaran ekonomi di SMAN 1 Woja.

.

Setelah direnungi dan ditelusuri ke belakang , munculnya permasalahan di atas disebabkan oleh beberapa hal, yaitu (1) aktivitas pembelajaran masih didominasi guru, siswa banyak mencatat; (2) metode pembelajaran yang digunakan guru tidak variatif, cenderung ceramah (ekspositori); (3) penggunaan media pembelajaran kurang optimal; (4) hasil belajar siswa kurang mengembirakan. Ini karena Kondisi di SMAN 1 Woja  menunjukkan bahwa hasil belajar ekonomi kurang menggembirakan, meskipun ada anggapan siswa bahwa mata pelajaran ekonomi itu relatig mudah dan bersifat hafalan. Hal ini pasti menjadi bahan renungan para guru IPS , ekonomi khususnya. Namun dalam kenyataannya dapat dilihat bahwa keaktifan dan hasil belajar ekonomi  yang dicapai siswa SMAN 1 Woja masih rendah.

Berkaitan dengan masalah tersebut, factor penyebab lainya  pada pembelajaran ekonomi ditemukan juga keragaman masalah sebagai berikut: 1) keaktifan siswa dalam mengikuti pembelajaran masih belum nampak, 2) siswa jarang mengajukan pertanyaan, walaupun guru sering meminta agar siswa bertanya jika ada hal-hal yang belum jelas, atau kurang paham, 3) keaktifan dalam mengerjakan soal-soal latihan pada proses pembelajaran juga masih kurang, 4) kurangnya keberanian siswa untuk mengemukakan gagasan/pendapat dalam pembelajaran, dan 5) kurangnya keberanian siswa dalam mengerjakan soal di depan kelas. Hal ini menggambarkan efektifitas belajar mengajar dalam kelas masih rendah.

Kondisi atau model pembelajaran seperti di atas dapat mengakibatkan (1) siswa kurang kreatif karena guru terlalu dominan; (2) semangat belajar siswa rendah karena pembelajaran monoton sehingga aktivitas belajar siswa menurun. Menurunnya akitivitas siswa dapat berdampak terhadap rendahnya pemahaman siswa terhadap materi pembelajaran yang diberikan guru; (3) siswa jenuh dan bosan dengan serta pada akhirnya tidak menyukai mata pelajaran ekonomi ; dan (3) anak-anak menjadi rentan tidak lulus mata pelajaran ekonomi.

Untuk menumbuhkan sikap aktif dari siswa tidaklah mudah. Fakta yang terjadi di SMAN 1 Woja selama ini  guru dianggap sumber belajar yang paling benar. Proses pembelajaran yang terjadi memposisikan siswa sebagai pendengar ceramah guru. Akibatnya proses belajar mengajar cenderung membosankan dan menjadikan siswa malas belajar. Sikap anak didik yang pasif tersebut ternyata tidak hanya terjadi pada mata pelajaran tertentu saja tetapi pada hampir semua mata pelajaran termasuk pelajaran ekonomi .

Untuk mengatasi kesulitan pemahaman tersebut, maka perlu ada upaya-upaya guru dalam mengelola pembelajaran ekonomi sehingga aktifitas dan prestasi belajar peserta didik dapat ditingkatkan. Untuk mewujudkan maka siswa harus dilibatkan secara aktif dalam proses belajar. Keberhasilan mencapai tujuan tersebut tidak lepas dari peran guru pembimbing. Di samping itu, pembelajaran Ekonomi juga memperhatikan tingkat perkembangan intelektual dan mental siswa, terkait dengan cara mengajarkannya. Selain menguasai konsep-konsep ekonomi dan metode mengajar, guru Ekonomi juga harus menguasai teori-teori belajar agar apa yang disampaikan dapat dipahami dengan mudah oleh siswa. Sebelum memasuki pelajaran Ekonomi, siswa sudah memiliki pengetahuan dan pengalaman yang berhubungan dengan pengajaran Ekonomi itu sendiri.

Berdasarkan kenyataan di atas, perlu dilakukan upaya meningkatkan hasil belajar siswa pada mata pelajaran Ekonomi. Salah satu diantaranya adalah melalui pendekatan/metode/strategi pembelajaran yang sesuai. Terkait dengan hal tersebut dapat diterapkan pembelajaran inkuiri. Melalui penelitian ini ingin mnegetahui apakah  pembelajaran inkuiri ini dapat meningkatkan aktifitas dan hasil belajar siswa dalam pembelajaran ekonomi

B.Perumusan Masalah dan Alternatif Pemecahan Masalah

  1. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah yang dikemukakan di atas, penelitian ini difokuskan untuk menjawab masalah:

a). Bagaimanakah meningkatkan aktifitas proses  belajar ekonomi , melalui       pembelajaran latihan inkuiri?”

b). Apakah melalui penerapan Pembelajaran latihan inkuiri dapat meningkatkan hasil  belajar siswa?.

2.  Pemecahan Masalah

Pembelajaran latihan inkuiri  dalam hal ini ditetapkan sebagi alternatif pemecahan masalah terkait dengan rendahnya hasil belajar siswa. Pembelajaran latihan inkuiri  merupakan rangkaian kegiatan pembelajaran yang menekankan pada proses berpikir kritis dan analitis untuk mencari dan menemukan sendiri jawaban dari suatu masalah yang dipertanyakan.

Masalah tentang kurangnya keaktifan siswa serta rendahnya hasil belajar siswa kelas X-C di SMA Negeri 1 Woja akan dipecahkan dengan menerapkan model pembelajaran latihan  inkuiri, yaitu model pembelajaran yang terdiri dari 5 fase pembelajaran, sebagai berikut:  (1) Orientasi, membina iklim pembelajaran yang merangsang siswa belajar dengan mengajak siswa berpikir memecahkan suatu masalah melalui tanya jawab agar tercipta suasana dialogis, (2) Merumuskan masalah, membawa siswa pada suatu permasalahan menantang serta mengandung konsep yang jelas dan menarik, (3) Mengajukan hipotesis, mengarahkan siswa mengemukakan hipotesis atas masalah yang diajukan, (4) Pengumpulkan data, mengarahkan siswa untuk mendapatkan landasan dalam menarik kesimpulan, (5) Pengujian hipotesis, mengarahkan siswa menentukan jawaban yang dianggap benar sesuai data yang diperoleh; serta (6) Menarik kesimpulan, mengarahkan siswa mendeskripsikan temuan yang diperoleh berdasarkan uji hipotesis. Ketiga, implementasi pembelajaran inkuiri sosial dapat dijadikan sebagai alternatif untuk meningkatkan hasil belajar siswa pada mata pelajaran matematika

C.Tujuan dan Manfaat Penelitian

1.      Tujuan Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan untuk meengetahui peningkatan aktifias dan  hasil belajar siswa pada mata pelajaran ekonomi melalui penerapan model pembelajaran latihan  inkuiry di kelas X-C  SMAN 1 Woja Kabupaten Dompu 2.      Manfaat Penelitian

    1. Bagi Guru : Hasil penelitian ini dapat dimanfaatkan dalam upaya mengembangkan kemampuan guru menyampaikan materi pelajaran ekonomi
    2. Bagi Sekolah : Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi masukan bagi upaya peningkatan mutu pembelajaran di sekolah.
    3. Bagi Siswa : Harapan lainnya, hasil penelitian dapat memberikan gambaran mengenai upaya peningkatan hasil belajar siswa dalam pembelajaran ekonomi  melalui model  pembelajaran inkuiri sehingga dapat dimanfaatkan sebagai bahan kajian  dalam memperbaiki mutu pembelajaran ses
      1. kebutuhan.

BAB II

LANDASAN TEORI

 

  1. Aktivitas Belajar

 

Dalam sistem pendidikan nasional rumusan tujuan pendidikan baik tujuan kurikuler ma pun instruksional menggunakan klasifikasi hasil belajar yang dikembangkan Benyamin S. Bloom. Secara garis besar Bloom membagi hasil belajar dalam tiga ranah atau takson yakin; ranah kognitif, afektif dan psikomotor, sehingga kemudian tiga ranah ini disebut Taksonomi Bloom.

Penyelenggara pendidikan menekankan pada proses belajar dalam menjalankan aktivitasnya. Reber dalam Syah (2003: 111) mendefinisikan proses belajar sebagai tahapan-tahapan perubahan perilaku kognitif, afektif dan psikomotorik. Makna utama yang terkandung dalam belajar adalah terjadinya perubahan perilaku.  Proses belajar adalah kegiatan yang dialami secara langsung oleh peserta didik pada saat mengikuti pendidikan. Belajar sebagai suatu proses memiliki sejumlah unsur tersendiri yang mencakup tujuan belajar yang ingin dicapai, motivasi, hambatan, stimulus dari lingkungan, persepsi, dan respon dari peserta didik (Sudjana, 2000: 103). Unsur-unsur tersebut dikelola oleh pendidik sehingga tercapainya tujuan pembelajaran.

