PENINGKATAN PRESTASI BELAJAR SISWA SMANEGERI 1 KEMPO YANG DIUPAYAKAN DENGAN PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN PROBLEM BASED LEARNING DI KELAS X-F SEMESTER GANJIL TAHUN AJARAN 2011/2012

 

BAB I

PENDAHULUAN

 

A.    Latar Belakang

Pembelajaran di kelas akan sangat efektif apabila guru melaksanakannya dengan memahami peran, fungsi dan kegunaan mata pelajaran yang diajarnya. Di samping pemahaman akan hal-hal tersebut keefektipan itu juga ditentukan oleh kemampuan guru untuk merubah model pengajaran menjadi model pembelajaran sesuai yang diharapkan oleh Permen No. 41 tahun 2007 tentang Standar Proses.

      Peran mata pelajaran matematika adalah untuk pengembangan intelektual, sosial dan emosional siswa serta berperan sebagai kunci penentu menuju keberhasilan dalam mempelajari suatu bidang tertentu. Fungsi mata pelajaran matematika adalah sebagai suatu bidang kajian untuk mempersiapkan siswa mampu merefleksikan pengalamannya sendiri dan pengalaman orang lain, mengungkapkan gagasan-gagasan dan perasaan serta memahami beragam nuansa makna, sedang kegunaannya adalah untuk membantu siswa mengenal dirinya, budayanya, budaya orang lain, mengemukakan gagasan dan perasaan, berpartisipasi dalam masyarakat, membuat keputusan yang bertanggung jawab pada tingkat pribadi, sosial, menemukan serta menggunakan kemampuan analitic dan imajinatif yang ada dalam dirinya. Di samping mengetahui peran, fungsi dan kegunaan matematika, sebagai seorang guru juga diperlukan untuk mampu menerapkan beberapa metode ajar sehingga paradigma pengajaran dapat dirubah menjadi paradigma pembelajaran sebagai tuntutan peraturan yang disampaikan pemerintah (Permen No. 41 tahun 2007 tentang Standar Proses, Permen No. 16 tahun 2007 tentang  Standar Kualifikasi Guru).

Kejadian yang sering terjadi di lapangan yang terjadi selama proses pembelajaran yang dilakukan selama ini yang menyebabkan rendahnya prestasi belajar siswa tidak sepenuhnya disebabkan oleh faktor luar seperti kesibukan guru, keadaan rumah tangga, lingkungan dan lain-lain. Kelemahan-kelemahan yang ada tentu banyak pula dipengaruhi oleh faktor dari dalam guru itu sendiri seperti kemauan menyiapkan bahan yang lebih baik, kemauan guru itu sendiri untuk menerapkan metode-metode ajar yang telah didapat di bangku kuliah. Selain itu guru juga kurang mampu untuk dapat mengembangkan keterampilan mengajar yang dapat menarik perhatian siswa dan merangsang siswa untuk belajar. Keterampilan yang mesti dikuasai guru dalam melaksanakan pembelajaran ada 7, yaitu: 1) keterampilan bertanya, 2) keterampilan memberi penguatan, 3) keterampilan mengadakan variasi, 4) keterampilan menjelaskan, 5) keterampilan membuka dan menutup pelajaran, 6) keterampilan membimbing diskusi, 7) keterampilan mengelola kelas. Keterampilan-keterampilan ini berhubung dengan kemampuan guru untuk menguasai dasar-dasar pengetahuan yang berhubungan dengan persiapan dan pelaksanaan proses pembelajaran yang akan memberikan dukungan terhadap cara berpikir siswa yang kreatif dan imajinatif. Hal inilah yang menunjukkan profesionalisme guru (I G. A. K. Wardani dan Siti Julaeha, Modul IDIK 4307: 1-30).

Model-model pembelajaran juga merupakan hal yang sangat penting dalam penerapannya di lapangan, seperti model Problem Based Learning yang dijadikan objek penelitian sebagai upaya untuk memajukan suatu bidang tertentu. Model sangat berkaitan dengan teori. Model merupakan suatu analog konseptual yang digunakan untuk menyarankan bagaimana meneruskan penelitian empiris sebaiknya tentang suatu masalah. Jadi model merupakan suatu struktur konseptual yang telah berhasil dikembangkan dalam suatu bidang dan sekarang diterapkan, terutama untuk membimbing penelitian dan berpikir dalam bidang lain, biasanya dalam bidang yang belum begitu berkembang (Mark 1976 dalam Ratna Wilis Dahar, 1989: 5).

Cuplikan di atas menunjukkan betapa pentingnya model untuk diterapkan dalam mencapai suatu keberhasilan, begitu pula terhadap kegunaan model-model pembelajaran. Sebelum ada model, dikembangkan terlebih dahulu teori yang mendasari model tersebut, sehingga boleh dikatakan bahwa teori lebih luas daripada model. Model-model, baik model fisika, model-model komputer, model-model matematika, semua mempunyai sifat “jika – maka”, dan model-model ini terkait sekali pada teori (Shelbeeker, 1974 dalam Ratna Wilis Dahar, 1989: 5).

Semua uraian di atas menunjukkan hal-hal yang perlu dalam upaya meningkatkan keseuaian pembelajaran Problem Based Learning yang akan dilakukan dan prestasi belajar siswa seperti penguasaan metode-metode ajar; penguasaan model-model pembelajaran; penguasaan teori-teori belajar; penguasaan teknik-teknik tertentu; penguasaan peran, fungsi serta kegunaan mata pelajaran. Apabila betul-betul guru menguasai dan mengerti tentang hal-hal tersebut dapat diyakini bahwa prestasi belajar peserta didik pada mata pelajaran matematika tidak akan rendah. Namun kenyataannya prestasi belajar siswa kelas X-F di semester Ganjil tahun ajaran 2011/2012 baru mencapai nilai rata-rata 61

Melihat kesenjangan antara harapan-harapan yang telah disampaikan dengan kenyataan lapangan sangat jauh berbeda, dalam upaya memperbaiki mutu pendidikan utamanya pada mata pelajaran matematika, sangat perlu kiranya dilakukan perbaikan cara pembelajaran. Salah satunya adalah perbaikan pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran Problem Based Learning. Oleh karenanya penelitian ini sangat penting untuk dilaksanakan.

 

B.     Rumusan Masalah dan Cara Pemecahannya

1.      Rumusan Masalah

Melihat adanya kesenjangan antara harapan dengan kenyataan yang ada di lapangan seperti yang sudah dipaparkan pada latar belakang masalah, maka rumusan penelitian ini dapat disampaikan sebagai berikut:

1)      Apakah model pembelajaran Problem Based Learning dapat meningkatkan aktivitas belajar siswa kelas X-F SMA Negeri 1 Kempo Semester Ganil tahun 2011/2012

2)      Apakah model pembelajaran Problem Based Learning dapat meningkatkan prestasi belajar siswa kelas X-F SMA Negeri 1 Kempo Semester Ganjil Tahun 2011/2012

 

2.      Cara Pemecahan Masalah

Model pembelajaran Problem Based Learning merupakan salah satu dari banyak cara yang bisa dilakukan guru dalam upaya meningkatkan mutu pembelajaran. Model ini mempunyai langkah-langkah yang mendorong keaktifan siswa dalam belajar dengan cara memberikan kesempatan bagi siswa untuk lebih banyak mengamati objek atau materi pelajaran, menemukan sendiri hal-hal yang perlu, baik menyangkut materi, meneliti, mengintrogasi, memeriksa materi, sehingga siswa-siswa akan dapat mengalami sendiri. Hal itu memerlukan persiapan pemikiran yang matang. Untuk persiapan yang matang ini, guru semestinya memberikan kesempatan yang sebanyak-banyaknya bagi siswa untuk melakukannya, menyiapkan sebaik-baiknya apa yang akan ditampilkan dihadapan siswa-siswa. Model Pembelajaran Problem Based Learning ini mampu merangsang siswa untuk dapat bertanggung jawab terhadap pekerjaannya, menuntut persiapan yang sangat matang, menuntut kemampuan yang matang dalam kegiatan intelektual, menutut semangat yang tinggi untuk mengikuti pelajaran agar dapat memproduksi apa yang diharapkan, menuntut mereka lebih berpikir kritis. Contoh kemampuan berpikir kritis adalah, apabila siswa giat mengikuti pelajaran, akibatnya adalah mampu memecahkan masalah yang diharapkan. Siswa akan menjadi aktif akibat diberikan kesempatan untuk menyiapkan materi lewat penemuannya sendiri, yang sudah pasti akan membuktikan tuntutan-tuntutan kemampuan yang tinggi baik dalam penampilan maupun keilmuan. Tanpa keilmuan yang mencukupi tidak akan mungkin tampilannya akan memuaskan, dalam hal ini siswa tidak bisa sembarangan saja, mereka harus betul-betul mampu menyimpulkan terlebih dahulu apa yang akan mereka sampaikan. Tuntunan langkah-langkah analisis, pikiran intelektual, pemahaman konsep, bakat akademik yang dilakukan dengan motivasi, interpretasi yang inovatif dipihak guru akan  menentukan keberhasilan pelaksanaan model ini.

            Berdasar uraian singkat ini jelas bahwa model pembelajaran Problem Based Learning menuntut kemampuan siswa untuk giat mempelajari apa yang disampaikan guru, mampu menampilkan dirinya sebagai pemikir di depan siswa-siswa yang lain. Dipihak lain, untuk dapat menyelesaikan tuntutan tersebut, inovasi yang dilakukan guru akan sangat menentukan. Inovasi tersebut berupa tuntunan-tuntunan, motivasi-motivasi, interpretasi serta kemampuan belajar tanpa hafalan. Oleh karenanya langkah-langkah ini diharapkan akan dapat digunakan sebagai cara pemecahan masalah.

C.    Tujuan Penelitian

Berdasar rumusan masalah yang telah disampaikan, rumusan masalah yang dapat disampaikan adalah:

1.      Untuk mengetahui seberapa tinggi peningkatan prestasi belajar siswa setelah diterapkan model pembelajaran Problem Based Learning dalam pembelajaran.

 

D.    Manfaat Penelitian

Secara teoritis, hasil penelitian ini diharapkan akan bermanfaat sebagai acuan dalam memperkaya teori dalam rangka peningkatan kompetensi guru. Sedangkan secara praktis penelitian ini diharapkan bermanfaat bagi sekolah, khususnya SMA Negeri 1 Kempo dalam rangka meningkatkan prestasi belajar matematika.  Di samping itu, penelitian ini juga diharapkan bermanfaat sebagai informasi yang berharga bagi teman-teman guru, kepala sekolah di sekolahnya masing-masing.

BAB II

KAJIAN PUSTAKA

 

A.    Model Pembelajaran Problem Based Learning

Model pembelajaran merupakan kerangka konseptual yang melukiskan prosedur yang sistematis dalam mengorganisasi pengalaman belajar untuk mencapai tingkat belajar tertentu (Udin S. W., 1997). Joyce, dkk. (2003) mengemukakan bahwa suatu model pembelajaran adalah suatu perencanaan atau pola yang digunakan sebagai pedoman pelaksanaan pembelajaran di kelas. Oemar Hamalik (2003: 24) menjelaskan bahwa model pembelajaran merupakan suatu rencana atau pola yang digunakan untuk membentuk kurikulum, merancang bahan pengajaran dan membimbing pengajaran di kelas. Dari pendapat tersebut di atas dapat disimpulkan bahwa model pembelajaran merupakan kerangka konseptual dalam wujud suatu perencanaan pembelajaran yang melukiskan prosedur yang sistematis yang digunakan sebagai pedoman dalam pembelajaran di kelas.

Istilah model pembelajaran mempunyai empat ciri khusus yakni: 1) rasional teoretik yang logis yang disusun oleh para pencipta, 2) landasan pemikiran tentang apa dan bagaimana siswa belajar, 3) tingkah laku mengajar yang diperlukan agar model tersebut dapat berhasil, 4) lingkungan belajar yang diperlukan agar tujuan pembelajaran itu dapat tercapai (Wina Sanjaya, 2006: 128).

Sintaks suatu model pembelajaran menggambarkan keseluruhan urutan alur langkah yang pada umumnya diikuti oleh serangkaian kegiatan pembelajaran (Nana S., 1989: 43). Sintaks pembelajaran menunjukkan dengan jelas kegiatan-kegiatan apa yang perlu dilakukan oleh guru atau siswa dan tugas-tugas khusus yang dilakukan oleh siswa. Sintaks dari bermacam model pembelajaran mempunyai komponen yang sama seperti diawali dengan menarik perhatian siswa dan memotivasi siswa agar terlibat dalam proses pembelajaran. Demikian pula setiap model pembelajaran selalu mempunyai tahap menutup pelajaran. Namun demikian ada perbedaan seperti perbedaan pengelolaan lingkungan belajar, perbedaan peran siswa, perbedaan peran guru, perbedaan ruang fisik dan perbedaan sistem sosial kelas. Perbedaan-perbedaan tersebut harus dipahami oleh para guru dalam menerapkan model pembelajaran agar dapat dilaksanakan dengan baik.

B.     Model Pembelajaran Problem Based Learning

Model pembelajaran problem based learning (pembelajaran berbasis masalah), awalnya dirancang untuk program graduate bidang kesehatan oleh Barrows, Howard (1986) yang kemudian diadaptasi dalam bidang pendidikan oleh Gallagher (1995). Problem based learning disetting dalam bentuk pembelajaran yang diawali dengan sebuah masalah dengan menggunakan instruktur sebagai pelatihan metakognitif dan diakhiri dengan penyajian dan analisis kerja siswa.