Aktivitas memiliki pengertian sebagai kegiatan yang dilakukan seseorang. Aktivitas berasal dari bahasa Inggris Activity diartikan sebagai kegiatan. Sedangkan dalama Kamus Besar Bahasa Indonesia, aktivitas adalah kerja atau salah satu kegiatan kerja yang dilaksanakan  (Depdikbud, 1989: 17).
Pada kenyataan di sekolah-sekolah sering guru yang aktif  sehingga murid tidak diberi kesempatan untulk aktif. Betapa pentingnya aktivitas murid dalam proses belajar mengajar sehingga John Dewey, sebagai tokoh pendidikan, mengemukakan prinsip ini melalui metode proyeknya dengan semboyan learning by doing. Bahkan jauh sebelumnya para tokoh pendidikan lainnya seperti Rousseau, Pestalozi, Frobel, dan Montessory telah mendukung prinsip aktivitas dalam pengajaran ini.

Menurut Usman (1995: 22) aktivitas belajar murid yang dimaksud disini adalah aktivitas jasmaniah maupun aktivitas mental. Aktivitas belajar murid dapat digolongkan ke dalam beberapa hal. (1)    Aktivitas visual (visual activities) seperti membaca, menulis, melakukan eksperimen, dan demontrasi;
(2)    Aktivitas lisan (oral activities) seperti bercerita, membaca sajak,  tanya jawab, diskusi dan menyanyi;  (3)    Aktivitas mendengarkan (listening activities) seperti mendengarkan penjelasan guru, ceramah, pengarahan; (4)    Aktivitas gerak (motor activities) seperti senam, atletik, menari, melukis; dan
(5)    Aktivitas menulis (writing activities) seperti mengarang, membuat makalah, membuat surat..

Sedangkan Mengajar adalah membimbing kegiatan belajar siswa sehingga ia mau belajar. “ Teaching is the guidance of learning activities, teaching is for purfose of aiding the pupil learn,” demikian pendapat William Burton. Dengan demikian, aktivitas sangat diperlukan dalam kegiatan belajar mengajar sehingga muridlah yang seharusnya terlibat aktif, sebab murid sebagai subjek didik adalah yang merencanakan, dania sendiri yang melaksanakan belajar mengajar (Usman, 1995: 21).

Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa aktivitas belajar mertupakan rangkaian kegiatan yang dilakukan untuk mencapai perubahan tingkah laku. Aktivitas belajar siswa merupakan kegiatan yang sangat penting dalam belajar karena tanpa aktivitas belajar tidak mungkin pembealajaran yang dilaksanakan dapat berlangsung dengan baik.

  1. Hasil Belajar

Belajar merupakan kata kunci dalam setiap usaha pendidikan, tanpa  belajar tidak pernah ada pendidikan. Belajar hampir selalu mendapat perhatian luas dalam berbagai disiplin ilmu yang berkaitan dengan pendidikan. Belajar menurut Bloom (1976) berkenaan dengan interaksi antara individu dengan kondisi eksternal dalam lingkungan dimana individu bereaksi. Wherington dalam Sudjana (1998: 5) menjelaskan bahwa belajar adalah perubahan tingkah laku yang meliputi keterampilan, kebiasaan, sikap, pengetahuan, pemahaman, dan apresiasi.

Wittig sebagaimana dikemukakan Syah (2003) menjelaskan bahwa proses belajar berlangsung dalam tiga tahapan yaitu: (1) Acquisition (tahap perolehan informasi), pada tahap ini terjadi penerimaan informasi sebagai stimulus dan pemberian respon sehingga diperoleh pemahaman atau perilaku baru. Tahap ini merupakan tahapan yang paling mendasar, bila pada tahap ini kesulitan tidak dibantu maka akan mengalami kesulitan untuk menghadapi tahap selanjutnya; (2) Storage (penyimpanan informasi), pemahaman dan perilaku baru yang diterima secara otomatis akan disimpan dalam memorinya yang disebut shortterm atau longterm memori; (3) Retrieval (mendapatkan kembali informasi), apabila seseorang mendapat pertanyaan tentang materi yang telah diperolehnya maka akan berusaha mengaktifkan kembali fungsi-fungsi sistem memori untuk menjawab pertanyaan atau masalah yang dihadapi. Tahap retrival merupakan peristiwa mental dalam mengungkapkan kembali informasi, pemahaman, dan pengalaman yang telah diperolehnya.

Setelah melalui proses belajar akan diperoleh hasil belajar yang ditunjukkan oleh adanya perubahan tingkah laku peserta didik. Menurut Gagne (1989), hasil belajar dapat dikelompokkan ke dalam lima kategori yaitu: keterampilan intelektual (intellectual skills). strategi-strategi kognitif (cognitive strategies), informasi verbal (verbal information), keterampilan motorik (motor skills), serta  sikap (attitudes).

Menurut Bloom (1976), terdapat tiga aspek (ranah) hasil belajar yakni kognitif, afektif, dan psikomotor. Hasil belajar pada ranah kognitif berkaitan dengan perilaku berpikir, mengetahui, dan memecahkan masalah. Ada enam tingkatan aspek kognitif yang bergerak mulai dari yang sederhana sampai yang kompleks yaitu: (1) pengetahuan (knowledge), yaitu kemampuan mengingat materi pelajaran yang sudah dipelajari sebelumnya; (2) pemahaman (comprehension, understanding), seperti menafsirkan, menjelaskan, atau meringkas; (3) penerapan (application), yaitu kemampuan menafsirkan atau menggunakan materi pelajaran yang sudah dipelajari ke dalam situasi baru atau kongkret; (4) analisis (analysis), yaitu kemampuan menguraikan atau menjabarkan sesuatu ke dalam komponen-komponen atau bagian-bagian sehingga susunannya dapat dimengerti; (5) sintesis (synthesis), yaitu kemampuan menghimpun bagian-bagian ke dalam suatu keseluruhan; (6) evaluasi (evaluation), yaitu kemampuan menggunakan pengetahuan untuk membuat penilaian terhadap sesuatu berdasarkan kriteria tertentu.

Hasil belajar ranah afektif berkaitan dengan sikap, nilai-nilai, interes, apresiasi, dan penyesuaian perasaan sosial. Aspek ini mempunyai lima tingkatan dari yang sederhana sampai ke tingkat yang lebih kompleks yaitu: (1) penerimaan (receiving), merupakan kepekaan menerima rangsangan (stimulus) baik berupa situasi maupun gejala; (2) penanggapan (responding), berkaitan dengan reaksi yang diberikan seseorang terhadap stimulus yang datang; (3) penilaian (valuing), berkaitan dengan nilai dan kepercayaan terhadap gejala atau stimulus yang datang; (4) organisasi (organization), yaitu penerimaan terhadap berbagai nilai yang berbeda berdasarkan suatu sistem nilai tertentu yang lebih tinggi; (5) karakteristik nilai (characterization by a value complex), merupakan keterpaduan semua sistem nilai yang telah dimiliki sesorang, yang mempengaruhi pola kepribadian dan tingkah lakunya.

Hasil belajar ranah psikomotor berkaitan dengan keterampilan yang bersifat manual dan motorik. Aspek ini meliputi (1) persepsi (perception), berkaitan dengan penggunaan indra dalam melakukan kegiatan; (2) kesiapan melakukan pekerjaan (set), berkaitan dengan kesiapan melakukan suatu kegiatan baik secara mental, fisik, maupun emosional; (3) mekanisme (mechanism), berkaitan dengan penampilan respons yang sudah dipelajari; (4) respons terbimbing (guided respons), yaitu mengikuti atau mengulangi perbuatan yang diperintahkan oleh orang lain; (5) kemahiran (complex overt respons), berkaitan dengan gerakan motorik yang terampil; (6) adaptasi (adaptation), berkaitan dengan keterampilan yang sudah berkembang di dalam diri individu sehingga yang bersangkutan mampu memodifikasi pola gerakannya; serta (7) keaslian (origination) yang  merupakan kemampuan untuk menciptakan pola gerakan baru sesuai dengan situasi yang dihadapi.

Secara psikologis belajar merupakan suatu proses perubahan yaitu perubahan tingkah laku sebagai hasil interaksi dengan lingkungannya dalam memenuhi kebutuhan hidupnya. Perubahan-perubahan tersebut akan nyata dalam seluruh aspek tingkah laku. Slameto (2003: 2), menyatakan bahwa “Belajar adalah suatu proses usaha yang dilakukan seseorang untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya”. Kata kunci terjadinya belajar adalah adanya perubahan tingkah laku sebagai akibat dari interaksi dengan lingkungan. Perubahan tingkah laku dalam belajar memiliki ciri-ciri sebagai berikut: (1) Terjadi secara sadar, seseorang yang belajar akan menyadari terjadinya perubahan itu; (2) Bersifat kontinu dan fungsional, perubahan yang terjadi dalam diri seseorang berlanmgsung secara berkesinambungan dan tidak statis. Satu perubahan terjadi akan menyebankan perubahan berikutnya dan akan berguna bagi kehidupan atau proses belajar berikutnya; (3) Bersifat positif, perubahan-perubahan itu senantiasa bertambah dan tertuju untuk memperoleh sesuatu yang lebih baik dari sebelumnya; (4) Bersifat aktif. bahwa prubahan itu tidak terjadi dengan sendirinya melainkan karena usaha individu itu sendiri; (5) Bertujuan dan terarah, perubahan tingkah laku itu terjadi karena adanya tujuan yang akan dicapai; serta (6) Mencakup seluruh aspek tingkah laku, perubahan dalam belajar akan menyeluruh baik dalam sikap, pengetahuan dan sikap.

Belajar merupakan proses untuk memperoleh hasil belajar.  Belajar juga merupakan perilaku aktif dalam menghadapi lingkungan untuk mendapatkan pengalaman, pengetahuan, pemahaman, dan makna.  Menurut Sudjana (1995: 16), hasil belajar adalah proses penentuan tingkat kecakapan penguasaan belajar seseorang dengan cara membandingkannya dengan norma tertentu dalam sistem penilaian yang disepakati.  Hasil belajar dapat diwujudkan dengan adanya perubahan tingkah laku seseorang dalam ranah kognitif, afektif dan psikomotorik yang ditetapkan sebagai tujuan pembelajaran.

 

  1.  Pembelajaran Inkuiri

Pembelajaran inkuiri didefinisikan oleh Piaget sebagai pembelajaran yang mempersiapkan situasi bagi anak untuk melakukan eksperimen sendiri; dalam arti luas ingin melihat apa yang terjadi, ingin melalukan sesuatu, ingin menggunakan simbul-simbul dan mencari jawaban atas pertanyaan sendiri, menghubungkan penemuan yang satu dengan penemuan yang lain, membandingkan apa yang ditemukan dengan yang ditemukan orang lain (Wartono, 1996: 29). Penjelasan tentang inkuiri Menurut Barth dan Shermis (1978: 99) adalah sebagai berikut “Inquiry as a method means that a teacher and his student will identify a problem that is of considerable concern to them –and to our society- and that relevant facts and values will be examined in the light of criteria” .

Istilah inkuiri belum lama muncul dalam tulisan-tulisan tentang pendidikan khususnya dalam pembelajaran di Indonesia. Pengertiannya berbeda menurut konteksnya. Sebagai contoh inkuiri misalnya dapat berarti sikap umum terhadap belajar yang berpusat pada anak yang berarti bahwa perlu dikembangkan inkuiri yang bersifat alami pada anak. Pengertian lainnya adalah menggunakan cara inkuiri dari disiplin ilmu pengetahuan sebagai model mengajar. Secara umum yang dimaksud adalah mengembangkan kemampuan siswa untuk memikirkan secara sungguh-sungguh dan terarah dan merefleksikan hakekat sosial kehidupan khususnya kehidupan siswa sendiri dan arah kehidupan masyarakat dalam upaya memecahkan masalah-masalah sosial. Menurut para pengembangnya, fungsi sekolah dalam masyarakat modern adalah untuk berpartisipasi secara aktif dan kreatif dalam menyusun kembali budaya masyarakat. Untuk itu mereka mengkaji tiga ciri-ciri esensial kelas yang reflektif yaitu

1)      Model inkuiri tidak dapat digunakan dalam semua jenis kelas. Model inkuiri memerlukan iklim terbuka dalam diskusi dimana para siswa mengemukakan gagasannya tentang masalah tertentu.

2)      Kelas harus menekankan pada jawaban yang bersifat sementara (hypothesis) karena itu diskusi kelas akan berorientasi di sekitar solusi-solusi yang bersifat hipotetik. Pengetahuan digambarkan sebagai hipotesis yang secara terus menerus diuji dan diuji kembali siswa dan guru mengumpulkan data dari sumber yang berbeda melakukan analisis, merevisi pengetahuan mereka dan mencoba kembali.

3)      Kelas yang reflektif adalah menggunakan fakta-fakta sebagai bukti. Kelas dianggap sebagai tempat membentuk dan berlatih untuk melakukan inkuiri ilmiah. Validasi fakta-fakta dalam menggunakan model ini memperoleh tempat yang penting .

Dalam penerapan model ini prinsip reaksi guru adalah membantu siswa dalam ber-inkuiri dan menjelaskan posisi. Juga membantu siswa dalam memperbaiki metode kerjanya dan dalam melaksanakan rencananya. Sistem sosialnya adalah agak terstruktur, dimana guru sebagai pemrakarsa inkuiri dan melihat fase-fase yang dilalui siswa. Sistem yang dapat mendukung adalah keterbukaan dan tersedianya perpustakaan serta sumber-sumber yang kaya informasi di masyarakat merupakan salah satu kebutuhan dalam melaksanakan pembelajaran inkuiri sosial.

Pada awalnya strategi pembelajaran inkuiri banvak diterapkan dalam ilmu-ilmu alam (natural science). Namun demikian, para ahli pendidikan ilmu sosial mengadopsi strategi inkuiri yang kemudian dinamakan inkuiri sosial. Hal ini didasarkan pada asumsi penting­nya pembelajaran IPS pada masyarakat yang semakin cepat berubah, seperti yang dikemukakan Robert A Wilkins (1990:85) yang menyatakan bahwa dalam kehidupan masyarakat yang terus menerus mengalami perubahan, pengajaran IPS harus menekankan kepada pengembangan berpikir. Terjadinya ledakan pengetahuan, menurut­nya, menuntut perubahan pola mengajar dari yang hanya sekadar mengingat fakta yang biasa dilakukan melalui strategi pembelajaran dengan strategi kuliah (lectur)atau dari strategi latihan (drill) dalam pola tradisional, menjadi pengembangan kemampuan berpikir kritis (critical thinkirig). Strategi pembelajaran yang dapat mengembangkan kemampuan berpikir itu adalah strategi inkuiri sosial.

Berdasarkan definisi tersebut di atas, inkuiri sosial dapat diartikan sebagai proses yang ditempuh siswa untuk mendapatkan informasi atau pembahasan atau dapat berupa proses yang ditempuh siswa untuk memecahkan suatu permasalahan. Dalam pembelajaran inkuiri sosial, siswa terlibat secara mental maupun fisik untuk memecahkan permasalahan sosial yang diberikan guru. Dengan demikian siswa akan terbiasa bersikap seperti sikap para ilmuwan IPS yang teliti, tekun/ulet, obyektif/jujur, menghormati orang lain dan kritis.

Rumusan pengertian inkuiri itu tidak hanya terbatas kepada pertanyaan atau pemeriksaan, melainkan meliputi pula proses penelitian, keingintahuan, analisa, sampai kepada penarikan kesimpulan tentang hal-hal yang diperiksa atau diteliti. Dalam rangka pendidikan IPS, wawasan inkuiri ini diarahkan kepada kemampuan anak didik berpikir kritis dan menjadi orang yang secara bebas dapat memecahkan sendiri masalah yang dihadapinya.

Menurut Bruce Joyce (dalam Wahab,2007), inkuiri sosial merupakan strategi pem­belajaran dari kelompok sosiaI (social family) subkelompok konsep masyarakat (concept of society). subkelompok ini didasarkan pada asumsi bahwa strategi pendidikan bertujuan untuk mengembangkan anggota masyarakat ideal yang dapat hidup dan dapat mempertinggi kualitas kehidupan masyarakat. Oleh karena itulah siswa harus di­beri pengalaman yang memadai bagaimana caranya memecahkan persoalan-persoalan yang muncul dimasyarakat. Melalui pengalaman itulah setiap individu akan dapat membangun pengetahuan yang berguna bagi diri dan masyarakatnya.

Lebih dari satu abad istilah inkuiri mengandung makna sebagai salah satu usaha kearah pembaruan pendidikan. Namun demikian, istilah inkuiri sering digunakan dalam bermacam­-macam arti. Ada yang menggunakannya berhubungan dengan dengan strategi mengajar yang berpusat pada siswa, ada juga yang menghubungkan istilah inkuiri dengan mengembangkan kemampuan siswa untuk menemukan dan merefleksikan sifat-sifat kehidupan sosial, terutama untuk melatih siswa agar hidup mandiri dalam masyarakatnya.