Model pembelajaran problem based learning berlandaskan pada psikologi kognitif, sehingga fokus pengajaran tidak begitu banyak pada apa yang sedang dilakukan siswa, melainkan kepada apa yang sedang mereka pikirkan pada saat mereka melakukan kegiatan itu. Pada problem based learning peran guru lebih berperan sebagai pembimbing dan fasilitator sehingga siswa belajar berpikir dan memecahkan masalah mereka sendiri. Belajar berbasis masalah menemukan akar intelektualnya pada penelitian John Dewey (Ibrahim, 2000). Pedagogi Jhon Dewey menganjurkan guru untuk mendorong siswa terlibat dalam proyek atau tugas yang berorientasi masalah dan membentu mereka menyelidiki masalah-masalah tersebut. Pembelajaran yang berdayaguna atau berpusat pada masalah digerakkan oleh keinginan bawaan siswa untuk menyelidiki secara pribadi situasii yang bermakna merupakan hubungan problem based learning dengan psikologi Dewey. Selain Dewey, ahli psikologi Eropa Jean Piaget tokoh pengembang konsep konstruktivisme telah memberikan dukungannya. Pandangan konstruktivisme- kognitif yang didasari atas teori Piaget menyatakan bahwa siswa dalam segala usianya secara aktif terlibat dalam proses perolehan informasi dan membangun pengetahuannya sendiri (Ibrahim, 2000).

Adaptasi struktur problem based learning dalam kelas-kelas sains dilakukan dengan menjamin penerapan beberapa komponen penting dari sains. Empat penerapan esensial dari problem based learning adalah seperti diurutkan dalam Gallagher et.al (1995) adalah:

1)      Orientasi siswa pada masalah

Pada saat mulai pembelajaran, guru menyampaikan tujuan pembelajaran secara jelas, menumbuhkan sikap positif terhadap pelajaran. Guru menyampaikan bahwa perlu adanya elaborasi tentang hal-hal sebagai berikut:

-          Tujuan utama dari pembelajaran adalah tidak untuk mempelajari sejumlah informasi baru, namun lebih kepada bagaimana menyelidiki masalah-masalah penting dan bagaimana menjadikan pebelajar yang mandiri.

-          Permasalahan yang diselidiki tidak memiliki jawaban mutlak ”benar”. Sebuah penyelesaian yang kompleks memiliki banyak penyelesaian yang terkadang bertentangan.

-          Selama tahap penyelidikan dalam pembelajaran, siswa didorong untuk mengajukan pertanyaan dan mencari informasi dengan bimbingan guru.

-          Pada tahap analisis dan penyelesaian masalah siswa didorong untuk menyampaikan idenya secara terbuka.

Guru perlu menyajikan masalah dengan hati-hati dengan prosedur yang jelas untuk melibatkan siswa dalam identifikasi. Hal penting di sini adalah orientasi kepada situasi masalah menentukan tahap untuk penyelidikan selanjutnya. Oleh karena itu pada tahap ini presentasi harus menarik minat siswa dan menimbulkan rasa ingin tahu.

2)      Mengorganisasikan siswa untuk belajar

Problem based learning membutuhkan keterampilan kolaborasi diantara siswa menurut mereka untuk menyelidiki masalah secara bersama. Oleh karena itu mereka juga membutuhkan bantuan untuk merencanakan penyelidikan dan tugas-tugas belajarnya.

                        Mengorganisasikan siswa ke dalam kelompok-kelompok belajar kooperatif juga berlaku untuk mengorganisasikan siswa ke dalam kelompok problem based learning. Intinya di sini adalah guru membantu siswa mendefinisikan dan mengorganisasikan tugas belajar yang berhubungan dengan masalah yang akan dipecahkan.

3)      Membantu penyelidikan siswa

Pada tahap ini guru mendorong siswa untuk mengumpulkan data-data atau melaksanakan eksperimen sampai mereka betul-betul memahami dimensi dari masalah tersebut. Tujuannya agar siswa mengumpulkan cukup informasi untuk membangun ide mereka sendiri. Siswa akan membutuhkan untuk diajarkan bagaimana menjadi penyelidik yang aktif dan bagaimana menggunakan metode yang sesuai untuk masalah yang sedang dipelajari.

                        Setelah siswa mengumpulkan cukup data mereka akan mulai menawarkan penjelasan dalam bentuk hipotesis, penjelasan dan pemecahan. Selama tahap ini guru mendorong semua ide dan menerima sepenuhnya ide tersebut.

4)      Mengembangkan dan menyajikan hasil karya

Pada tahap ini guru membantu siswa dalam merencanakan dan menyiapkan hasil karya yang akan disajikan. Masing-masing kelompok menyajikan hasil pemecahan masalah yang diperoleh dalam suatu diskusi. Penyajian hasil karya ini dapat berupa laporan, poster maupun media-media yang lain.

5)      Menganalisis dan mengevaluasi proses pemecahan masalah

Tahap akhir ini meliputi aktivitas yang dimaksudkan untuk membantu siswa menganalisis dan mengevaluasi proses berpikir mereka sendiri dan disamping itu juga mengevaluasi keterampilan penyelidikan dan keterampilan intelektual yang telah mereka gunakan.

      Selanjutnya beberapa ciri penting problem based learning sebagai berikut (Brook & Martin, 1993).

1.      Tujuan Pembelajaran

Tujuan pembelajaran dirancang untuk dapat merangsang dan melibatkan pebelajar dalam pola pemecahan masalah. Kondisi ini akan dapat mengembangkan keahlian belajar dalam bidangnya secara langsung dalam mengidentifikasi permasalahan. Dalam konteks belajar kognitif sejumlah tujuan yang terkait adalah belajar langsung dan mandiri, pengetahuan dan pemecahan masalah. Sehingga untuk mencapai keberhasilan, para pebelajar harus mengembangkan keahlian belajar dan mampu mengembangkan strategi dalam mengidentifikasi dan menemukan permasalahan belajar, evaluasi dan juga belajar dari berbagai sumber yang relevan.

2.      Keberlanjutan masalah

Dalam hal ini ada dua hal yang harus terpenuhi. Pertama, harus dapat memunculkan konsep-konsep atau prinsip-prinsip yang relevan dengan content domain yang dibahas. Kedua, permasalahan hendaknya riil sehingga memungkinkan terjadinya kesamaan pandang antarsiswa. Ada tiga alasan kenapa permasalahan harus nyata (realistik). (1) Siswa terkadang terbuka untuk meneliti semua dimensi dari permasalahan sehingga dapat mengalami kesulitan dalam menciptakan suatu permasalahan yang luas dengan informasi yang sesuai. (2) Permasalahan nyata cenderung untuk lebih melibatkan siswa terhadap suatu konteks tentang kesamaan dengan permasalahan. (3) Siswa segera ingin tahu hasil akhir dari penyelesaian masalahnya.

3.      Adanya presentasi permasalahan

Pebelajar dilibatkan dalam mempresentasikan permasalahan sehingga mereka merasa memiliki permasalahan tersebut. Ada dua hal pokok dalam mempresentasikan permasalahan. Pertama, jika siswa dilibatkan dalam pemecahan masalah yang autentik, maka mereka harus memiliki permasalahan tersebut. Kedua, adalah bahwa data yang ditampilkan dalam presentasi permasalahan tidak menyoroti faktor-faktor utama dalam masalah tersebut, namun dapat ditampilkan sebagai dasar pertanyaan sehingga tidak menampilkan informasi kunci.

4.      Peran guru sebagai tutor dan fasilitator

Dalam hal ini peran guru sebagai fasilitator adalah mengembangkan kreativitas berpikir siswa dalam bentuk keahlian dalam pemecahan masalah dan membantu siswa untuk menjadi mandiri. Kemampuan dari tutor sebagai fasilitator keterampilan mengajar kelompok kecil dam proses pembelajaran merupakan penentu utama dari kualitas dan keberhasilan. Setiap metode pendidikan bertujuan: (1) Mengembangkan kreativitas pada siswa dan keahlian berpendapat. (2) Membantu mereka untuk menjadi mandiri. Sedangkan tutorial adalah suatu penggunaan keahlian yang menitikberatkan masalah dasar belajar langsung mandiri (Barrows dalam Savery & Duffy, 1994).

Barrows (1996) dalam tulisannya yang berjudul Problem Based Learning in Medicine and Beyond juga mengemukakan beberapa karakteristik Problem Based Learning sebagai berikut:

1)      Proses pembelajaran bersifat Student Centered. Melalui bimbingan tutor (guru), siswa harus bertanggung jawab atas pembelajaran dirinya, mengidentifikasi apa yang mereka perlu ketahui untuk memperoleh pemahahaman yang lebih baik, mengelola permasalahan dan menentukan dimana mereka akan memperoleh informasi (buku teks, jurnal, internet, dsb).

2)      Proses pembelajaran pembelajaran berlangsung pada kelompok kecil. Setiap kelompok biasanya terdiri dari 5-8 orang. Anggota kelompok sebaiknya ditukar untuk setiap unit kurikulum. Kondisi demikian akan memberikan kondisi praktis kepada siswa untuk bekerja dan belajar secara lebih intensif dan efektif dalam variasi kelompok.

3)      Guru berperan sebagai fasilitator atau pembimbing. Dalam hal ini guru tidak berperan sebagai penceramah atau pemberi faktual, namun berperan sebagai fasilitator. Guru tidak memberitahu siswa tentang apa yang mereka harus pelajari atau baca. Siswa itu sendirilah (secara berkelompok) yang mengidentifikasi dan menentukan konsep-konsep atau prinsip-prinsip apa yang harus mereka pelajari dan mereka pahami agar mampu memecahkan masalah yang telah disajikan guru pada awal setting pembelajaran.

4)      Permasalahan-permasalahan yang disajikan dalam setting pembelajaran diorganisasi dalam bentuk dan fokus tertentu dan merupakan stimulus pembelajaran. Misalnya, masalah pasien atau kesehatan masyarakat disajikan dalam berbagai bentuk seperti kasus tertulis, simulasi pasien, simulasi komputer atau video. Kondisi demikian akan menantang dan menghadapkan siswa dalam kondisi praktis serta akan memotivasi siswa untuk belajar. Untuk memecahkan masalah tersebut, siswa akan merealisasikan apa yang perlu mereka pelajari dari ilmu-ilmu dasar serta akan mengarahkan mereka untuk mengintegrasikan informasi-informasi dari berbagai disiplin ilmu.

5)      Informasi baru diperoleh melalui belajar secara mandiri (self directed learning). Siswa diharapkan belajar dari dunia pengetahuan dan mengakumulasikan keahliannya melalui belajar mandiri, serta dapat berbuat seperti praktisi yang sesungguhnya. Selama proses belajar secara mandiri, siswa bekerja bersama dalam kelompok, berdiskusi, melakukan komparasi, mereview serta berdebat tentang apa yang sudah mereka pelajari.

6)      Masalah merupakan wahana untuk mengembangkan keterampilan pemecahan masalah klinik. Format permasalahan hendaknya mempresentasikan permasalahan pasien sesuai dengan dunia realita. Format permasalahan juga harus memberi kepada siswa untuk mengajukan pertanyaan-pertanyaan kepada pasien, melakukan tes fisik, tes laboratorium dan tuntutan lainnya.

Langkah-langkah yang perlu diperhatikan dalam merancang program pengajaran yang berorientasi pada problem based learning sehingga proses pembelajaran benar-benar berpusat pada siswa (student centered) adalah sebagai berikut (Gallagher & Stepien, 1995):

1)      Fokuskan permasalahan (problem) sekitar pembelajaran konsep-konsep esensial yang strategis. Gunakan permasalahan dan konsep untuk membantu siswa melakukan investigasi substansi isi (content).

2)      Berikan kesempatan kepada siswa untuk mengevaluasi gagasannya melalui eksperimen atau studi lapangan. Siswa akan menggali data-data yang diperlukan untuk memecahkan masalah yang dihadapinya.

3)      Berikan kesempatan kepada siswa untuk mengelola data yang mereka miliki yang merupakan proses metakognisi.

4)      Berikan kesempatan kepada siswa untuk mempresentasikan solusi-solusi yang mereka kemukakan. Penyajian dapat dilakukan dalam bentuk seminar atau publikasi atau dalam bentuk penyajian poster.

Prosedur dan tahapan pelaksanaan proses pembelajaran problem based learning adalah sebagai berikut (dimodifikasi dari Barrows and Myers, 1993).

PENDAHULUAN

1.       Penyampaian tujuan pembelajaran

2.       Apersepsi

SETTING PERMASALAHAN

1.       Penyampaian masalah

2.       Internalisasi masalah oleh siswa

3.       Menggambarkan hasil/performan yang diperlukan

4.       Pemberian tugas-tugas meliputi (pengajuan hipotesis, pengumpulan fakta, mensintesa informasi yang tersedia melalui kegiatan inkuiri, membuat catatan yang diperlukan, merancang kegiatan/penyelidikan yang berkaitan upaya pemecahan masalah)

5.       Pemberian alasan terhadap permasalahan

6.       Identifikasi sumber-sumber pembelajaran

7.       Penjadwalan tindak lanjut

PRESENTASI

1.       Penyajian pemecahan masalah

2.       Diskusi

AKHIR KEGIATAN

1.       Memiliki pengetahuan

2.       Penilaian diri melalui hasil diskusi

STRATEGI PEMECAHAN MASALAH

1.       Menggunakan berbagai sumber dan kemampuan berpikir kritis, melaksanakan penyelidikan eksperimen

2.       Pemecahan masalah (jawaban hipotesis, menerapkan pengetahuan baru, menemukan hal-hal baru jika perlu diteliti kembali dengan merancang kegiatan baru)

Gambar 1. Alur Pembelajaran Problem Based Learning

      Sebagai model pembelajaran problem based learning disamping memiliki keunggulan juga memiliki kelemahan. Wina Sanjaya (2006: 218) menyatakan keunggulan problem based learning adalah:

1.      Pemecahan masalah merupakan teknik yang cukup bagus untuk lebih memahami isi pelajaran.

2.      Pemecahan masalah dapat menantang kemampuan siswa serta memberikan kepuasan untuk menemukan pengetahuan baru bagi siswa.

3.      Pemecahan masalah dapat meningkatkan aktivitas pembelajaran siswa.

4.      Pemecahan masalah dapat membantu siswa bagaimana mentransfer pengetahuan untuk memahami masalah dalam kehidupan nyata.

5.      Pemecahan masalah dapat membantu siswa untuk mengembangkan pengetahuan barunya dan bertanggung jawab dalam pembelajaran yang mereka lakukan. Disamping juga dapat mendorong untuk melakukan siendiri baik terhadap hasil maupun proses belajarnya.

6.      Melalui pemecahan masalah bisa diperlihatkan bahwa setiap mata pelajaran pada dasarnya merupakan cara berpikir dan sesuatu yang dimengerti oleh siswa bukan hanya sekedar belajar dari guru atau dari buku saja.