Terdapat tiga karakteristik pengembangan strategi inkuiri. Pertama, adanya aspek (masalah) sosial dalam kelas yang dianggap penting dan dapat mendorong terciptanya diskusi kelas. Kedua, adanya rumusan hipotesis sebagai fokus untuk inkuiri. Ketiga, penggunaan sebagai pengujian hipotesis. Dari karakteristik inkuiri seperti yang telah diuraikan di atas, maka tampak inkuiri sosial pada dasarnya tidak berbeda dengan inkuiri pada umumnya. Perbedaannya terletak pada masalah yang dikaji adalah masalah-masalah sosial atau masalah kehidupan masyarakat.

. Melalui pembelajaran inkuiri diharapkan peserta didik mampu mengembangkan keterampilan bepikir kritis, mampu memahami konsep-konsep IPS dengan baik dan sekaligus menanamkan sikap ilmiah kepada siswa. Melalui pelatihan keterampilan berpikir secara teratur dan kontinu yang disesuaikan dengan tingkat perkembangan intelektual anak, akan mampu memberikan bekal kemampuan memadai bagi anak, baik untuk bekal hidupnya kelak dimasyarakat maupun untuk melanjutkan pendidikannya kejenjang yang lebih tinggi.

Tahapan proses dalam pembelajaran inkuiri dapat dilaksanakan dengan mengikuti langkah-langkah sebagai berikut (Sanjaya, 2007: 199):

 

Tahap Orientasi:

Beberapa hal yang dapat dilakukan dalam tahapam orientasi ini adalah:

1)      Menjelaskan topik, tujuan dan hasil belajar yang diharapkan dapat dicapai oleh siswa.

2)      Menjelaskan pokok-pokok kegiatan yang harus dilakukan oleh siswa untuk mencapai tujuan. Pada tahap ini dijelaskan langkah-­langkah inkuiri serta tujuan setiap langkah, mulai dari langkah merumuskan masalah sampai dengan merumuskan kesimpulan.

3)      Menjelaskan pentingnya topik dan kegiatan belajar. Hal ini di­lakukan dalam rangka memberikan motivasi belajar siswa.

 

Tahap Merumuskan Masalah:

Merumuskan masalah merupakan langkah membawa siswa pada suatu persoalan yang mengandung teka-teki. Persoalan yang disaji­kan adalah persoalan yang menantang siswa untuk berpikir  meme­cahkan teka-teki itu. Dikatakan teka-teki dalam rumusan masalah yang ingin dikaji disebabkan masalah itu tentu ada jawabannya, dan siswa didorong untuk mencari jawaban yang tepat. Poses mencarl jawaban itulah yang sangat penting dalam strategi inkuiri, oleh sebab itu melalul proses tersebut siswa akan memperoleh peng­alaman yang sangat berharga sebagal upaya mengembangkan mental melalui proses berpikir. Dengan demikian, teka-teki yang menjadi masalah dalam berinkuiri adalah teka-teki yang mengandung konsep yang jelas yang harus dicari dan ditemukan. Ini penting dalam pembeIajaran Inkuiri. Beberapa hal yang harus diperhatikan dalam me­rumuskan masalah, diantaranya:

1)      Masalah hendaknya dirumuskan sendiri oleh siswa. Siswa akan memiliki motivasi belajar yang tinggi manakala dilibatkan dalam merumuskan masalah yang hendak dikaji. Dengan demikian, guru sebaiknya tidak merumuskan sendiri masalah pembelajar­an, guru hanya memberikan topik yang akan dipelajari, sedang­kan bagaimana rumusan masalah yang sesuai dengan topik yang telah ditentukan sebaiknya diserahkan kepada siswa.

2)      Masalah yang dikaji adaIah masaIah yang mengandung teka-teki yang jawabannya pasti. Artinya, guru perlu mendorong agar siswa dapat merumuskan masalah yang menurut guru jawaban sebenarnya sudah ada, tinggal siswa mencari dan mendapatkan jawabannya secara pasti.

3)      Konsep-konsep dalam masalah adalah konsep-konsep yang sudah diketahui terilebih dahulu oleh siswa. Artinya, sebelum masalah itu dikaji lebih jauh melalui proses inkuiri, guru perlu yakin terlebih dahulu bahwa siswa sudah memiliki pemahaman tentang konsep-konsep yang ada dalam rumusan masalah. Jangan harapkan siswa dapat melakukan tahapan inkuiri se­lanjutnya, manakala ia belum paham konsep-konsep yang ter­kandung dalam rumusan masalah.

 

Tahap Merumuskan Hipotesis:

Hipotesis adalah jawaban sementara dari suatu permasalahan yang sedang dikaji. Sebagai jawaban sementara, hipotesis perlu diuji kebenarannya. Kemampuan atau potensi individu untuk berpikir pada dasarnya sudah dimiliki sejak individu itu lahir. Potensi berpikir itu dimulai dari kemampuan setiap individu untuk menebak atau mengira-ngira (berhipotesis) dari suatu permasalahan. Manakala individu dapat membuktikan tebakannya, maka Ia akan sampai pada posisi yang bisa mendorong untuk berpikir lebih lanjut. Oleh sebab itu, potensi untuk mengembangkan kemampuan menebak pada setiap individu harus dibina. Salah satu cara yang dapat dilakukan guru tintuk mengembangkan kemampuan menebak (berhipotesis) pada setiap anak adalah (dengan mengajukan berbagai pertanyaan yang dapat mendorong siswa untuk dapat merumuskan jawaban sementara atau dapat merumuskan berbagai perkiraan kemungkinan jawaban dan suatu permasalahan yang dikaji. Perkiraan sebagai hipotesis bukan sembarang perkiraan, tetapi harus memiliki landasan berpikir yang kokoh, sehingga hipotesis yang dimunculkan itu bersifat rasional dan logis. Kemampuan berpikir logis itu sendiri akan sangat dipengaruhi oleh kedalaman wawasan yang dimiliki serta keluasan pengalaman. Dengan demikian, setiap individu yang kurang mempunyal wawasan akan sulit mengembangkan hipotesis yang rasional dan logis.

Tahap Mengumpulkan Data:

Mengumpulkan data adalah aktivitas menjaring informasi yang dibutuhkan untuk menguji hipotesis yang diajukan. Dalam strategi pembelajaran inkuiri, mengumpulkan data merupakan proses mental yang sangat penting dalam pengembangan intelektual. Proses pengumpulan data bukan hanya memerlukan motivasi yang kuat dalam belajar, akan tetapi juga membutuhkan ketekunan dan ke­mampuan menggunakan potensi berpikirnya. Oleh sebab itu, tugas dan peran guru dalam tahapan ini adalah mengajukan pertanyaan-­pertanyaan yang dapat mendorong siswa untuk berpikir mencari informasi yang dibutuhkan. Sering terjadi kemacetan berinkuiri ada­lah manakala siswa tidak apresiatif terhadap pokok permasalahan. Tidak apresiatif itu biasanya ditunjukkan oleh gejala-gejala ketidak­bergairahan dalam belajar. Manakala guru menemukan gejala-gejala semacam ini, maka guru hendaknya secara terus-menerus memberi­kan dorongan kepada siswa untuk belajar melalui penyuguhan ber­bagai jenis pertanyaan secara menata kepada seluruh siswa sehingga mereka terangsang untuk berpikir.

 

Tahap Menguji Hipotesis:

 Proses menentukan jawaban yang dianggap diterima sesuai dengan data atau informasi yang diperoleh berdasarkan pengumpulan data. Yang terpenting dalam menguji bipotesis adalah mencari tingkat keyakinan siswa atas jawaban yang diberikan. Disamping itu, menguji hipotesis juga berarti mengembangkan kemampuan berpikir rasional. Artinya, kebenaran jawaban yang diberikan bukan banya berdasarkan argumentasi, akan tetapi harus didukung oleh data yang ditemukan dan dapat dipertanggungjawabkan.

 

Tahap Merumuskan kesimpulan:

 Proses mendeskripsikan temuan yang diperoleh berdasarkan hasil pengujian hipotesis. Merumuskan kesimpulan merupakan gongnya dalam proses pembelajaran. Sering terjadi, oleh karena banyaknya data yang diperoleh, menyebabkan kesimpulan yang dirumuskan tidak fokus terhadap masalah yang hendak dipecahkan. Karena itu, untuk mencapai kesimpulan yang akurat sebaiknya guru mampu menunjukkan pada siswa data mana yang relevan.

 

  1. Hipotesis Tindakan

Berdasarkan kajian teoretis tentang pembelajaran inkuiri sosial dan hasil belajar siswa, maka dapat dikemukakan hipotesis: “Jika Pembelajaran inkuiri diterapkan dalam mata pelajaran ekonomi maka aktifitas dan hasil belajar siswa dapat meningkatkan ”.


BAB III

METODE PENELITIAN

  1. A.    Prosedur Penelitian

Penelitian dilaksanakan dengan menggunakan metode penelitian tindakan kelas (PTK). Jenis tindakan yang dilakukan adalah penggunaan model pembelajaran inkuiri yang diterapkan untuk meningkatkan aktifitas dan hasil belajar siswa dalam mata pelajaran ekonomi. Implementasi tindakan diterapkan dalam materi Standar kompetensi ”Konsep Ekonomi dalam kaitannya dengan kegiatan ekonomi konsumen dan produsen”  . Dengan langkah sebagai berikut :

 

………………………………………………………………………………………………

Gambar 3.1: Siklus Kegiatan Penelitian Tindakan Kelas

 

Perencanaan :

Perencanaan dalam penelitian ini berupa penyusunan rancangan tindakan yaitu merancang penggunaan model pembelajaran inkuiri yang dituangkan dalam rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP).

Pelaksanaan :

Pelaksanaan tindakan daalam penelitian ini adalah implementasi tindakan dalam kegiatan pembelajaran.

Pengamatan :

Pengamatan/observasi yaitu mengamati dan mencatat hal-hal penting yang terjadi selama pelaksanaan tindakan berlangsung. Pada tahap ini dilakukan pula penilaian keberhasilan atas tindakan yang dilaksanakan.

Refleksi :

Tahap refleksi adalah mengkaji secara keseluruhan proses pembelajaran atau tindakan yang dilakukan dan dilanjutkan  dengan evaluasi guna menyempurnakan tindakan yang berikutnya. Refleksi mencakup analisis, sintesis, dan penilaian terhadap hasil pengamatan atas tindakan yang dilakukan. Jika terdapat masalah dan proses refleksi, dilakukan proses pengkajian ulang melalui tindakan berikutnya yang meliputi kegiatan: perencanaan ulang, tindakan ulang, dan pengamatan ulang sehingga permasalahan yang dihadapi dapat teratasi.

Pelaksanaan penelitian dilaksanakan dalam bentuk siklus yang berulang, di dalamnya terdapat empat tahapan kegiatan sebagimana dikemukakan di atas. Pelaksanaan penelitian dimulai dengan siklus pertama yang terdiri dari empat kegiatan. Apabila sudah diketahui letak keberhasilan dan hambatan dari tindakan yang dilaksanakan pada siklus pertama tersebut, ditentukan rancangan siklus kedua. pada siklus kedua dapat berupa kegiatan yang sama dengan kegiatan sebelumnya bila ditujukan untuk mengulangi keberhasilan, untuk meyakinkan atau menguatkan hasil. Kegiatan yang dilakukan dalam siklus kedua mempunyai berbagai tambahan perbaikan dari tindakan terdahulu yang ditunjukan untuk mengatasi berbagai hambatan/kesulitan yang ditemukan dalam siklus pertama.

B.     Setting Penelitian

Penelitian tindakan kelas ini dilakukan pada siswa kelas X-C  SMA Negeri 1 Woja Kabupaten Dompu. Obyek penelitian diambil siswa kelas X-C dengan jumlah siswa sebanyak 35 orang. Kegiatan penelitian dilaksanakan pada bulan September s.d. Oktober, awal semester ganjil tahun pelajaran 2007/2008. Penyusunan laporan dilaksanakan pada bulan Nopember sampai dengan Desember 2007.

C.    Teknik Pengumpulan Data Dan Instrumen Penelitian

Data yang dihimpun dalam penelitian ini adalah aaktifitas dan data hasil belajar siswa yang meliputi hasil Tes Siklus I dan Tes Siklus II. Instrumen yang digunakan untuk mengukur hasil belajar disusun dalam bentuk tes obyektif dan tes essay. Data lain yang perlu dikumpulkan untuk menunjang penelitian ini adalah deskripsi proses tindakan yang diperoleh melalui pengamatan selama kegiatan pembelajaran berlangsung. Kegiatan observasi dilakukan dengan bantuan rekan sejawat, yaitu guru mata pelajaran ekonomi di SMAN 1 Woja sebagai observer. Di samping itu, dilakukan pula wawancara kepada siswa dan observer untuk mengetahui pendapat atau tanggapan atas tindakan/kegiatan pembelajaran yang dilaksanakan.

D.    Teknik Analisis Data

Data-data yang telah terkumpul dari hasil tes hasil belajar, obeservasi, dan wawancara akan digunakan sebagai acuan untuk mengetahui keterlaksanaan proses pembelaharan serta hasil belajar yang dicapai. Data tersebut dianalisis dan diolah menggunakan teknik analisis deskriptif sebagai acuan dalam menarik kesimpulan.

 


BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

 BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

 

  1. A.    Kesimpulan

Berdasarkan hasil analisis data serta pembahasan yang telah dikemukakan sebelumnya diperoleh kesimpulan sebagai berikut:

Pertama, strategi pembelajaran inkuiri sosial yang diterapkan dalam penelitian ini adalah pembelajaran yang menekankan pada proses mencari dan menemukan sendiri jawaban atas suatu masalah yang dipertanyakan sebagai upaya memahami materi pelajaran. Implementasi strtegi pembelajaran inkuiri sosial menempatkan siswa sebagai subjek belajar serta menempatkan guru sebagai fasilitator dan motivator belajar bagi siswa.

Kedua, implementasi strategi pembelajaran inkuiri sosial dalam penelitian ini dilaksanakan melalui tahapan sebagai berikut: (1) Tahap Orientasi: Tahap ini dilaksanakan dengan tujuan untuk membina suasana atau iklim pembelajaran yang responsif dalam arti mampu merangsang siswa untuk belajar. (2) Tahap Merumuskan Masalah: dilaksanakan dengan tujuan membawa siswa pada suatu persoalan atau pemasalahan yang menantang siswa untuk berpikir dalam meme­cahkannya, mengandung konsep yang jelas, serta menarik; (3) Tahap Mengajukan Hipotesis: dilaksanakan dengan tujuan agar siswa dapat mengajukan jawaban sementara (hipotesis) atas masalah yang dikaji. (4) Tahap Pengumpulkan Data: dilaksanakan dengan tujuan mendapatkan landasan yang tepat dalam menarik kesimpulan; (5) Tahap Pengujian Hipotesis: dilaksanakan dengan tujuan agar siswa mampu menentukan jawaban yang dianggap benar yaitu jawaban yang sesuai dengan data/informasi yang diperoleh melalui pengumpulan data; (6) Tahap Menarik Kesimpulan: dilaksanakan dengan tujuan agar siawa mampu mendeskripsikan temuan yang diperoleh berdasarkan hasil uji hipotesis.

Ketiga, implementasi strategi pembelajaran inkuiri sosial dapat dijadikan sebagai alternatif strategi untuk meningkatkan hasil belajar siswa pada mata pelajaran geografi..

 

  1. B.     Saran-saran

Berdasarkan hasil penelitian sebagaimana telah dikemukakan sebelumnya dapat diajukan saran sebagai berikut:

Pertama: Hasil penelitian ini memperlihatkan pentingnya pembelajaran inkuiri sosial diterapkan pada konsep-konsep IPS lain yang sulit untuk dipahami siswa. Implementasinya menekankan pada proses pencarian dari pada transfer ilmu pengetahuan. Peran guru hanya sebagai fasilitator yang membimbing dan mengkoordinasikan kegiatan belajar siswa.

Kedua: Dalam merancang, mengembangkan, dan menerapkan strategi pembelajaran yang dapat meningkatkan hasil belajar siswa diperlukan dasar-dasar teori pembelajaran yang mendukung dan harus dikuasai guru. Dengan demikian diperlukan adanya bimbingan khusus tentang apa keterampilan belajar dan bagaimana pengembangannya dalam model pembelajaran.

Ketiga: Untuk keberhasilan penerapan startegi pembelajaran inkuiri sosial, perlu didukung pandangan, kesanggupan dan kesediaan guru untuk melakukan perubahan dalam pola dan model mengajar yang selama ini dipraktikkan dan dianggap sebagai suatu kerangka konseptual yang baku. Kemampuan untuk menerima sesuatu yang baru dan menerapkannya sebagai bagian dari konsep model yang dianutnya, merupakan indikator penting dari kompetensi profesional guru untuk mengembangkan kreativitas guna meningkatkan mutu pembelajaran.

Kelima: Penelitian tindakan tentang penerapan strategi pembelajaran inkuiri sosial masih perlu ditindaklanjuti secara komprehensif, baik dari segi unsur-unsuk pembelajaran yang diteelaahnya maupun pilihan setting sekolahnya.