7.      Pemecahan masalah dipandang lebih mengasikkan dan disukai siswa.

8.      Pemecahan masalah dapat mengembangkan kemampuan siswa untuk berpikir kritis dan mengembangkan kemampuan mereka untuk menyesuaikan pengetahuan baru.

9.      Pemecahan masalah dapat memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengaplikasikan pengetahuan yang telah mereka miliki dalam dunia nyata.

10.  Pemecahan masalah dapat mengembangkan minat siswa untuk secara terus-menerus belajar sekalipun belajar pada pendidikan formal telah berakhir.

Sedangkan kelemahannya adalah:

1.      Manakala siswa tidak memiliki minat atau tidak memiliki kepercayaan sehingga masalah yang dipelajari sulit dipecahkan maka siswa akan merasa enggan untuk mencoba.

2.      Keberhasilan pembelajaran ini membutuhkan cukup banyak waktu.

3.      Tanpa pemahaman mengapa mereka berusaha memecahkan masalah yang sedang dipelajari, maka siswa tidak akan belajar apa yang mereka ingin pelajari.

Belajar berbasis masalah berakar dari pandangan John Dewey, yang menyatakan bahwa sekolah mestinya mencerminkan masyarakat yang lebih besar dan kelas merupakan laboratorium untuk memecahkan masalah kehidupan nyata. Pandangan ini mengharuskan guru untuk mendorong siswa terlibat dalam proyek atau tugas berorientasi masalah dan membantu mereka menyelidiki masalah-masalah intelektual dan sosial. Pembelajaran di sekolah seharusnya lebih memiliki manfaat nyata daripada abstrak. Pembelajaran yang memiliki manfaat terbaik dapat dilakukan oleh siswa dalam kelompok-kelompok kecil untuk menyelesaikan proyek yang menarik yang merupakan pilihan mereka sendiri. Visi pembelajaran yang berdayaguna atau terpusat pada masalah digerakkan oleh keinginan siswa untuk menyelidiki secara  pribadi masalah tersebut. Hal ini secara jelas menghubungkan BBM dengan filosofi pendidikan dan pedagogi Dewey.

      BBM juga dikembangkan dari konsep konstruktivisme atas dasar pandangan Jean Piaget dan Lev Vygotsky. Piaget menegaskan bahwa anak memiliki rasa ingin tahu bawaan dan secara terus menerus berusaha ingin memahami dunia di sekitarnya. Rasa ingin tahu ini, menurut Piaget dapat memotivasi mereka untuk secara aktif membangun tampilan dalam otak mereka mengenai lingkungan yang mereka hayati. Pada saat mereka tumbuh semakin dewasa dan memperoleh lebih banyak kemampuan bahasa dan memori, tampilan mental mereka tentang dunia menjadi lebih luas dan lebih abstrak. Sementara itu, pada semua tahap perkembangan, anak perlu memahami lingkungan mereka dan memotivasinya untuk menyelidiki dan membangun teori-teori yang menjelaskan lingkungan itu.

      Pandangan ini lebih lanjut mengemukakan bahwa siswa dalam segala usia secara aktif terlibat dalam proses perolehan informasi dan membangun pengetahuan mereka sendiri. Pengetahuan tidak statis namun secara terus menerus tumbuh dan berubah pada saat siswa menghadapi pengalaman baru yang memaksa mereka membangun dan memodifikasi pengetahuan awal mereka. Menurut Piaget, pedagogi yang baik harus melibatkan anak dengan situasi-situasi dimana anak itu secara mandiri melakukan eksperimen, dalam arti mencoba segala sesuatu untuk melihat apa yang terjadi, memanipulasi tanda-tanda, memanipulasi simbol, mengajukan pertanyaan dan menemukan sendiri jawabannya, mencocokkan apa yang mereka temukan pada suatu saat dengan apa yang ia temukan pada saat yang lain dan membandingkan temuannya dengan temuan anak lain (dalam Ibrahim dan Nur, 2000).

      Di pihak lain, Lev Vygostsky percaya bahwa perkembangan intelektual terjadi pada saat individu berhadapan dengan pengalaman baru yang menantang dan ketika mereka berusaha untuk memecahkan masalah yang dimunculkan oleh pengalaman. Dalam upaya mendapatkan pemahaman, individu mengkaitkan pengetahuan baru dengan pengetahuan lama yang telah dimilikinya untuk membangun pengertian baru. Vygotsky memberi tempat yang lebih penting pada aspek sosial pembelajaran. Vygotsky percaya bahwa mereka interaksi sosial dengan teman lain memacu terbentuknya ide baru dan memperkaya perkembangan intelektual siswa.

      Pada dasarnya, baik Piaget maupun Vigotsky, sama-sama mengembangkan konstruktivisme psikologis. Namun demikian, Piaget lebih menekankan pada konstruktivisme psikologis yang bersifat personal, sedangkan Vigotskty lebih menekankan pada kontruktivisme psikologis yang bersifat sosial (Suparno, 1997: 43). Kedua konsep konstruktivisme tersebut menjadi landasan pokok model Belajar Berdasarkan Masalah.

      BBM juga berlandaskan pada social leraning theory Albert Bandura, yang fokus pada pembelajaran dalam konteks sosial (social context). Teori ini menyatakan bahwa seorang belajar dari orang lain, termasuk konsep dari belajar observasional, imination dan modeling. Prinsip umum dari social learning theory selengkapnya dinyatakan oleh Armrod (1999) sebagai berikut:

General principles of social learning theory follows:

1.      People  can learn by observing the behavior is of others and the autcomes of those behaviors.

2.      Learning can occur without a change in behavior. Behaciorists say that learning has to be represented by a permanent change in behavior, in contrast social learning theorists say that because people can learn thourg observation alone, their learning may not necessarily be shown in their performance. Learning may or may not result in a behavior change.

3.      Cognition plays a role in learning. Over the last 30 years social learning theory has become increasingly cognitive in its interpretation of human learning. Awareness and expectation of future reinforcements or punishments can have a major effect on the behaviors that people exhibit.

4.      Social learning theory can be considered a bridge or a transition between behaviorist learning theories and cognitive learning theories.

 

Belajar Berbasis Masalah didukung pula oleh teorinya Jerome Bruner yang dikenal dengan pembelajaran penemuan. Belajar penemuan ini merupakan suatu model pembelajaran yang menekankan pentingnya membantu siswa memahami struktur atau ide kunci dari suatu disiplin ilmu, perlunya siswa aktif terlibat dalam proses pembelajaran dan pembelajaran yang sebenarnya terjadi melalui penemuan pribadi. Tujuan pendidikan tidak hanya meningkatkan banyaknya pengetahuan siswa tetapi juga menciptakan kemungkinan-kemungkinan untuk penemuan siswa. Pembelajaran penemuan diterapkan dengan menekankan penalaran induktif dan proses-proses inkuiri yang merupakan ciri dari metode ilmiah. Belajar berdasarkan masalah pada intinya adalah melakukan proses inkuiri tersebut.

      Kaitan intelektual antara pembelajaran penemuan dan belajar berbasis masalah sangat jelas. Pada kedua model ini, guru menekankan keterlibatan siswa secara aktif, orientasi induktif lebih ditekankan dari pada deduktif, dan siswa menentukan atau mengkonstruksi pengetahuannya sendiri. Pada belajar berbasis masalah atau penemuan, guru mengajukan pertanyaan atau masalah kepada siswa dan memperbolehkan siswa untuk menemukan ide dan teori mereka sendiri.

      Belajar Berbasis Masalah (BBM) memiliki nama lain yang pada dasarnya bermakna sama, seperti Problem-Based Learning (PBL), Problem-Based Instruction (PBI), Project-Based Teaching (Pembelajaran Proyek), Experienced Based Education (Pendidikan Berdasarkan Pengalaman), Authentic Learning (Belajar Autentik) dan Echored Instruction (Pembelajaran Berakar pada Kehidupan Nyata).

      Belajar Berbasis Masalah (BBM) adalah pembelajaran yang dirancang berdasarkan masalah kehidupan yang bersifat tidak tentu (ill-structured), terbuka dan mendua. Masalah yang tidak tentu adalah masalah yang kabur, tidak jelas, atau belum terdefinisikan (Fogarty, dalam Arnyana, 2004). Sedangkan Boud (1985: 1) menyatakan bahwa Belajar adalah masalah merupakan pembelajaran yang dimulai dengan penyajian masalah, yang berupa pertanyaan atau teka-teki yang dapat merangsang siswa untuk menyelesaikannya. Definisi yang hampir sama dinyatakan oleh Ibrahim dan Nur (2000: 3), bahwa BBM terdiri dari menyajikan kepada siswa situasi masalah yang autentik dan bermakna yang dapat memberikan kesempatan kepada mereka untuk melakukan penyelidikan dan inkuiri. Secara lebih spesifik, Barrows (1996: 5) menyatakan bahwa BBM merupakan pembelajaran yang memiliki karakteristik, yakni (1) belajar berpusat pada siswa, (2) belajar terjadi dalam kelompok kecil, (3) guru berperan sebagai fasilitator atau penuntun, (4) bentuk masalah difokuskan pada pengaturan dan merangsang untuk belajar, (5) masalah merupakan sarana untuk membangun keterampilan pemecahan masalah, (6) informasi baru diperoleh melalui self-directing learning.

      Belajar Berbasis Masalah diterapkan untuk merangsang berpikir tingkat tinggi siswa dalam situasi berorientasi masalah, termasuk di dalamnya belajar bagaimana belajar (Ibrahim dan Nur, 2000). Peran guru dalam pembelajaran ini adalah menyajikan masalah, mengajukan pertanyaan dan memfasilitasi penyelidikan dan dialog. Lebih penting lagi, guru melakukan scaffolding, yaitu suatu kerangka dukungan yang memperkaya keterampilan dan pertumbuhan intelektual siswa. BBM tidak terjadi tanpa guru mengembangkan lingkungan kelas yang memungkinkan terjadinya pertukaran ide secara terbuka.

      Belajar Berbasis Masalah memiliki ciri-ciri sebagai berikut: (1) Mengajukan pertanyaan atau masalah. BBM mengorganisasikan pertanyaan dan masalah yang sangat penting dan secara pribadi bermakna bagi siswa. Masalah yang diajukan berupa situasi kehidupan nyata/autentik, menghindari jawaban sederhana dan memungkinkan adanya berbagai macam solusi untuk situasi tersebut. (2) Berfokus pada keterkaitan antar disiplin. (3) Penyelidikan autentik. BBM mengharuskan siswa melakukan penyelidikan autentik untuk mencari penyelesaian masalah secara nyata. Mereka harus menganalisis dan mendefinisikan masalah, mengembangkan hipotesis, mengumpulkan dan menganalisis informasi, melakukan eksperimen (jika diperlukan), membuat inferensi dan merumuskan simpulan sebagai solusi terhadap masalah yang diajukan. (4) Menghasilkan produk atau karya dan memamerkannya. BBM menuntut siswa untuk menghasilkan produk tertentu dalam bentuk karya nyata atau artefak dan peragaan yang menjelaskan atau mewakili bentuk penyelesaian masalah yang mereka temukan. (5) Kerja sama. BBM juga dicirikan oleh siswa bekerjasama antara yang satu dengan lainnya dalam bentuk berpasangan atau berkelompok (antara 4-8 siswa) dalam memecahkan masalah yang dihadapinya. Dalam pembelajarannya, siswa bekerjasama antara satu dengan yang lain, untuk mengembangkan keterampilan berpikir (Ibrahim dan Nur, 2000: 5-6).

      Belajar berdasarkan masalah dikembangkan untuk membantu siswa mengembangkan kemampuan berpikir, memecahkan masalah dan keterampilan intelektual. Di samping itu, BBM memberikan kesempatan belajar berbagai peran orang dewasa melalui pelibatan mereka dalam pengalaman nyata atau simulasi serta menjadi pebelajar yang otonom dan mandiri (Ibrahim dan Nur, 2000). BBM dapat mengembangkan kemampuan berpikir tingkat tinggi. Hal ini didukung oleh Hastings yang mengemukakan bahwa belajar berdasarkan masalah dapat mengembangkan keterampilan berpikir kritis dan analitis serta menghadapkan siswa pada latihan untuk memecahkan masalah (dalam Arnyana, 2004).

      Ibrahim dan Nur (2000) memberikan rasional tentang bagaimana BBM membantu siswa untuk berkinerja dalam situasi kehidupan nyata dan belajar pentingnya peran orang dewasa. Mereka lebih lanjut mengungkapkan bagaimana pembelajaran di sekolah seperti yang dipahami secara tradisional, berbeda dalam empat hal penting dari aktivitas mental dan belajar yang terjadi di luar sekolah. Keempat hal tersebut dipaparkan seperti berikut: (1) Pembelajaran di sekolah berpusat pada kinerja siswa secara individual, sementara di luar sekolah kerja mental melibatkan kerjasama dengan orang lain. (2) Pembelajaran di sekolah terpusat pada proses berpikir tanpa bantuan, sementara aktivitas mental di luar sekolah selalu melibatkan alat-alat kognitif seperti komputer, kalkulator dan instrumen ilmiah lainnya. (3) Pembelajaran di sekolah mengembangkan berpikir simbolik berkaitan dengan situasi hipotesis, sementara aktivitas mental di luar sekolah mengharapkan masing-masing individu berhadapan secara langsung dengan benda dan situasi yang kongkret. (4) Pembelajaran di sekolah memusatkan pada keterampilan umum, sementara di luar sekolah memerlukan kemampuan khusus.

      Belajar berbasis masalah biasanya terdiri dari 5 tahap yang dimulai dengan (1) orientasi siswa kepada masalah, (2) mengorganisasikan siswa untuk belajar, (3) membimbing penyelidikan individual maupun kelompok, (4) mengembangkan dan menyajikan hasil karya dan (5) menganalisis dan mengevaluasi proses pemecahan masalah (Nur, 2000: 13); Arends, 2004: 406). Jika jangkauan masalahnya sedang-sedang saja, kelima tahapan tersebut mungkin dapat diselesaikan dalam 2 sampai 3 kali pertemuan. Namun untuk masalah yang kompleks mungkin akan dibutuhkan setahun penuh untuk menyelesaikannya. Model belajar berbasis masalah, pada umumnya diterapkan pada bidang-bidang sains, untuk penerapannya pada bidang matematika, perlu adanya modfikasi. Secara garis besar kelima langkah tersebut tetap, yang perlu sedikit penyesuaian adalah pada kegiatan guru dan kegiatan siswa. Kelima tahapan tersebut secara lengkap disajikan pada tabel.