 


DAFTAR PUSTAKA

 

 

Burton, W.H. dan H.C. Witherington. (1986). Teknik-Teknik Belajar dan Mengajar. Bandung: Jammars.

Sanjaya, Wina. (2006). Strategi Pembelajaran, Berorientasi Standar Proses Pendidikan. Jakarta: Prenada Media Group.

Slameto. (2003). Belajar dan Faktor-faktor yang Mempengaruhinya. Jakarta: Rineka Cipta.

Sudjana, Djudju. (2000) Strategi Pembelajaran. Bandung: Falah, 2000.

Sudjana, Nana. (1989). Dasar-dasar Proses Belajar Mengajar.  Bandung; Sinar Baru.

Sudjana, Nana. (1995) Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.

Suryadi, Ace dan H.A.R. Tilaar. (1993). Analisis Kebijakan Pendidikan Suatu Pendidikan. Bandung: Remaja Rosda Karya.

Syah, Muhibbin. (2003) Psikologi Pendidikan. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.

Wartono. (1996) Pengembangan Model Pembelajaran Inkuiri Akrab Lingkungan untuk Mengembangkan Keterampilan Berpikir dan Meningkatkan Hasil belajar Siswa dalam Bidang Sains di Sekolah Dasar. (Disertasi) Tidak Diterbitkan. Bandung; PPS IKIP.

 

 

PENINGKATAN AKTIFTAS DAN HASIL BELAJAR EKONOMI MATERI KEGIATAN EKONOMI PRODUSEN DAN KONSUMEN MELALUI MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TEKNIK  STAD PADA  SISWA KELAS XI-B   SMA NEGERI 1 WOJA

 SEMESTER GAZAL TANUN 2006/2007

BAB  I

PENDAHULUAN

 

  1. A.    Latar Belakang Masalah

 

Upaya meningkatkan kualitas pendidikan baik oleh pemerintah pusat maupun pemerintah daerah serta terobosan baru terus diperkenalkan antara lain manajemen sekolah, peningkatan sumber daya tenaga kependidikan, pengembangan materi ajar dan sebagainya. Namun pada kenyataannya belum menampakkan hasil yang menggembirakan.

Guru merupakan salah satu komponen utama yang sangat menentukan keberhasilan proses belajar-mengajar. Hal ini sejalan dengan pandangan moderen tentang guru, yakni guru bukan hanya sebagai penyampai informasi  tetapi juga bertindak sebagai fasilitator dalam proses belajar. Dengan demikian guru seyogianya menciptakan situasi  dan kondisi yang tepat agar memungkinkan terjadinya proses belajar pada diri siswa dengan mengarahkan  segala sumber dan menggunakan strategi belajar mengajar yang tepat, yang meliputi pendekatan, metode dan teknik pembelajaran yang spesifik. Kemampuan guru dalam memilih Model pembelajaran  serta menerapkannya dalam kegiatan pembelajaran turut mempengaruhi keberhasilan peserta didik dalam pembelajaran.

 

Paradigma baru dalam proses belajar mengajar bukanlah mengajarkan mata pelajaran kepada para siswa tetapi mengajarkan kepada siswa tersebut bagaimana cara mereka mempelajari mata pelajaran secara efektif dan efisien.  Seorang guru yang profesional tidak lagi berfikir bagaimana mengajar atau “bagaimana belajar” akan tetapi seorang guru yang profesional harus mengajarkan kepada siswanya konsep pendekatan “ belajar bagaimana cara belajar”.  Melalui konsep ini seorang guru dituntut untuk mengajarkan strategi atau cara belajar yang efektif dan efisien kepada siswanya agar dapat mempelajarinya, mengeksplorasi dan mengkaji sendiri setiap persoalan, kasus atau masalah yang diberikan oleh guru mereka di sekolah dengan mudah dan menyenangkan sesuai dengan potensi dan modalitas belajar mereka.

 

Maata pelajaran Ekonomi merupakan ilmu tentang perilaku dan tindakan manusia untuk memenuhi kebutuhan hidupnya yang bervariasi, dan berkembang dengan sumber daya yang ada melalui pilihan-pilihan kegiatan produksi, konsumsi, dan/atau distribusi. Luasnya ilmu ekonomi dan terbatasnya waktu yang tersedia membuat standar kompetensi dan kompetensi dasar ini dibatasi dan difokuskan kepada fenomena empirik ekonomi yang ada disekitar peserta didik, sehingga peserta didik dapat merekam peristiwa ekonomi yang terjadi disekitar lingkungannya dan mengambil manfaat untuk kehidupannya yang lebih baik. Mata pelajaran Ekonomi diberikan pada tingkat pendidikan dasar sebagai bagian integral dari IPS. Pada tingkat pendidikan menengah, ekonomi diberikan sebagai mata pelajaran tersendiri.

Mata pelajaran Ekonomi bertujuan agar peserta didik memiliki kemampuan (1). memahami sejumlah konsep ekonomi untuk mengkaitkan peristiwa dan masalah ekonomi dengan kehidupan sehari-hari, terutama yang terjadi dilingkungan individu, rumah tangga, masyarakat, dan negar. (2). Menampilkan sikap ingin tahu terhadap sejumlah konsep ekonomi yang diperlukan untuk mendalami ilmu ekonomi. (3).membentuk sikap bijak, rasional dan bertanggungjawab dengan memiliki pengetahuan dan keterampilan ilmu ekonomi, manajemen, dan akuntansi yang bermanfaat bagi diri sendiri, rumah tangga, masyarakat, dan Negara. (4). membuat keputusan yang bertanggungjawab mengenai nilai-nilai sosial ekonom dalam masyarakat yang majemuk, baik dalam skala nasional maupun internasional

 

Berdasarkan uraian  atas maka seharusnya pembelajaran Ekonomi di sekolah merupakan suatu kegiatan pembelajaran yang disenangi, menantang dan mempunyai makna tersendiri bagi siswa.  Namu selama ini sering terjadi di sekolah termasuk pada SMAN 1 Woja ,   pembelajaran Ekonomi kurang dikemas dengan metode pembelajaran yang menarik, menantang dan menyenangkan. Guru masih sering kali menyampaikan materi Ekonomi secara konvensional (apa adanya), sehingga pembelajaran Ekonomi cendrung membosankan dan kurang menarik minat para siswa dan pada akhirnya menyebabkan prestasi /hasil belajar siswa masih rendah.  Hal ini dapat di lihat dari daftar analisis hasil ulangan harian siswa kelas XI-IPS-2  pada Semester Pertama tahun pelajaran 2007 / 2008 dari 36 siswa yang mampu memperoleh nilai dengan kriteria minimal (KKM. 65) untuk mata pelajaran Ekonomi hanya mampu dicapai  8 orang (22,22 %). Di sisi lain ada kecendrungan bahwa aktivitas siswa dalam pembelajaran Ekonomi juga  masih sangat rendah, adapun indikator penyebabnya antara lain : (1). siswa masih kurang berani untuk menyampaikan pendapat, (2). siswa masih kurang memiliki kemampuan untuk merumuskan gagasan sendiri, dan, (3) siswa belum terbiasa bersaing dalam menyampaikan pendapat dengan temannya.

 

Untuk meningkatkan kualitas keterampilan berdiskusi yang diselenggarakan dalam proses pembelajaran mungkin dapat dilakukan dengan meningkatkan frekuensi atau dengan mencobakan teknik-teknik pembelajaran dalam model pembelajaran kooperatif, salah satu diantaranya adalah  teknik STAD (Student Teams Achievement Division) atau tim siswa kelompok prestasi.

STAD merupakan salah satu metode atau pendekatan dalam pembelajaran kooperatif yang sederhana. Kooperatif  teknik STAD terdiri dari 5 komponen utama yakni : Penyajian kelas, belajar kelompok, kuis, skor pengembangan dan penghargaan kelompok.

Untuk menciptakan pembelajaran yang aktif, kreatif, efektif dan menyenangkan (PAKEM) dapat dilakukan melalui berbagai cara, dan salah satu cara yang cukup efektif untuk memecahkan masalah yangb terjadi di SMAN 1 Woja adalah melalui “Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe STAD (Student Teams Achievement Divisions).

 

  1. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang diatas, maka rumusan masalah dalam penelitian ini sebagai berikut:

  1. Apakah dengan model pembelajaran kooperatif teknik STAD dapat meningkatkan aktifitas berdiskusi siswa kelas XI-IPS SMA Negeri 1 Woja pada mata pelajaran ekonomi ?
  2. Apakah dengan meningkatnya aktifitas keterampilan berdiskusi melalui model pembelajaran teknik STAD dapat meningkatkan hasil belajar siswa kelas XI-IPS SMAN 1 Woja dalam mata pelajaran ekonomi ?.