Tabel 01. Sintaks Model Belajar Berbasis Masalah

Tahap

Kegiatan Guru

Kegiatan Siswa

Tahap I

Orientasi siswa kepada masalah

Guru menjelaskan tujuan pembelajaran, menjelaskan kebutuhan yang diperlukan dan memotivasi siswa terlibat pada aktivitas pemecahan masalah yang dipilihnya

Siswa menginventarisasi dan mempersiapkan kebutuhan yang diperlukan dalam proses pembelajaran. Siswa berada dalam kelompok yang telah ditetapkan

Tahap 2

Mengorganisasi siswa untuk belajar

Guru membantu siswa mendefinisikan dan mengorganisasikan tugas belajar yang berhubungan dengan masalah tersebut

Siswa membatasi permasalahannya yang akan dikaji

Tahap 3

Membimbing penyelidikan individual maupun kelompok

Guru mendorong siswa untuk mengumpulkan informasi yang sesuai, untuk mendapatkan penjelasan dan pemecahan masalah

Siswa melakukan inkuiri, investigasi, dan bertanya untuk mendapatkan jawaban atas permasalahan yang dihadapi

Tahap 4

Mengembangkan dan menyajikan hasil karya

Guru membantu siswa dalam merencanakan dan menyiapkan laporan serta membantu siswa untuk berbagai tugas dalam kelompoknya

Siswa menyusun laporan dalam kelompok dan menyajikannya dihadapan kelas dan berdiskusi dalam kelas

Tahap 5

Menganalisis dan mengevaluasi proses pemecahan masalah

Guru membantu siswa untuk melakukan refleksi atau evaluasi terhadap penyelidikan mereka dan proses-proses yang mereka gunakan

Siswa mengikuti tes dan menyerahkan tugas-tugas sebagai bahan evaluasi proses belajar

C.    Prestasi Belajar

Prestai belajar dimulai dengan kegiatan atau aktivitas, setelah itu belajar dan terakhir baru prestai belajar.

1.      Aktivitas

Kata “Aktivitas” berasal dari Bahasa Inggris ‘activity’ yang artinya ‘state of action, lireliness or ingorous mation’ (Webster’ New American Dictionary: 12). Apabila diartikan dalam Bahasa Indonesia kata ini berarti kebenaran dari perlakuan, kegiatan yang aktif, kegiatan yang aktual atau giat dalam melakukan gerak-gerik, usul. Dalam bahasa Indonesia aktif berarti giat belajar, giat berusaha, dinamis, mampu berkreasi dan beraksi (Kamus Besar Bahasa Indonesia: 32).

            Aktivitas merupakan kegiatan yang dilaksanakan oleh siswa, baik dalam aktivitas jasmani maupun dalam aktivitas rohani. Aktivitas ini jelas merupakan ciri bahwa siswa berkeinginan untuk mengikuti proses. Siswa dikatakan memiliki keaktifan apabila ditemui ciri-ciri seperti berikut (Tim Instruktur PKG, 1992: 2):

1.    Antusiasme siswa dalam mengikuti pembelajaran

2.    Terjadi interaksi siswa dengan guru, siswa dengan siswa

3.    Siswa terlibat dan bekerjasama dalam diskusi kelompok

4.    Terjadi aktivitas siswa dalam pelaksanaan pembelajaran

5.    Siswa berpartisipasi dalam menyimpulkan materi.

            Keaktifan siswa dalam proses belajar mengajar dapat dilihat dari (Nana Sudjana, 2000: http://www.scribd.com/doc/90372008):

1.    Turut serta dalam melaksanakan tugas belajarnya

2.    Terlibat dalam pemecahan masalah

3.    Bertanya pada siswa lain atau kepada guru apabila tidak memahami persoalan yang dihadapinya

4.    Berusaha mencari berbagai informasi yang diperlukan untuk  memecahkan masalah

5.    Melaksanakan diskusi kelompok sesuai dengan petunjuk guru

6.    Menilai kemampuan dirinya dan hasil-hasil yang diperolehnya

7.    Melatih diri dalam memecahkan soal atau masalah yang sejenis

8.    Kesempatan menggunakan atau menerapkan apa yang diperolehnya dalam menyelesaikan tugas atau persoalan yang dihadapinya.

 

2.      Belajar

Belajar dalam Bahasa Inggris adalah “Study” yang artinya ‘The act of using the mind to require knowledge’ (Webster’ New American Dictionary: 1993). Apabila diartikan dalam Bahasa Indonesia, belajar adalah perbuatan menggunakan ingatan/pikiran untuk mendapatkan/ memperoleh pengetahuan. Belajar artinya berusaha untuk memperoleh ilmu atau menguasai suatu keterampilan; juga berarti berlatih (Kamus Besar Bahasa Indonesia: 27). Selanjutnya belajar juga berarti perubahan yang relatif permanen dalam kapasitas pribadi seseorang sebagai akibat pengolahan atas pengalaman yang diperolehnya dari praktek yang dilakukannya (Glosarium Standar Proses, Permen Diknas No. 41 tahun 2007). Dari ketiga pengertian tersebut dapat disimpulkan bahwa belajar adalah penggunaan pikiran untuk memperoleh ilmu. Ini berarti bahwa belajar adalah perbuatan yang dilakukan dari tahap belum tahu ke tahap mengetahui sesuatu yang baru.

            Prinsip belajar yang dapat menunjang tumbuhnya cara belajar siswa aktif adalah: stimulus, perhatian dan motivasi, respon, penguatan dan umpan balik (Sriyono, 1992: http://www.scribd.com/doc/90372081).

D.    Prestasi Belajar

1.      Aktivitas

Kata “Aktivitas” berasal dari Bahasa Inggris ‘activity’ yang artinya ‘state of action, lireliness or ingorous mation’ (Webster’ New American Dictionary: 12). Apabila diartikan dalam Bahasa Indonesia kata ini berarti kebenaran dari perlakuan, kegiatan yang aktif, kegiatan yang aktual atau giat dalam melakukan gerak-gerik, usul. Dalam bahasa Indonesia aktif berarti giat belajar, giat berusaha, dinamis, mampu berkreasi dan beraksi (Kamus Besar Bahasa Indonesia: 32).

            Aktivitas merupakan kegiatan yang dilaksanakan oleh siswa, baik dalam aktivitas jasmani maupun dalam aktivitas rohani. Aktivitas ini jelas merupakan ciri bahwa siswa berkeinginan untuk mengikuti proses. Siswa dikatakan memiliki keaktifan apabila ditemui ciri-ciri seperti berikut (Tim Instruktur PKG, 1992: 2):

1.    Antusiasme siswa dalam mengikuti pembelajaran

2.    Terjadi interaksi siswa dengan guru, siswa dengan siswa

3.    Siswa terlibat dan bekerjasama dalam diskusi kelompok

4.    Terjadi aktivitas siswa dalam pelaksanaan pembelajaran

5.    Siswa berpartisipasi dalam menyimpulkan materi.

            Keaktifan siswa dalam proses belajar mengajar dapat dilihat dari (Nana Sudjana, 2000: http://www.scribd.com/doc/90372008):

1.    Turut serta dalam melaksanakan tugas belajarnya

2.    Terlibat dalam pemecahan masalah

3.    Bertanya pada siswa lain atau kepada guru apabila tidak memahami persoalan yang dihadapinya

4.    Berusaha mencari berbagai informasi yang diperlukan untuk  memecahkan masalah

5.    Melaksanakan diskusi kelompok sesuai dengan petunjuk guru

6.    Menilai kemampuan dirinya dan hasil-hasil yang diperolehnya

7.    Melatih diri dalam memecahkan soal atau masalah yang sejenis

8.    Kesempatan menggunakan atau menerapkan apa yang diperolehnya dalam menyelesaikan tugas atau persoalan yang dihadapinya.

2.      Belajar

Belajar dalam Bahasa Inggris adalah “Study” yang artinya ‘The act of using the mind to require knowledge’ (Webster’ New American Dictionary: 1993). Apabila diartikan dalam Bahasa Indonesia, belajar adalah perbuatan menggunakan ingatan/pikiran untuk mendapatkan/ memperoleh pengetahuan. Belajar artinya berusaha untuk memperoleh ilmu atau menguasai suatu keterampilan; juga berarti berlatih (Kamus Besar Bahasa Indonesia: 27). Selanjutnya belajar juga berarti perubahan yang relatif permanen dalam kapasitas pribadi seseorang sebagai akibat pengolahan atas pengalaman yang diperolehnya dari praktek yang dilakukannya (Glosarium Standar Proses, Permen Diknas No. 41 Tahun 2007). Dari ketiga pengertian tersebut dapat disimpulkan bahwa belajar adalah penggunaan pikiran untuk memperoleh ilmu. Ini berarti bahwa belajar adalah perbuatan yang dilakukan dari tahap belum tahu ke tahap mengetahui sesuatu yang baru.

            Prinsip belajar yang dapat menunjang tumbuhnya cara belajar siswa aktif adalah: stimulus, perhatian dan motivasi, respon, penguatan dan umpan balik (Sriyono, 1992: http://www.scribd.com/doc/90372081). Juga dikatakan bahwa ativitas belajar berupa keaktifan jasmani dan rohani yang meliputi keaktifan panca indra, keaktifan akal, keaktifan ingatan dan keaktifan emosi. Pendapat lain menyatakan bahwa aktivitas belajar dilakukan dalam bentuk interaksi antara guru dengan siswa dan antara siswa siswa dengan siswa lain (Abdul, 2002 dalam http://www.scribd.com/doc/90372081).

Dari kedua pendapat di atas, dapat dipahami bahwa belajar sebenarnya merupakan cara yang membuat siswa aktif, baik dengan penggunaan cara simulasi, respon, motivasi, penguatan, umpan balik yang dapat membangkitkan keaktifan jasmani dan rohani siswa sehingga muncul interaksi antar siswa dengan guru begitu juga interaksi antara siswa yang satu dengan siswa lainnya.

Dengan menggabungkan semua pendapat yang telah disampaikan serta pengertian-pengertian tentang belajar dapat disimpulkan bahwa belajar adalah penggunaan ingatan atau pikiran untuk memperoleh pengetahuan baru yang belum diketahui sebelumnya dengan penggunaan cara-cara tertentu seperti simulasi, respon, motivasi, penguatan, umpan balik yang dapat membangkitkan keaktifan siswa baik jasmani maupun rohani yang dapat membangkitkan interaksi antara siswa dengan guru serta siswa dengan siswa lainnya.

 

3.      Aktivitas Belajar

Dari semua pengertian dan pendapat-pendapat tentang aktivitas dan pengertian-pengertian serta pendapat-pendapat tentang belajar dapat disimpulkan bahwa aktivitas belajar mempunyai batasan-batasan seperti: 1) kebenaran perlakuan, 2) ada partisipasi, 3) kegiatan aktual atau keikutsertaan baik jasmani maupun rohani, 4) antusiasme, 5) interaksi siswa dengan guru, siswa dengan siswa lainnya, 6) penerapan secara aktual apa yang telah diporoleh.

Prestasi belajar matematika sama dengan prestasi belajar bidang studi yang lain merupakan hasil dari proses belajar siswa dan sebagaimana biasa dilaporkan pada wali kelas, murid dan orang tua siswa setiap akhir semester atau akhir tahun ajaran.

Prestasi belajar mempunyai arti dan manfaat yang sangat penting bagi anak didik, pendidik, orang tua/wali murid dan sekolah, karena nilai atau angka yang diberikan merupakan manifestasi dari prestasi belajar siswa dan berguna dalam pengambilan keputusan atau kebijakan terhadap siswa yang bersangkutan maupun sekolah. Prestasi belajar merupakan kemampuan siswa yang dapat diukur, berupa pengetahuan, sikap dan keterampilan yang dicapai siswa dalam kegiatan belajar mengajar.

Djamarah (1994:23) mendefinisikan prestasi belajar sebagai hasil yang diperoleh berupa kesan-kesan yang mengakibatkan perubahan dalam diri individu sebagai hasil dari aktivitas dalam belajar. Kalau perubahan tingkah laku adalah tujuan yang mau dicapai dari aktivitas belajar, maka perubahan tingkah laku itulah salah satu indikator yang dijadikan pedoman untuk mengetahui kemajuan individu dalam segala hal yang diperolehnya di sekolah. Dengan kata lain prestasi belajar merupakan kemampuan-kemampuan yang dimiliki   oleh siswa sebagai akibat perbuatan belajar atau setelah menerima pengalaman belajar, yang dapat dikatagorikan menjadi tiga ranah, yakni ranah kognitif, afektif, dan psikomotor.

Dengan mengkaji hal tersebut di atas, maka faktor-faktor yang dapat mempengaruhi prestasi belajar menurut Purwanto (2000: 102) antara lain: (1) faktor yang ada pada diri organisme itu sendiri yang dapat disebut faktor individual, seperti kematangan/pertumbuhan, kecerdasan, latihan, motivasi, dan faktor pribadi, (2) faktor yang ada diluar individu yang disebut faktor sosial., seperti faktor keluarga/keadaan rumah tangga, guru dan cara mengajamya, alat-alat yang dipergunakan dalam belajar-mengajar, lingkungan dan kesempatan yang tersedia dan motivasi sosial. Dalam penelitian ini factor ke 2 yaitu factor yang dari luar seperti guru dan cara mengajarnya yang akan menentukan prestasi belajar siswa. Guru dalam hal ini adalah kemampuan atau kompetensi guru, pendidikan dan lain-lain. Cara mengajarnya itu merupakan factor kebiasaan guru itu atau pembawaan guru itu dalam memberikan pelajaran. Juga dikatakan oleh Slamet (2003: 54-70) bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi belajar banyak jenisnya, tetapi dapat digolongkan menjadi dua golongan saja, yaitu faktor intern dan faktor ekstem. Faktor intern diklasifikasi menjadi tiga faktor yaitu: faktor jasmaniah, faktor psikologis dan faktor kelelahan. Faktor jasmaniah antara lain: kesehatan, cacat tubuh. Faktor psikologis antara lain: intelegensi, perhatian, minat, bakat, motif, kematangan, kesiapan. Faktor kelelahan antara lain: kelelahan jasmani dan rohani. Sedangkan faktor ekstern digolongkan menjadi tiga faktor yaitu: faktor keluarga, faktor sekolah, faktor masyarakat. Faktor keluarga antara lain: cara orang tua mendidik, relasi antara keluarga, suasana rumah tangga dan keadaan ekonomi keluarga. Faktor sekolah antara lain: metode mengajar, kurikulum, relasi guru dengan siswa, relasi siswa dengan siswa, disiplin sekolah, pelajaran dan waktu sekolah, standar pelajaran, keadaan gedung, metode belajar dan tugas rumah. Faktor masyarakat antara lain: kegiatan siswa dalam masyarakat, mass media, teman bergaul, bentuk kehidupan masyarakat. Peningkatan prestasi belajar yang penulis teliti dalam hal ini dipengaruhi oleh factor ekstern yaitu metode mengajar guru.

Sardiman (1988: 25) menyatakan prestasi belajar sangat vital dalam dunia pendidikan, mengingat prestasi belajar itu dapat berperan sebagai hasil penilaian dan sebagai alat motivasi. Adapun peran sebagai hasil penilaian dan sebagai alat motivasi diuraikan seperti berikut.

Dalam pembahasan sebelumnya telah dibicarakan bahwa prestasi belajar adalah hasil penilaian pendidikan tentang kemajuan prestasi siswa setelah melakukan aktivitas belajar. Ini berarti prestasi belajar tidak akan bisa diketahui tanpa dilakukan penilaian atas hasil aktivitas belajar siswa. Fungsi prestasi belajar bukan saja untuk mengetahui sejauhmana kemajuan siswa setelah menyelesaikan suatu aktivitas, tetapi yang lebih penting adalah sebagai alat untuk memotivasi setiap siswa agar lebih giat belajar,  baik secara individu maupun kelompok. Dalam pembahasan ini akan dibicarakan mengenai prestasi belajar sebagai hasil penilaian dan pada pembahasan berikutnya akan dibicarakan pula prestasi belajar sebagai alat motivasi. Prestasi belajar sebagai hasil penilaian sudah dipahami. Namun demikian untuk mendapatkan pemahaman, perlu juga diketahui, bahwa penilaian adalah sebagai aktivitas dalam menentukan rendahnya prestasi belajar itu sendiri.

Abdullah (dalam Mamik Suratmi, 1994: 22), mengatakan bahwa fungsi prestasi belajar adalah: (a) sebagai indikator dan kuantitas pengetahuan yang telah dimiliki oleh pelajar, (b) sebagai lambang pemenuhan keingintahuan, (c) informasi tentang prestasi belajar dapat menjadi perangsang untuk peningkatan ilmu pengetahuan dan (d) sebagai indikator daya serap dan kecerdasan murid.

Mohammad Surya (1979), mengatakan bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi prestasi belajar dapat dilihat dari berbagai sudut pandang, antara lain dari sudut si pebelajar, proses belajar dan dapat pula dari sudut situasi belajar.

Bila kita coba lihat lebih dalam dari pendapat di atas, maka prestasi belajar dipengaruhi banyak faktor. Faktor-faktor dari si pebelajar sendiri atau faktor dalam diri siswa dan faktor luar. Faktor dalam diri siswa seperti IQ, motivasi, etos belajar, bakat, keuletan,  dan lain-lain sangat berpengaruh pada prestasi belajar siswa.

Penjelasan Surya selanjutnya adalah: dari sudut si pembelajar (siswa), prestasi belajar seseorang dipengaruhi antara lain oleh kondisi kesehatan jasmani siswa, kecerdasan, bakat, minat, motivasi, penyesuaian diri dan kemampuan berinteraksi siswa. Sedangkan yang bersumber dari proses belajar, maka kemampuan guru dalam mengelola proses pembelajaran sangat menentukan prestasi belajar siswa. Guru yang menguasai materi pelajaran dengan baik, menggunakan metode dan media pembelajaran yang tepat, mampu mengelola kelas dengan baik dan memiliki kemampuan untuk menumbuhkembangkan motivasi belajar siswa untuk belajar, akan memberi pengaruh yang positif terhadap prestasi belajar siswa. Sedangkan situasi belajar siswa, meliputi situasi lingkungan keluarga, sekolah dan masyarakat sekitar.

Dari uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa prestasi belajar adalah hasil yang dicapai siswa setelah melakukan kegiatan belajar yang berbentuk angka sebagai simbol dari ketuntasan belajar bidang studi sejarah. Prestasi belajar ini sangat dipengaruhi oleh factor luar yaitu guru dan metode. Hal inilah yang menjadi titik perhatian peneliti di lapangan.

Terkait dengan penelitian ini, untuk mengukur prestasi belajar matematika digunakan tes hasil belajar, dengan mengacu pada materi pelajaran matematika pada Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) yang berlaku di sekolah ini.

 

E.     Kerangka Berpikir

Model pembelajaran Problem Based Learning diseting memiliki bentuk yang diawali dengan sebuah masalah dimana instruktur sebagai pelatih, diakhiri penyajian dan kerja siswa, guru lebih sebagai pembimbing dan fasilitator, siswa diupayakan berpikir untuk memecahkan masalahnya sendiri. Pemusatan masalah disekitar materi pelajaran, kemampuan siswa mewujudkan hipotesis, kemampuan menyajikan hasil karya, menuntuk kemampuan menganalisis, mempresentasikan hasil, pengembangan kreativitas berpikir, menuntut kemampuan menyampaikan konsep-konsep terkait materi. Model ini menuntut kemampuan guru sebagai motivator dan fasilitator, kemampuan mengajar kelompok kecil, guru merupakan kunci keberhasilan pembelajaran, kelompok bisa lebih banyak 5-8 orang. Unit-unit pelajaran ditukar untuk setiap anggota kelompok. Guru harus menghindari ceramah, masalah disampaikan sebagai stimulus sehingga pembelajaran menantang, kemampuan metakognisi (mengolah data), siswa diupayakan memiliki kemampuan lebih dari menggali semua masalah yang ada dan kemampuan membandingkan temuan-temuannya dengan temua orang lain, sehingga siswa menjadi sangat aktif dalam mengikuti proses pembelajaran. Model ini menuntut kegiatan intelektual metode belajar sendiri, memproses apa yang mereka telah dapatkan dalam pikirannya untuk menjadi sesuatu yang bermakna. Mereka diupayakan untuk lebih produktif, mampu membuat analisa membiasakan mereka brpikir kritis, dapat mempresentasikan apa yang telah dipelajari. Model ini juga bisa diupayakan untuk pengembangan kemampuan akademik, menghindarkan siswa belajar dengan hapalan, dapat memberikan tambahan kemampuan untuk dapat mengasimilasikan dan mengakomodasikan informasi, serta menuntut kemampuan pemecahan dengan latihan khusus untuk mempertinggi daya ingat dengan berlatih untuk dapat memecahkan masalah-masalah yang ada.

 

F.     Hipotesis Tindakan

Dengan semua paparan di atas, dapat disampaikan hipotesis atau dugaan sementara yang bunyinya:

Langkah-langkah Model Pembelajaran Problem Based Learning dapat Meningkatkan Prestasi Belajar Siswa Kelas X-F pada Semester Ganjil Tahun ajaran 2011/2012 pada  SMA Negeri 1 Kempo

 

 

 

BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

 

A.    Rancangan Penelitian

Penelitian yang dilakukan termasuk penelitian tindakan. Oleh karenanya, rancangan yang khusus untuk sebuah penelitian tindakan sangat diperlukan. Penelitian tindakan didasarkan pada filosofi bahwa setiap manusia tidak suka atas hal-hal yang statis, tetapi selalu menginginkan sesuatu yang lebih baik. Peningkatan diri untuk hal yang lebih baik ini dilakukan terus menerus sampai tujuan tercapai (Suharsimi Arikunto, Suhardjono, Supardi, 2006: 67).

      Dalam melaksanakan penelitian, rancangan merupakan hal yang sangat penting untuk disampaikan. Tanpa rancangan, bisa saja alur penelitian akan ngawur dalam pelaksanaannya.

      Untuk penelitian ini penulis memilih rancangan penelitian tindakan  seperti terlihat pada gambar berikut.

 

1.      Objek Penelitian

Yang menjadi objek penelitian ini adalah peningkatan aktivitas dan prestasi belajar siswa kelas X-F SMA Negeri 1 Kempo setelah diterapkan model Problem Based Learning dalam proses pembelajaran.

 

A.    Waktu Penelitian

Penelitian ini dilakukan dari bulan Desember 2010 sampai bulan Juni 2011 Sebagai gambaran dari pelaksanaan penelitian ini dapat dilihat pada tabel berikut:

Tabel 03.   Jadwal Penelitian

 

 

A.    Metode Pengumpulan Data

Untuk mengumpulkan data penelitian ini digunakan observasi dan tes prestasi belajar.

B.     Metode Analisis Data

Metode yang  digunakan untuk menganalisis data hasil penelitian ini adalah metode deskriptif baik untuk data kualitatif maupun untuk data kuantitatif. Untuk data kualitatif dianalisis dengan memberi pertimbangan-pertimbangan, memberi komentar-komentar, mengklasifikasikan data, mencocokan dengan validitas internal dan validitas eksternal, mencari hubungan-hubungan, mencari perbandingan-perbandingan, mengkategorikan data dan selanjutnya membuat kesimpulan refleksi dengan mencari makna dari kesimpulan hubungan antarkategori.

Sebelum melakukan analisis kualitatif sebaiknya kita mencoba melihat pendapat para ahli analisis. Menurut Matthew B. Miles dan A. Michael Hubberman (1992: 390), dalam penelitian kualitatif cendrung diabaikan. Ini terjadi karena inti penelitian kualitatif adalah menjangkau sesuatu yang lebih dari sekedar, yang dapat dikatakan kepada kita akan pentingnya kualitas tersebut. Selanjutnya dikatakan, akan tetapi sebagaimana yang kita perhatikan sebelumnya, terjadi banyak perhitungan pada saat penentuan kualitas dibuat. Jadi dalam penelitian kualitatif perlu diketahui, yang pertama-tama adalah bahwa kita juga menghitung.

Untuk data kuantitatif dianalisis dengan mencari mean, median, modus, standar deviasi, membuat interval kelas dan melakukan penyajian dalam bentuk tabel dan grafik.

 

Instrumen Penelitian

a.  Instrumen Penilaian Prestasi Belajar Siswa

Instrumen yang digunakan untuk menilai prestasi belajar siswa kelas……… adalah tes. Tes ini terdiri dari…… soal dengan bentuk tes adalah……., seperti terlihat di bawah ini.

Tes Prestasi Belajar  :    …………………

Hari/Tanggal            :

Petunjuk                   :    Jawablah …………………………..

b. Instrumen Observasi Belajar Problem Based Learning

            Instrumen ini disajikan dalam upaya mendapat bandingan terhadap kebenaran data yang didapat. Instrumen ini sangat berguna untuk mencek apakah kenaikan prestasi belajar itu disebabkan oleh pengaruh model pembelajaran Problem Based Learning. Variabel ini termasuk variabel penyela (intervening variable) yang kemungkinan berpengaruh terhadap hubungan antara variabel bebas (model Problem Based Learning) dengan variabel terikat (prestasi belajar).

Tabel 06. Instrumen Observasi Kesesuaian Belajar Problem Based Learning

Keterangan Penilaian:

1.      Sangat tidak sesuai dengan pembelajaran Problem Based Learning

2.      Tidak sesuai dengan pembelajaran Problem Based Learning

3.      Sesuai dengan pembelajaran Problem Based Learning

Sangat sesuai dengan pembelajaran Problem Based Learning

A.    Indikator Keberhasilan Penelitian

Dalam penelitian ini diusulkan tingkat keberhasilan per siklus yaitu pada prestasi belajar siswa diharapkan pada siklus I mencapai rata-rata 6,5 dan pada siklus II mencapai nilai rata-rata 8,5.

 

BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

 

A.    Hasil Penelitian

Pada Bab IV ini penulis sampaikan data yang diperoleh dari penelitian     tindakan ini secara rinci berdasarkan penelitian yang dilakukan di SMA Negeri …………………….. Sebelum menyampaikan hasil-hasil penelitian ada baiknya dilihat dahulu pendapat para ahli pendidikan berikut: dalam menyampaikan hasil penelitian dan pembahasan, perlu menyajikan uraian masing-masing siklus dengan data lengkap mulai dari perencanaan, pelaksanaan, pengamatan dan refleksi yang berisi penjelasan tentang aspek keberhasilan dan kelemahan yang terjadi. Perlu ditambahkan hal yang mendasar, yaitu hasil pembahasan (kemajuan) pada diri siswa, lingkungan, guru, motivasi dan aktivits belajar, situasi kelas dan hasil belajar, kemukakan grafik dan tabel hasil analisis data yang menunjukkan perubahan yang terjadi disertai pembahasan secara sistimatis dan jelas (Suharsimi Arikunto, Suhardjono, Supardi, 2006: 83). Dari cuplikan di atas jelaslah apa yang harus dipaparkan dalam Bab ini yaitu menulis lengkap mulai dari apa yang dibuat sesuai perencanaan, hasilnya apa, bagaimana pelaksanaanya, apa yang telah dicapai, sampai pada refleksi. Oleh karenanya pembicaraan pada bagian ini dimulai dengan apa yang dilakukan pada  bagian perencanaan, apa yang dilakukan pada pelaksanaan, apa yang dilakukan pada pengamatan dan apa yang dilakukan pada refleksi, seperti terlihat berikut ini.