 

  1. Tujuan Penelitian

1.  Untuk mengetahui peningkatan aktifitas berdiskusi siswa kelas XI-IPS SMAN 1 Hu’u mata pelajaran ekonomi melalui penerapan model pembelajaran kooperatif teknik STAD

2.  Untuk mengetahui peningkatan aktifitas berdiskusi melalui model pembelajaran teknik STAD dapat meningkatkan hasil belajar ekonomi siswa kelas XI-IPS SMAN 1 Hu’u .

E. Manfaat Penelitian

Diharapkan penelitian ini akan bermanfaat :

1.   Bagi siswa

a.   Meningkatnya kemampuan aktifitas berdiskusi siswa pada               pembelajaran   ekonomi.

b.   Membangun pengetahuan siswa  tentang konsep-konsep ekonomi  melalui diskusi dengan sesama teman

c. Meningkatnya kemampuan bekerja sama secara demokratis dalam diri siswa.

2.   Bagi guru

  1. Meningkatnya keterampilan guru dalam memimpin diskusi sebagai salah satu metode dalam pembelajaran.
  2. Memberikan alternatif dalam pengelolaan pembelajaran dengan model pembelajaran kooperatif Teknik STAD untuk mengembangkan keterampilan berdiskusi siswa.

 

BAB  II

 

TINJAUAN  PUSTAKA

 

A. Hakikat Pembelajaran

            Belajar adalah proses perubahan tingkah laku individu yang relatif tetap sebagai hasil dari pengalaman, sedangkan pembelajaran merupakan upaya penataan lingkungan yang memberi nuansa agar program belajar tumbuh dan berkembang secara optimal. Dengan demikian proses belajar bersifat internal dan unik dalam diri individu siswa, sedang proses pembelajaran bersifat eksternal yang sengaja direncanakan dan bersifat rekayasa perilaku.  Peristiwa belajar disertai dengan proses pembelajaran akan lebih terarah dan sistematik dari pada belajar yang hanya semata-mata dari pengalaman dalam kehidupan sosial di masyarakat. Belajar dengan proses pembelajaran ada peran guru, bahan belajar, dan lingkungan kondusif yang sengaja diciptakan..

Menurut konsep sosiologi, belajar adalah jantungnya dari proses sosialisasi, pembelajaranadalah rekaya sosio-psikologis untuk memelihara kegiatan belajar tersebutsehingga tiap individu yang belajar akan secara optimal dalam mencapai tingkat kedewasaan dan dapat hidup sebagai anggota masyarakat yang baik.

Dalam arti sempit, proses pembelajaran adalah proses pendidkan dalam lingkup persekolahan, sehingga arti dari proses sosialisasi individu siswa dengan lingkungan sekolah, seperti guru, sumber/fasilitas, dan teman sesama siswa.

Pola interaksi antara guru dengan siswa pada hakikatnya adalah hubungan antara dua pihak yang setara, yaitu interaksi antara dua manusia yang tengah mendewasakan diri, meskipun yang satu telah ada pada tahap yang seharusnya lebih maju dalam aspek akal, moral, maupun emosional. Dengan kata lain, guru dan siswa merupakan subyek, karena masing-masing memiliki kesadaran dan kebebasan secara aktif. Dengan menyadari pada pola interaksi tersebut akan memungkinkan keterlibatan mental siswa secara optimal dalam merealisasikan pengalaman belajar. Pengertian inilah yang dinamakan Cara Belajar Siswa Aktif (CBSA), yang pada hakikatnya dapat dipulangkan kembali pada tujuan pendidikan yang hakiki, yaitu untuk peningkatan martabat kemanusiaan. (Suherman; 2003)

 

B. Mengajar

Mengajar adalah  suatu usaha yang sangat kompleks, sehingga sulit menentukan bagaimana sebenarnya pengertiannya. Walaupun demikian terdapat beberapa definisi yang dikemukakan (Nasution,1986) diantaranya :

  1. Mengajar adalah menanamkan pengetahuan pada anak.
  2. Mengajar adalah menyampaikan kebudayaan .
  3. Mengajar adalah suatu aktivitas mengorganisasi atau mengatur lingkungan  sebaik-baiknya dan menghubungkan dengan anak sehingga terjadi proses belajar     mengajar

 

Dari definisi di atas dapat diperoleh pengertian bahwa  dalam belajar diharapkan  anak bukan hanya menguasai kebudayaan yang ada tetapi  diharapkan turut membantu memperkaya kebudayaan dengan menciptakan kebudayaan yang baru menurut zaman yang senantiasa berubah. Mengajar adalah suatu usaha guru yakni mengatur lingkungan, sehingga terbentuklah  suasana yang sebaik- baiknya bagi anak untuk belajar. Definisi ini memperluas arti tentang mengajar dan konsekwensi-konsekwensinya. Mengajar kehilangan maknanya jika pada prakteknya tidak dapat menciptakan suasana belajar.Yang belajar adalah siswa itu sendiri, guru hanya dapat membimbing siswa  untuk belajar.

Konsekwensi dari definisi diatas  adalah bahwa  mengajar adalah membimbing aktivitas anak. Bahwa  anak  hanya dapat berenang dengan berenang sendiri, jadi melakukan kegiatan  itu sendiri. Dengan demikian mengajar  dapat dikatakan berhasil apabila anak-anak belajar dengan usaha .

Belajar berdasarkan definisi diatas   bersifat intelektualistik, dan sering dimaksud sebagai menguasai bahan pelajaran, tetapi pengertian tersebut banyak ditentang, bahwa tujuan  itu terlalu sempit. Bagi mereka belajar adalah mengubah kelakuan anak (Nasution,1986), jadi mengenai pembentukan pribadi anak hasil-hasil yang diharapakan  bukan hanya bersifat pengetahuan, akan tetapi juga sikap, pemahaman, perluasan minat, penghargaan, norma-norma, ketrampilan, jadi meliputi seluruh pribadi anak.

 

C. Model Pembelajaran Kooperatif

 

      Suherman (2003)  mengemukakan pembelajaran kooperatif  merupakan suatu model pengajaran dimana siswa belajar dalam kelompok-kelompok kecil yang memiliki tingkat kemampuan berbeda sebagai suatu tim untuk menyelesaikan suatu masalah, menyelesaikan suatu tugas atau mengerjakan sesuatu untuk mencapai tujuan bersama. Dalam menyelesaikan tugas kelompok,  setiap anggota saling bekerja sama dan membantu untuk memahami suatu bahan pembelajaran . Belajar belum selesai jika salah satu teman dalam kelompok belum menguasai bahan pembelajaran. Tidaklah cukup menunjukkan cooperative lerning jika para siswa  duduk bersama dalam suatu kelompok kecil tetapi menyelesaikan masalahnya sendiri-sendiri. Kooperatif learning menekankan pada kehadiran teman sebaya yang berinteraksi antar sesamanya sebagai sebuah tim dalam membahas suatu masalah

Slavin dalam Model Fis B 02 mengemukakan bahwa model pembelajaran kooperatif ini dikembangkan berdasarkan teori belajar kognitif–kontruktivis. Hal ini terlihat pada salah satu teori vigotsky, yaitu tentang penekanan pada hakekat sosiokultural dari pembelajaran. Vigotsky yakin bahwa fungsi mental yang lebih tinggi pada umumnya muncul dalam percakapan atau kerja sama antar individu sebelum fungsi mental yang lebih tinggi itu terserap kedalam individu tersebut. Implikasi dari terori Vigotsky ini dikehendakinya susunan kelas berbentuk pembelajaran kooperatif. Penerapan model pembelajaran koperatif ini juga sesuai dengan  yang dikehendaki oleh prinsip CTL yaitu tentang learning community.

Selanjutnya Slavin dalam Fis C 03 mengemukakan model pembelajaran kooperatif disamping  dikembangkan untuk mencapai hasil belajar akademik, model pembelajaran kooperatif ini juga efektif untuk mengembangkan ketrampilan sosial siswa.  Beberapa ahli berpendapat bahwa model ini unggul dalam membantu siswa memahami konsep-konsep yang sulit. Para pengembang model ini menunjukkan bahwa model pembelajaran kooperatif telah  dapat meningkatkan penilaian siswa pada belajar akademik dan perubahan norma yang berhubungan dengan hasil belajar, dalam banyak kasus, norma budaya anak muda  sebenarnya tidak menyukai siswa-siswa yang ingin menonjol secara akademis. Robert Slavin dan pakar lain telah berusaha untuk mengubah norma ini melalui penggunaan pembelajaran kooperatif.  Disamping mengubah norma yang berhubungan dengan hasil belajar, pembelajaran kooperatif dapat memberi keuntungan baik pada siswa kelompok bawah maupun kelompok atas yang bekerja bersama menyelesaikan tugas-tugas akademik. Siswa kelompok atas diharapkan akan menjadi tutor bagi siswa kelompok bawah, jadi memperoleh bantuan khusus dari teman – teman sebaya, yang memiliki orientasi dan bahasa yang sama. Dalam proses tutorial ini, siswa kelompok atas akan meningkatkan akademiknya karena memberi pelayanan sebagai tutor membutuhkan pemikiran lebih mendalam tentang hubungan ide-ide yang terdapat di dalam materi tertentu.