  1. Rencana Tindakan I

Hasil yang didapat dari kegiatan perencanaan meliputi:

a.       Menyusun perencanaan penelitian lengkap dengan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) yang akan dilaksanakan dengan metode Problem Based Learning sepeti terlihat pada lampiran 3. Berdasar hasil awal kemampuan siswa kelas….. yang tertera pada latar belakang, peneliti merencanakan kegiatan yang lebih intensif seperti berkonsultasi dengan teman-teman guru dan kepala sekolah tentang persiapan pelaksanaan pembelajaran menggunakan metode Problem Based Learning.

b.      Menentukan waktu pelaksanaan, yang menyangkut hari, tanggal, sesuai dengan jadwal penelitian yaitu pada minggu ke….. bulan….

c.       Meminta teman-teman guru bidang studi sejenis dan kepala sekolah sebagai mitra kesejawatan dalam pelaksanaan  pembelajaran Problem Based Learning yang sudah direncanakan. Hasilnya adalah kesiapan teman-teman guru untuk ikut melaksanakan supervisi kunjungan kelas dalam mengamati kekurangan yang ada.

d.      Menyusun format pengecekan yang berhubungan dengan pembelajaran Problem Based Learning.

e.       Teman guru yang diminta mengamati pembelajaran diupayakan pembekalan tentang model pembelajaran ini dengan:

a)      Supervisor harus sudah mantap dan mengetahui metode pembelajaran yang menggunakan Problem Based Learning dan kehadirannya di kelas bukan mencari kesalahan, tetapi untuk  kepentingan bersama yaitu memperbaiki pembelajaran.

b)      Supervisor telah diberitahu untuk lebih memahami tentang prinsip-prinsip supervisi sehingga tidak lagi cenderung instruktif dan lebih bersahabat dengan prinsip kesejawatan.

c)      Dalam pelaksanaan supervisi, supervisor diharapkan menunjukkan rasa kesejawatan yang akrab dan mau menilai kebenaran yang ada.

f.       Peneliti memberikan penjelasan pada siswa bahwa kehadiran supervisor ke kelas bukan untuk mencari kesalahan atau kelemahan guru dalam pembelajaran, tapi untuk meningkatkan kemampuan siswa menguasai ilmu.

g.      Merencanakan bahan pelajaran dan merumuskan tujuan. Menentukan bahan pelajaran, dengan cara menyesuaikan dengan silabus yang berlaku dan penjabarannya dengan cukup baik.

h.      Memilih dan mengorganisaasikan materi, media, dan sumber belajar.

Pada siklus pertama ini, peneliti mengorganisasikan materi pembelajaran dengan baik. Urutan penyampaiannya dari yang mudah ke yang sulit, cakupan materi cukup bermakna bagi siswa, menentukan alat bantu mengajar. Sedangkan dalam penentuan sumber belajar sudah disesuaikan dengan tujuan, materi pembelajaran dan tingkat perkembangan peserta didik.

i.        Merancang skenario pembelajaran.

Skenario pembelajaran disesuikan dengan  tujuan,  materi  dan  tingkat  perkembangan siswa, diupayakan variasi dalam penyampaian. Susunan dan langkah-langkah pembelajaran sudah disesuaikan dengan tujuan, materi, tingkat perkembangan siswa, waktu yang tersedia, sistematiknya adalah menaruh siswa dalam posisi sentral, mengikuti perubahan strategi pendidikan dari pengajaran ke pembelajaran sesuai Permen Diknas No. 41 Tahun 2007 dan menyesuaikan dengan model pembelajaran Problem Based Learning.

2.      Pelaksanaan Tindakan I

a.       Pengelolaan Kelas

Mengelola kelas dengan persiapan yang matang, mengajar materi dengan benar sesuai model pembelajaran Problem Based Learning.

b.      Alat Penilaian

Pembahasan dan jenis penilaian, terlampir di RPP berikut format penilaian.

c.       Penampilan

Penampilan secara umum,  peneliti berpakaian rapi, menggunakan bahasa yang santun, menuntun siswa semaksimal mungkin dengan penggunaan metode Problem Based Learning, diawali dengan penyampaian tujuan, berlanjut dengan penyampaian masalah, mengajari siswa-siswa dalam belajar berhubungan dengan masalah tersebut, pemberian cara-cara pemecahan masalah, mengupayakan kemampuan membuat laporan. Setelah pembelajaran selesai dilakukan, dilanjutkan dengan mengadakan pertemuan dengan guru yang mengawasi proses pembelajaran untuk mendiskusikan hasil  pengamatan yang dilakukan.

d.      Dari diskusi dengan guru, terungkap bahwa:

1.      Pembelajaran yang dilakukan belum maksimal, karena peneliti baru pertamakali mencoba metode ini.

2.      Siswa-siswa memang belum aktif menerima pelajaran dan memberi tanggapan, ini sesuai dengan tujuan metode Problem Based Learning.

3.      Peneliti mengusulkan agar guru yang mengamati mau kembali dan bersedia mengamati kembali pada kesempatan di siklus II.

4.      Untuk sementara, peneliti belum yakin bahwa pelaksanaan supervisi kunjungan kelas akan membantu meningkatkan kemampuan siswa, tetapi menurut pemikiran pengamat, cara yang dilakukan peneliti cukup mampu mendorong meningkatkan prestasi belajar.

5.      Penyampaian pengamat pada peneliti dapat disampaikan sebagai berikut:

Perlu pengelolaan ruangan, waktu, dan fasilitas belajar yang lebih baik.

Dalam mengelola ruang kelas, waktu serta fasilitas belajar, dapat dipaparkan sebagai berikut:

1)     Peneliti menyediakan alat bantu/media pembelajaran.

2)     Peneliti kurang memperhatikan kebersihan papan tulis, kebersihan seragam siswa, dalam hal lain yang berguna untuk menumbuhkan motivasi belajar dan disiplin siswa.

3)     Peneliti belum begitu baik dalam waktu. Memulai pelajaran tidak tepat waktu akibat hal-hal tertentu.

3.      Observasi/Pengamatan

Pengamatan yang dilakukan sangat bervariasi. Penulis menggunakan guru teman sejawat untuk ikut masuk kelas mengamati kebenaran pelaksanaan pembelajaran yang menggunakan model Problem Based Learning. Data yang diperoleh dari kegiatan observasi yang dilakukan guru akan sangat berpengaruh terhadap kemajuan peneliti dalam menerapkan model pembelajaran Problem Based Learning mengingat semua kelemahan peneliti akan teramati dengan baik. Apabila peulis hubungkan dengan yang disebut variabel penyela atau variabel intervening dimana ada hal-hal tertentu yang bisa mempengaruhi hubungan antara variabel bebas yaitu model pembelajaran Problem Based Learning dengan variabel terikat yaitu pretasi belajar. Hal tertentu yang dibicarakan adalah kebenaran pelaksanaan model pembelajaran Problem Based Learning. Apabila pelaksanaannya tidak benar sudah tentu akan berpengaruh terhadap hasil belajar.

Pengamatan oleh teman sejawat seperti yang dipaparkan di atas sangat perlu dilakukan demi keberhasilan peningkatan mutu dan kebenaran pembelajaran model Problem Based Learning. Hal tersebut penulis lakukan demi adanya upaya inovasi agar tulisan ilmiah ini lebih berdaya guna dan berhasil guna.

Selain pengmatan yang dilakukan oleh teman sejawat, upaya lain yang penulis lakukan adalah menyusun blanko observasi terhadap kebenaran siswa belajar dengan Problem Based Learning, yang diamati adalah tuntutan-tuntutan terhadap kreativitas; penemuan sendiri oleh siswa; penekanan pada kegiatan intelektual; memproses pengalaman belajar menjadi sesuatu yang bermakna dalam kehidupan nyata; membiasakan siswa lebih produktif, analitis, kritis; penggunaan metode, teknik, dan strategi yang memungkinkan siswa mencari dan menemukan jawaban sendiri secara optimal. Selain itu, model ini menuntut kemampuan pemecahan masalah untuk peningkatan kepuasan intelektual, mempertajam proses ingatan untuk penguasan lebih lama, pembelajaran lebih terpusat pada siswa, menghindarkan diri dari belajar dengan hafalan, menumbuhkan kemampuan mengasimilasi dan mengakomodasi informasi. Langkah-langkah pembelajarannya adalah: a) merumuskan masalah, bisa berupa pertanyaan untuk dapat melakukan penelitian, b) mencek apakah hasil pengamatan siswa dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan, c) pengumpulan data/informasi, d) mengnalisis informasi, e) membuat simpulan-simpulan berdasar hasil analisis informasi dan mengevaluasi semua yang telah dilakukan. Dari semua pengertian di atas, penulis sudah menyiapkan instrumen untuk ketepatan pelaksanaan yang dibawa oleh guru dan siswa yang mengamati proses pembelajaran.

4.      Refleksi Siklus I

Sebelum memulai refleksi, ada baiknya melihat pendapat pakar pendidikan tentang apa yang dimaksud dengan refleksi. Pendapat ini akan merupakan panduan terhadap cara atau hal-hal yang perlu dalam menulis refleksi. Refleksi merupakan kajian secara menyeluruh tindakan yang telah dilakukan berdasarkan data yang telah terkumpul, kemudian dilakukan evaluasi guna menyempurnakan tindakan. Refleksi menyangkut analisis, sintesis, dan penilaian terhadap hasil pengamatan atas tindakan yang dilakukan (Hopkin, 1993 dalam Suharsimi Arikunto, Suhardjono, Supardi, 2006: 80).

1)      Analisis kuantitatif prestasi belajar siswa siklus I

 =============================== DAN SETRUSNYA….

 

 

 

 

 

 

C.    Kisi-kisi dan Instrumen Penelitian

Sebelum sampai pada instrumen penelitian, yang mesti dibuat terlebih dahulu adalah kisi-kisi instrumen penelitian. Kisi-kisi ini sangat penting dibuat untuk memberi arah terhadap hal-hal yang dipertanyakan dalam instrumen penelitian. Tujuan penyusunan kisi-kisi instrumen adalah merencanakan setepat mungkin ruang lingkup dan tekanan tes dan bagian-bagiannya, sehingga perumusan tersebut dapat menjadi petunjuk yang efektif bagi penyusunan tes, terlebih-lebih bagi penulis soal (Suryabrata, 2000: 60-61).

1.   a.  Kisi-kisi Instrumen Prestasi Belajar

Tabel 04. Kisi-kisi Tes Prestasi Belajar

PRESENTASI PTK-PTS

Disampaikan pada :

Kegiatan Bimbingan  Karya  Tulis Ilmiah

Tingkat  SD/SMP / SMA/SMK /MGMP/MKKS  Kabupaten Dompu

Propinsi Nusa Tenggara Barat

Oleh

Drs. Suaidin, Pembina Tk. I, IV/B Pengawas Madya

KASUS

1.Pak Burhan seorang guru, telah sering kali mengikuti bintek, workshop, seminar, dan berbagai pelatihan lainnya tentang PTK dari berbagai ahli.  Sudah banyak teori dan contoh-contoh PTK yang dibacanya. Tetapi sampai saat ini, belum satu pun PTK berhasil ditulisnya karena alasan sibuk dengan tugas-tugas di sekolah dan di masyarakat.
2.Berbeda dengan Bu Aminah,  seorang guru hanya sesekali saja mengikuti pelatihan PTK. Kemauan dan motivasi yang kuat untuk memperbaiki proses pembelajaran di kelas membuatnya melakukan berbagai inovasi dan pembaharuan dalam pembelajaran. Apa yang dilakukan tersebut ditulis dalam bentuk karya ilmiah.
Apa yang bapak/ibu ketahui tentang PTK?

Penelitian = menyelidiki/mencermati

Tindakan   = pemberian perlakuan

Kelas          = Sekelompok siswa yang mengalami masalah yang sama dalam pembelajaran

Jadi PTK adalah kegiatan guru menyelidiki/mencermati  tindakan yang diberikan terhadap siswa yang mengalami masalah yang sama dalam pembelajaran

ÒPenelitian Tindakan Kelas (PTK) adalah laporan kegiatan nyata guru dalam memperbaiki berbagai persoalan nyata dan praktis dalam peningkatan mutu pembelajaran di kelas serta dialami langsung dalam interaksi antara guru dengan siswa yang sedang belajar.
mengapa PTK?

Guru perlu memperbaiki berbagai persoalan nyata dan praktis dalam peningkatan  mutu pembelajaran di kelas  serta dialami langsung dalam interaksi antara gurudengan siswa yang sedang belajar karena kebutuhan siswa selalu berubah

Seorang  GURU PROFESIONAL

Memiliki tugas:

1.Menrencanakan pembelajaran
2.Melaksanakan pembelajaran
3.Menilai kemajuan siswa.
4.Mengevaluasi hasil penilaian
5.Merefleksi hasil evaluasi
6.Melakukan perbaikan berkelanjutan
Skenario pembelajaran  Penyusunan Laporan PTK

Kegiatan 1: 10 menit

Pendahuluan

Penjelasan tentang: Topik yang akan dibahas, kompetensi, indikator pencapaian kompetensi, kegiatan belajar yang akan dilakukan.

Kegiatan 2: 60 menit

Tanya jawab dan diskusi contoh laporan PTK

1)Tanya jawab tentang contoh laporan PTK.
2)Diskusi tentang bagian-bagian laporan PTK.
3)Menyusun rangkuman tentang bagian-bagian laporan PTK.

Kegiatan 3: 120 menit

Latihan menyusun laporan PTK

Setiap peserta berlatih menulis draf laporan PTK.

Kegiatan 4: 10 menit

Penutup

Terstruktur

Melanjutkan latihan menyusun laporan PTK.

Mandiri

Mempelajari buku-buku sumber yang menjelaskan tentang penulisan proposal dan laporan PTK.

TUJUAN :

Peserta  diharapkan  dapat :

•Mengidentifikasi bagian-bagian dari laporan ptk
•Menyusun laporan ptk secara lengkap, jelas dan benar

Setelah mengikuti sesi ini, diharapkan peserta mampu mengimplementasikan keterampilan:

Melaksanakan observasi.
Merumuskan masalah atau hipotesis.
Melaksanakan penelitian tindakan.
Mengevaluasi tindakan.
Merumuskan dan mempresentasikan laporan.

Standar Kompetensi

•Memahami teknik penyusunan laporan PTK

Kompetensi dasar ;

•Mengidentifikasi bagian-bagian dari laporan ptk
•Menyusun laporan ptk secara lengkap, jelas dan benar
TIGA KEG UTAMA  PTK

1. MEYUSUN USULAN /PROPOSAL

2. MELAKSANAKAN PTK

3. MENULIS LAPORAN HASIL PTK sebagai KTI

Kumpulan Proposal PTK

BAB I

PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang Masalah

Pembelajaran IPS Ekonomi di SMA difokuskan pada fenomena empirik permasalahan ekonomi yang terjadi masyarakat. Materi ekonomi ini sangat komplek karena terkait dengan perkembangan ekonomi yang senantiasa terus menerus berkembang sejalan perkembangan dunia yang mengglobal, mulai dari sistem ekonomi mikro sampai dengan ekonomi makro (perdagangan internasional). Melalui mata pelajaran IPS  Ekonomi , peserta didik diarahkan untuk dapat menjadi warga negara Indonesia yang demokratis, dan bertanggung jawab, serta warga dunia yang cinta damai.

Mata pelajaran Ekonomi SMA/MA bertujuan agar peserta didik memiliki kemampuan sebagai berikut.

1. Memahami sejumlah konsep ekonomi untuk mengkaitkan peristiwa dan masalah ekonomi dengan kehidupan sehari-hari, terutama yang terjadi dilingkungan individu, rumah tangga, masyarakat, dan negara

2. Menampilkan sikap ingin tahu terhadap sejumlah konsep ekonomi yang diperlukan untuk mendalami ilmu ekonomi

3. Membentuk sikap bijak, rasional dan bertanggungjawab dengan memiliki pengetahuan dan keterampilan ilmu ekonomi, manajemen, dan akuntansi yang

bermanfaat bagi diri sendiri, rumah tangga, masyarakat, dan negara

4. Membuat keputusan yang bertanggungjawab mengenai nilai-nilai sosial ekonomi dalam masyarakat yang majemuk, baik dalam skala nasional maupun internasional.

SMAN 1 Woja merupakan salah satu SMA di Kota Dompu yang di didirikan tahun 1985 ,namun prestasi belajar siswa khususnya ekonomi tidak mengalami perubahan yang berarti . Dilihat dari hasil belajar siswa, hasil analisis Ulangan Harian untuk 13 KD ( Kompetensi Dasar) dari 3 SK ( Standar Kompetensi ) mata pelajaran ekonomi kelas X , pada semester ganjil tahun pelajaran 2007/2008 nilai rata-rata  diperoleh siswa 55,40 dan rata-rata nilai kelas untuk UTS adalah 59,2, dan rata-rata nilai raport kelas sebesar 61,25 sehingga masih ada siswa yang nilai raport di semester ganjil dibawah kriteria ketuntasan minimal (KKM) yang ditentukan .Padahal KKM yang ditentukan untuk mata pelajaran Ekonomi kels X sama dengan  70.  Deminikan pula berdasarkan rekap nilai rata-rata Ujian Nasional th 2006/2007  menurut mata pelajaran, ternyata rata-rata nilai pelajaran ekonomi  hanya 4,5 dengan kualifikasi C

Dari hasil belajar di atas dapat disimpulkan bahwa hasil belajar siswa untuk ulangan harian masuk dalam kategori rendah, untuk hasil belajar UTS masuk dalam kategori sedang dan nilai raport semester ganjil masuk dalam kategori sedang.  Hasil tersebut menunjukkan hasil yang memprihatinkan, dan mungkin dipengaruhi oleh beberapa faktor, di antaranya adalah perencaaan pengajaran  yang kurang, penggunaan metode yang tidak tepat dapat menimbulkan kebosanan, dan kurang kondusifnya sistem pembelajaran, sehingga penyerapan pelajaran kurang. Hal ini merupakan salah satu masalah yang dihadapi dalam pembelajaran IPS , khususnya  mata pelajaran ekonomi di SMAN 1 Woja.

.

Setelah direnungi dan ditelusuri ke belakang , munculnya permasalahan di atas disebabkan oleh beberapa hal, yaitu (1) aktivitas pembelajaran masih didominasi guru, siswa banyak mencatat; (2) metode pembelajaran yang digunakan guru tidak variatif, cenderung ceramah (ekspositori); (3) penggunaan media pembelajaran kurang optimal; (4) hasil belajar siswa kurang mengembirakan. Ini karena Kondisi di SMAN 1 Woja  menunjukkan bahwa hasil belajar ekonomi kurang menggembirakan, meskipun ada anggapan siswa bahwa mata pelajaran ekonomi itu relatig mudah dan bersifat hafalan. Hal ini pasti menjadi bahan renungan para guru IPS , ekonomi khususnya. Namun dalam kenyataannya dapat dilihat bahwa keaktifan dan hasil belajar ekonomi  yang dicapai siswa SMAN 1 Woja masih rendah.

Berkaitan dengan masalah tersebut, factor penyebab lainya  pada pembelajaran ekonomi ditemukan juga keragaman masalah sebagai berikut: 1) keaktifan siswa dalam mengikuti pembelajaran masih belum nampak, 2) siswa jarang mengajukan pertanyaan, walaupun guru sering meminta agar siswa bertanya jika ada hal-hal yang belum jelas, atau kurang paham, 3) keaktifan dalam mengerjakan soal-soal latihan pada proses pembelajaran juga masih kurang, 4) kurangnya keberanian siswa untuk mengemukakan gagasan/pendapat dalam pembelajaran, dan 5) kurangnya keberanian siswa dalam mengerjakan soal di depan kelas. Hal ini menggambarkan efektifitas belajar mengajar dalam kelas masih rendah.

Kondisi atau model pembelajaran seperti di atas dapat mengakibatkan (1) siswa kurang kreatif karena guru terlalu dominan; (2) semangat belajar siswa rendah karena pembelajaran monoton sehingga aktivitas belajar siswa menurun. Menurunnya akitivitas siswa dapat berdampak terhadap rendahnya pemahaman siswa terhadap materi pembelajaran yang diberikan guru; (3) siswa jenuh dan bosan dengan serta pada akhirnya tidak menyukai mata pelajaran ekonomi ; dan (3) anak-anak menjadi rentan tidak lulus mata pelajaran ekonomi.

Untuk menumbuhkan sikap aktif dari siswa tidaklah mudah. Fakta yang terjadi di SMAN 1 Woja selama ini  guru dianggap sumber belajar yang paling benar. Proses pembelajaran yang terjadi memposisikan siswa sebagai pendengar ceramah guru. Akibatnya proses belajar mengajar cenderung membosankan dan menjadikan siswa malas belajar. Sikap anak didik yang pasif tersebut ternyata tidak hanya terjadi pada mata pelajaran tertentu saja tetapi pada hampir semua mata pelajaran termasuk pelajaran ekonomi .

Untuk mengatasi kesulitan pemahaman tersebut, maka perlu ada upaya-upaya guru dalam mengelola pembelajaran ekonomi sehingga aktifitas dan prestasi belajar peserta didik dapat ditingkatkan. Untuk mewujudkan maka siswa harus dilibatkan secara aktif dalam proses belajar. Keberhasilan mencapai tujuan tersebut tidak lepas dari peran guru pembimbing. Di samping itu, pembelajaran Ekonomi juga memperhatikan tingkat perkembangan intelektual dan mental siswa, terkait dengan cara mengajarkannya. Selain menguasai konsep-konsep ekonomi dan metode mengajar, guru Ekonomi juga harus menguasai teori-teori belajar agar apa yang disampaikan dapat dipahami dengan mudah oleh siswa. Sebelum memasuki pelajaran Ekonomi, siswa sudah memiliki pengetahuan dan pengalaman yang berhubungan dengan pengajaran Ekonomi itu sendiri.

Berdasarkan kenyataan di atas, perlu dilakukan upaya meningkatkan hasil belajar siswa pada mata pelajaran Ekonomi. Salah satu diantaranya adalah melalui pendekatan/metode/strategi pembelajaran yang sesuai. Terkait dengan hal tersebut dapat diterapkan pembelajaran inkuiri. Melalui penelitian ini ingin mnegetahui apakah  pembelajaran inkuiri ini dapat meningkatkan aktifitas dan hasil belajar siswa dalam pembelajaran ekonomi

B.Perumusan Masalah dan Alternatif Pemecahan Masalah

  1. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah yang dikemukakan di atas, penelitian ini difokuskan untuk menjawab masalah:

a). Bagaimanakah meningkatkan aktifitas proses  belajar ekonomi , melalui       pembelajaran latihan inkuiri?”

b). Apakah melalui penerapan Pembelajaran latihan inkuiri dapat meningkatkan hasil  belajar siswa?.

2.  Pemecahan Masalah

Pembelajaran latihan inkuiri  dalam hal ini ditetapkan sebagi alternatif pemecahan masalah terkait dengan rendahnya hasil belajar siswa. Pembelajaran latihan inkuiri  merupakan rangkaian kegiatan pembelajaran yang menekankan pada proses berpikir kritis dan analitis untuk mencari dan menemukan sendiri jawaban dari suatu masalah yang dipertanyakan.

Masalah tentang kurangnya keaktifan siswa serta rendahnya hasil belajar siswa kelas X-C di SMA Negeri 1 Woja akan dipecahkan dengan menerapkan model pembelajaran latihan  inkuiri, yaitu model pembelajaran yang terdiri dari 5 fase pembelajaran, sebagai berikut:  (1) Orientasi, membina iklim pembelajaran yang merangsang siswa belajar dengan mengajak siswa berpikir memecahkan suatu masalah melalui tanya jawab agar tercipta suasana dialogis, (2) Merumuskan masalah, membawa siswa pada suatu permasalahan menantang serta mengandung konsep yang jelas dan menarik, (3) Mengajukan hipotesis, mengarahkan siswa mengemukakan hipotesis atas masalah yang diajukan, (4) Pengumpulkan data, mengarahkan siswa untuk mendapatkan landasan dalam menarik kesimpulan, (5) Pengujian hipotesis, mengarahkan siswa menentukan jawaban yang dianggap benar sesuai data yang diperoleh; serta (6) Menarik kesimpulan, mengarahkan siswa mendeskripsikan temuan yang diperoleh berdasarkan uji hipotesis. Ketiga, implementasi pembelajaran inkuiri sosial dapat dijadikan sebagai alternatif untuk meningkatkan hasil belajar siswa pada mata pelajaran matematika

C.Tujuan dan Manfaat Penelitian

1.      Tujuan Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan untuk meengetahui peningkatan aktifias dan  hasil belajar siswa pada mata pelajaran ekonomi melalui penerapan model pembelajaran latihan  inkuiry di kelas X-C  SMAN 1 Woja Kabupaten Dompu 2.      Manfaat Penelitian

    1. Bagi Guru : Hasil penelitian ini dapat dimanfaatkan dalam upaya mengembangkan kemampuan guru menyampaikan materi pelajaran ekonomi
    2. Bagi Sekolah : Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi masukan bagi upaya peningkatan mutu pembelajaran di sekolah.
    3. Bagi Siswa : Harapan lainnya, hasil penelitian dapat memberikan gambaran mengenai upaya peningkatan hasil belajar siswa dalam pembelajaran ekonomi  melalui model  pembelajaran inkuiri sehingga dapat dimanfaatkan sebagai bahan kajian  dalam memperbaiki mutu pembelajaran ses
      1. kebutuhan.

BAB II

LANDASAN TEORI

 

  1. Aktivitas Belajar

 

Dalam sistem pendidikan nasional rumusan tujuan pendidikan baik tujuan kurikuler ma pun instruksional menggunakan klasifikasi hasil belajar yang dikembangkan Benyamin S. Bloom. Secara garis besar Bloom membagi hasil belajar dalam tiga ranah atau takson yakin; ranah kognitif, afektif dan psikomotor, sehingga kemudian tiga ranah ini disebut Taksonomi Bloom.

Penyelenggara pendidikan menekankan pada proses belajar dalam menjalankan aktivitasnya. Reber dalam Syah (2003: 111) mendefinisikan proses belajar sebagai tahapan-tahapan perubahan perilaku kognitif, afektif dan psikomotorik. Makna utama yang terkandung dalam belajar adalah terjadinya perubahan perilaku.  Proses belajar adalah kegiatan yang dialami secara langsung oleh peserta didik pada saat mengikuti pendidikan. Belajar sebagai suatu proses memiliki sejumlah unsur tersendiri yang mencakup tujuan belajar yang ingin dicapai, motivasi, hambatan, stimulus dari lingkungan, persepsi, dan respon dari peserta didik (Sudjana, 2000: 103). Unsur-unsur tersebut dikelola oleh pendidik sehingga tercapainya tujuan pembelajaran.

Aktivitas memiliki pengertian sebagai kegiatan yang dilakukan seseorang. Aktivitas berasal dari bahasa Inggris Activity diartikan sebagai kegiatan. Sedangkan dalama Kamus Besar Bahasa Indonesia, aktivitas adalah kerja atau salah satu kegiatan kerja yang dilaksanakan  (Depdikbud, 1989: 17).
Pada kenyataan di sekolah-sekolah sering guru yang aktif  sehingga murid tidak diberi kesempatan untulk aktif. Betapa pentingnya aktivitas murid dalam proses belajar mengajar sehingga John Dewey, sebagai tokoh pendidikan, mengemukakan prinsip ini melalui metode proyeknya dengan semboyan learning by doing. Bahkan jauh sebelumnya para tokoh pendidikan lainnya seperti Rousseau, Pestalozi, Frobel, dan Montessory telah mendukung prinsip aktivitas dalam pengajaran ini.

Menurut Usman (1995: 22) aktivitas belajar murid yang dimaksud disini adalah aktivitas jasmaniah maupun aktivitas mental. Aktivitas belajar murid dapat digolongkan ke dalam beberapa hal. (1)    Aktivitas visual (visual activities) seperti membaca, menulis, melakukan eksperimen, dan demontrasi;
(2)    Aktivitas lisan (oral activities) seperti bercerita, membaca sajak,  tanya jawab, diskusi dan menyanyi;  (3)    Aktivitas mendengarkan (listening activities) seperti mendengarkan penjelasan guru, ceramah, pengarahan; (4)    Aktivitas gerak (motor activities) seperti senam, atletik, menari, melukis; dan
(5)    Aktivitas menulis (writing activities) seperti mengarang, membuat makalah, membuat surat..