Tujuan penting lain dari pembelajaran kooperatif adalah untuk mengajarkan kepada siswa ketrampilan kerja sama dan kolaborasi. Ketrampilan ini amat penting untuk dimiliki di dalam masyarakat .

E. Model Pembelajaran Kooperatif Teknik Student Teams Achievment Divisions (STAD)

STAD ( Student Tam Achievement Devision) dikembangkan oleh Robert Slavin merupakan pendekatan pembelajaran kooperatif paling sederhana. Model pembelajaran STAD terdiri dari lima komponen utama yaitu presentasi kelas, belajar kelompok kuis, skor kemajuan individual dan penghargan kelompok. Presentasi kelas dalam model pembelajaran STAD dapat dilaksanakan dimana materi diperkenalkan melalui pembelajaran langsung atau diskusi dengan presentasi audiovisual. Dalam hal ini, peserta didik harus benar – benar memberi perhatian penuh selama kegiatan presentasi berlangsung. Tim dalam model pembelajaran STAD adalah kelompok – kelompok peserta didik yang terdiri dari 4 – 5 orang yang mewakili kinerja akademik, jenis kelamin, etnis dan sebagainya. Fungsi tim ini adalah memastikan bahwa semua anggota tim benar – benar belajar dan mempersiapkan setiap anggotanya untuk dapat mengerjakan kuis dengan baik. Kuis dalam model pembelajaran STAD dapat dilaksanakan setelah sekitar satu atau dua periode setelah guru memberikan presentasi. Kuis dilaksanakan secara individual dan peserta didik tidak boleh saling membantu dalam mengerjakannya. Dalam mengerjakan kuis, setiap peserta didik bertanggung jawab secara individu untuk memahami materinya. Skor kemajuan individual merupakan gagasan untuk memberikan kesempatan peserta didik bekerja lebih giat dan memberikan kontribusi maksimal terhadap kinerja tim.

Berdasarkan uraian diatas, langkah – langkah model pembelajaran STAD yang dapat dilakukan meliputi ;

1.   Peserta didik membentuk kelompok – kelompok kecil yang beranggota 4 – 5 orang secara heterogen menurut prestasi, jenis kelamin, etnis dan sebagainya.

2.   Guru menyajikan pembelajaran dengan terlebih dahulu memilih materi pokok yang akan dipelajari

3.   Guru membagi tugas kelompok untuk dikerjakan oleh anggota – anggota kelompok. Anggota kelompok yang telah paham, menjelaskan pada anggota lainnya sampai semua anggota kelompok mengerti.

4.   Guru memberikan kuis atau pertanyaan dan saat menjawab kuis, tidak boleh saling membantu

5.  Memberi evaluasi

6.   Penutup

F.   Kerangka Berpikir

Berdasarkan rumusan masalah, tujuan dan manfaat penelitian tersebut didapat suatu kerangka pemikiran, yaitu: a). Keterampilan berdiskusi siswa perlu dikembangkan yakni keterampilan berkomunikasi, mengajukan pertanyaan, menjawab pertanyaan, menganalisis masalah. Karena unsur-unsur ini merupakan aktivitas yang paling berharga dan berguna untuk pemecahan masalah dalam kehidupan. b).Model pembelajaran kooperatif teknik STAD mampu meningkatkan keterampilan berdiskusi siswa. c).Dengan ketrampilan berdiskusi, diharapkan siswa mampu membangun sendiri pengetahuannya serta menguasai dan memahami ilmu pengetahuan.

G.     Hipotesis

Jika model pembelajaran kooperatif teknik STAD diterapkan maka aktifitas keterampilan berdiskusi siswa kelas XI-IPS  SMA Negeri 1 Woja  dapat ditingkatkan , demikian bwrdanpak pada meningkatkan hasil belajar siswa dalam mata pelajaran ekonomi

 

 

 

 

 

 

BAB  III

METODOLOGI PENELITIAN

 

A..Metode Penelitian

 

B. Rancangan Penelitian

Berdasarkan gambar di atas dapat di jelaskan sebagai berikut:

  1. Analisis materi.

Analisis materi mengacu pada  standar kompetensi dan kompetensi dasar yang tertuang  pada silabus sesuai kurikulum SMAN 1 Woja, lamanya waktu mengajarkan suatu konsep, urutan keterhubungan konsep-konsep esensial, tingkat kesulitan materi dan juga memikirkan apa yang diharapkan dari siswa setelah materi tersebut diajarkan.

  1. Penyusunan Rencana pelaksanaan Pembelajaran (RPP) berdasarkan pada kompetensi dasar dan indikator yang  ada pada silabus, mengacu pada model pembelajaran kooperatif .
  2. Penyiapan fasilitas dan sarana pendukung yaitu yang berhubungan dengan pembelajaran, seperti alat tulis menulis. Juga menyiapkan data-data kemampuan akademik masing-masing siswa untuk keperluan pembagian kelompok kerja.
  3. Kegiatan pembelajaran mengacu pada Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP).
  4. Evaluasi dilaksanakan sementara dan setelah proses belajar mengajar Evaluasi dilaksanakan mengikuti format penilaian pembelajaran kooperatif. Format penilaian dirancang untuk mengukur kemampuan akademik siswa dan  ketrampilan kooperatif.
  5. Refleksi  dalam PTK ini adalah upaya untuk menganalisis, interpretasi dan penjelasan terhadap semua informasi yang diperoleh dari pelaksanaan tindakan. Hasil refleksi ini digunakan untuk menetapkan langkah lebih lanjut dalam upaya mencapai tujuan PTK. Dengan kata lain, refleksi merupakan pengkajian terhadap keberhasilan atau kegagalan dalam menentukan tindak lanjut  dalam rangka pencapaian tujuan yang diharapakan.

 

C. Subjek dan Pelaksanaan  Penelitian

Penelitian tindakan kelas ini dilaksanakan di SMAN 1 Woja                                                      pada kelas XI IPS. tahun pelajaran 2006/2007, dengan jumlah siswa kelas 37 orang yang terdiri dari 19 laki-laki dan 18 perempuan. Pengamatan terhadap siswa-siswa tersebut umumnya memiliki kecepatan pertumbuhan kemampuan akademik yang bervariasi juga rendah dalam ketrampilan sosialnya. Waktu penelitian dilakukan pada semester ganjil  tahun pelajaran 2006/2007.

D. Teknik Pengumpulan Data

Data yang dimaksud adalah data nilai hasil evaluasi setelah kegiatan pembelajaran satu siklus dilaksanakan. Data nilai ini diperoleh melalui tes. Disamping itu diperoleh data keterampilan sosial . Data ini diperoleh selama poses pembelajaran berlangsung dan ada format khusus untuk itu.yakni lembar observasi penilaian  keterampilan berdiskusi.

 

E. Alat dan teknik pemantauan

a.Instrumen pengamatan keterampilan diskusi siswa

b.Instrument pengamatan keterampilan  kegiatan guru

c.Rencana pelaksanaan  pembelajaran  (RPP)

F. Kriteria atau Ukuran Keberhasilan

Yang menjadi kriteria keberhasilan penelitian tindakan kelas ini yaitu apabila jumlah yang siswa menunjukkan ketuntasan belajar secara klasikal mencapai 85 % dengan memperoleh nilai sesuai  kriteria ketuntasan Minimal / KKM  untuk mata pelajaran Fisika kelas XI –IPS SMA Negeri 1 Kempo semester ganjil yaitu  65

Nilai perolehan            =

G. Observasi

Untuk memantau atau memonitor kegiatan penelitian tindakan kelas ini, peneliti selaku guru  mata pelajaran memonitor melalui hasil tes yang dilakukan pada setiap tahap dan nilai-rata-rata  siswa akhir tes setelah tindakan tahap pertama sampai tahap ketiga  selesai dilaksanakan. Kebenaran pelaksanaan penelitian tindakan kelas ini juga dimonitor oleh rekan sejawat dan kepala sekolah. Yang terlibat dalam tim kolaborasi adalah teman sejawat sesama guru mata pelajaran ekonomi  di SMA  Negeri 1 Woja serta didampingi oleh pengawas sekolah.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s