Sedangkan Mengajar adalah membimbing kegiatan belajar siswa sehingga ia mau belajar. “ Teaching is the guidance of learning activities, teaching is for purfose of aiding the pupil learn,” demikian pendapat William Burton. Dengan demikian, aktivitas sangat diperlukan dalam kegiatan belajar mengajar sehingga muridlah yang seharusnya terlibat aktif, sebab murid sebagai subjek didik adalah yang merencanakan, dania sendiri yang melaksanakan belajar mengajar (Usman, 1995: 21).

Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa aktivitas belajar mertupakan rangkaian kegiatan yang dilakukan untuk mencapai perubahan tingkah laku. Aktivitas belajar siswa merupakan kegiatan yang sangat penting dalam belajar karena tanpa aktivitas belajar tidak mungkin pembealajaran yang dilaksanakan dapat berlangsung dengan baik.

  1. Hasil Belajar

Belajar merupakan kata kunci dalam setiap usaha pendidikan, tanpa  belajar tidak pernah ada pendidikan. Belajar hampir selalu mendapat perhatian luas dalam berbagai disiplin ilmu yang berkaitan dengan pendidikan. Belajar menurut Bloom (1976) berkenaan dengan interaksi antara individu dengan kondisi eksternal dalam lingkungan dimana individu bereaksi. Wherington dalam Sudjana (1998: 5) menjelaskan bahwa belajar adalah perubahan tingkah laku yang meliputi keterampilan, kebiasaan, sikap, pengetahuan, pemahaman, dan apresiasi.

Wittig sebagaimana dikemukakan Syah (2003) menjelaskan bahwa proses belajar berlangsung dalam tiga tahapan yaitu: (1) Acquisition (tahap perolehan informasi), pada tahap ini terjadi penerimaan informasi sebagai stimulus dan pemberian respon sehingga diperoleh pemahaman atau perilaku baru. Tahap ini merupakan tahapan yang paling mendasar, bila pada tahap ini kesulitan tidak dibantu maka akan mengalami kesulitan untuk menghadapi tahap selanjutnya; (2) Storage (penyimpanan informasi), pemahaman dan perilaku baru yang diterima secara otomatis akan disimpan dalam memorinya yang disebut shortterm atau longterm memori; (3) Retrieval (mendapatkan kembali informasi), apabila seseorang mendapat pertanyaan tentang materi yang telah diperolehnya maka akan berusaha mengaktifkan kembali fungsi-fungsi sistem memori untuk menjawab pertanyaan atau masalah yang dihadapi. Tahap retrival merupakan peristiwa mental dalam mengungkapkan kembali informasi, pemahaman, dan pengalaman yang telah diperolehnya.

Setelah melalui proses belajar akan diperoleh hasil belajar yang ditunjukkan oleh adanya perubahan tingkah laku peserta didik. Menurut Gagne (1989), hasil belajar dapat dikelompokkan ke dalam lima kategori yaitu: keterampilan intelektual (intellectual skills). strategi-strategi kognitif (cognitive strategies), informasi verbal (verbal information), keterampilan motorik (motor skills), serta  sikap (attitudes).

Menurut Bloom (1976), terdapat tiga aspek (ranah) hasil belajar yakni kognitif, afektif, dan psikomotor. Hasil belajar pada ranah kognitif berkaitan dengan perilaku berpikir, mengetahui, dan memecahkan masalah. Ada enam tingkatan aspek kognitif yang bergerak mulai dari yang sederhana sampai yang kompleks yaitu: (1) pengetahuan (knowledge), yaitu kemampuan mengingat materi pelajaran yang sudah dipelajari sebelumnya; (2) pemahaman (comprehension, understanding), seperti menafsirkan, menjelaskan, atau meringkas; (3) penerapan (application), yaitu kemampuan menafsirkan atau menggunakan materi pelajaran yang sudah dipelajari ke dalam situasi baru atau kongkret; (4) analisis (analysis), yaitu kemampuan menguraikan atau menjabarkan sesuatu ke dalam komponen-komponen atau bagian-bagian sehingga susunannya dapat dimengerti; (5) sintesis (synthesis), yaitu kemampuan menghimpun bagian-bagian ke dalam suatu keseluruhan; (6) evaluasi (evaluation), yaitu kemampuan menggunakan pengetahuan untuk membuat penilaian terhadap sesuatu berdasarkan kriteria tertentu.

Hasil belajar ranah afektif berkaitan dengan sikap, nilai-nilai, interes, apresiasi, dan penyesuaian perasaan sosial. Aspek ini mempunyai lima tingkatan dari yang sederhana sampai ke tingkat yang lebih kompleks yaitu: (1) penerimaan (receiving), merupakan kepekaan menerima rangsangan (stimulus) baik berupa situasi maupun gejala; (2) penanggapan (responding), berkaitan dengan reaksi yang diberikan seseorang terhadap stimulus yang datang; (3) penilaian (valuing), berkaitan dengan nilai dan kepercayaan terhadap gejala atau stimulus yang datang; (4) organisasi (organization), yaitu penerimaan terhadap berbagai nilai yang berbeda berdasarkan suatu sistem nilai tertentu yang lebih tinggi; (5) karakteristik nilai (characterization by a value complex), merupakan keterpaduan semua sistem nilai yang telah dimiliki sesorang, yang mempengaruhi pola kepribadian dan tingkah lakunya.

Hasil belajar ranah psikomotor berkaitan dengan keterampilan yang bersifat manual dan motorik. Aspek ini meliputi (1) persepsi (perception), berkaitan dengan penggunaan indra dalam melakukan kegiatan; (2) kesiapan melakukan pekerjaan (set), berkaitan dengan kesiapan melakukan suatu kegiatan baik secara mental, fisik, maupun emosional; (3) mekanisme (mechanism), berkaitan dengan penampilan respons yang sudah dipelajari; (4) respons terbimbing (guided respons), yaitu mengikuti atau mengulangi perbuatan yang diperintahkan oleh orang lain; (5) kemahiran (complex overt respons), berkaitan dengan gerakan motorik yang terampil; (6) adaptasi (adaptation), berkaitan dengan keterampilan yang sudah berkembang di dalam diri individu sehingga yang bersangkutan mampu memodifikasi pola gerakannya; serta (7) keaslian (origination) yang  merupakan kemampuan untuk menciptakan pola gerakan baru sesuai dengan situasi yang dihadapi.

Secara psikologis belajar merupakan suatu proses perubahan yaitu perubahan tingkah laku sebagai hasil interaksi dengan lingkungannya dalam memenuhi kebutuhan hidupnya. Perubahan-perubahan tersebut akan nyata dalam seluruh aspek tingkah laku. Slameto (2003: 2), menyatakan bahwa “Belajar adalah suatu proses usaha yang dilakukan seseorang untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya”. Kata kunci terjadinya belajar adalah adanya perubahan tingkah laku sebagai akibat dari interaksi dengan lingkungan. Perubahan tingkah laku dalam belajar memiliki ciri-ciri sebagai berikut: (1) Terjadi secara sadar, seseorang yang belajar akan menyadari terjadinya perubahan itu; (2) Bersifat kontinu dan fungsional, perubahan yang terjadi dalam diri seseorang berlanmgsung secara berkesinambungan dan tidak statis. Satu perubahan terjadi akan menyebankan perubahan berikutnya dan akan berguna bagi kehidupan atau proses belajar berikutnya; (3) Bersifat positif, perubahan-perubahan itu senantiasa bertambah dan tertuju untuk memperoleh sesuatu yang lebih baik dari sebelumnya; (4) Bersifat aktif. bahwa prubahan itu tidak terjadi dengan sendirinya melainkan karena usaha individu itu sendiri; (5) Bertujuan dan terarah, perubahan tingkah laku itu terjadi karena adanya tujuan yang akan dicapai; serta (6) Mencakup seluruh aspek tingkah laku, perubahan dalam belajar akan menyeluruh baik dalam sikap, pengetahuan dan sikap.

Belajar merupakan proses untuk memperoleh hasil belajar.  Belajar juga merupakan perilaku aktif dalam menghadapi lingkungan untuk mendapatkan pengalaman, pengetahuan, pemahaman, dan makna.  Menurut Sudjana (1995: 16), hasil belajar adalah proses penentuan tingkat kecakapan penguasaan belajar seseorang dengan cara membandingkannya dengan norma tertentu dalam sistem penilaian yang disepakati.  Hasil belajar dapat diwujudkan dengan adanya perubahan tingkah laku seseorang dalam ranah kognitif, afektif dan psikomotorik yang ditetapkan sebagai tujuan pembelajaran.

 

  1.  Pembelajaran Inkuiri

Pembelajaran inkuiri didefinisikan oleh Piaget sebagai pembelajaran yang mempersiapkan situasi bagi anak untuk melakukan eksperimen sendiri; dalam arti luas ingin melihat apa yang terjadi, ingin melalukan sesuatu, ingin menggunakan simbul-simbul dan mencari jawaban atas pertanyaan sendiri, menghubungkan penemuan yang satu dengan penemuan yang lain, membandingkan apa yang ditemukan dengan yang ditemukan orang lain (Wartono, 1996: 29). Penjelasan tentang inkuiri Menurut Barth dan Shermis (1978: 99) adalah sebagai berikut “Inquiry as a method means that a teacher and his student will identify a problem that is of considerable concern to them –and to our society- and that relevant facts and values will be examined in the light of criteria” .

Istilah inkuiri belum lama muncul dalam tulisan-tulisan tentang pendidikan khususnya dalam pembelajaran di Indonesia. Pengertiannya berbeda menurut konteksnya. Sebagai contoh inkuiri misalnya dapat berarti sikap umum terhadap belajar yang berpusat pada anak yang berarti bahwa perlu dikembangkan inkuiri yang bersifat alami pada anak. Pengertian lainnya adalah menggunakan cara inkuiri dari disiplin ilmu pengetahuan sebagai model mengajar. Secara umum yang dimaksud adalah mengembangkan kemampuan siswa untuk memikirkan secara sungguh-sungguh dan terarah dan merefleksikan hakekat sosial kehidupan khususnya kehidupan siswa sendiri dan arah kehidupan masyarakat dalam upaya memecahkan masalah-masalah sosial. Menurut para pengembangnya, fungsi sekolah dalam masyarakat modern adalah untuk berpartisipasi secara aktif dan kreatif dalam menyusun kembali budaya masyarakat. Untuk itu mereka mengkaji tiga ciri-ciri esensial kelas yang reflektif yaitu

1)      Model inkuiri tidak dapat digunakan dalam semua jenis kelas. Model inkuiri memerlukan iklim terbuka dalam diskusi dimana para siswa mengemukakan gagasannya tentang masalah tertentu.

2)      Kelas harus menekankan pada jawaban yang bersifat sementara (hypothesis) karena itu diskusi kelas akan berorientasi di sekitar solusi-solusi yang bersifat hipotetik. Pengetahuan digambarkan sebagai hipotesis yang secara terus menerus diuji dan diuji kembali siswa dan guru mengumpulkan data dari sumber yang berbeda melakukan analisis, merevisi pengetahuan mereka dan mencoba kembali.

3)      Kelas yang reflektif adalah menggunakan fakta-fakta sebagai bukti. Kelas dianggap sebagai tempat membentuk dan berlatih untuk melakukan inkuiri ilmiah. Validasi fakta-fakta dalam menggunakan model ini memperoleh tempat yang penting .

Dalam penerapan model ini prinsip reaksi guru adalah membantu siswa dalam ber-inkuiri dan menjelaskan posisi. Juga membantu siswa dalam memperbaiki metode kerjanya dan dalam melaksanakan rencananya. Sistem sosialnya adalah agak terstruktur, dimana guru sebagai pemrakarsa inkuiri dan melihat fase-fase yang dilalui siswa. Sistem yang dapat mendukung adalah keterbukaan dan tersedianya perpustakaan serta sumber-sumber yang kaya informasi di masyarakat merupakan salah satu kebutuhan dalam melaksanakan pembelajaran inkuiri sosial.

Pada awalnya strategi pembelajaran inkuiri banvak diterapkan dalam ilmu-ilmu alam (natural science). Namun demikian, para ahli pendidikan ilmu sosial mengadopsi strategi inkuiri yang kemudian dinamakan inkuiri sosial. Hal ini didasarkan pada asumsi penting­nya pembelajaran IPS pada masyarakat yang semakin cepat berubah, seperti yang dikemukakan Robert A Wilkins (1990:85) yang menyatakan bahwa dalam kehidupan masyarakat yang terus menerus mengalami perubahan, pengajaran IPS harus menekankan kepada pengembangan berpikir. Terjadinya ledakan pengetahuan, menurut­nya, menuntut perubahan pola mengajar dari yang hanya sekadar mengingat fakta yang biasa dilakukan melalui strategi pembelajaran dengan strategi kuliah (lectur)atau dari strategi latihan (drill) dalam pola tradisional, menjadi pengembangan kemampuan berpikir kritis (critical thinkirig). Strategi pembelajaran yang dapat mengembangkan kemampuan berpikir itu adalah strategi inkuiri sosial.

Berdasarkan definisi tersebut di atas, inkuiri sosial dapat diartikan sebagai proses yang ditempuh siswa untuk mendapatkan informasi atau pembahasan atau dapat berupa proses yang ditempuh siswa untuk memecahkan suatu permasalahan. Dalam pembelajaran inkuiri sosial, siswa terlibat secara mental maupun fisik untuk memecahkan permasalahan sosial yang diberikan guru. Dengan demikian siswa akan terbiasa bersikap seperti sikap para ilmuwan IPS yang teliti, tekun/ulet, obyektif/jujur, menghormati orang lain dan kritis.

Rumusan pengertian inkuiri itu tidak hanya terbatas kepada pertanyaan atau pemeriksaan, melainkan meliputi pula proses penelitian, keingintahuan, analisa, sampai kepada penarikan kesimpulan tentang hal-hal yang diperiksa atau diteliti. Dalam rangka pendidikan IPS, wawasan inkuiri ini diarahkan kepada kemampuan anak didik berpikir kritis dan menjadi orang yang secara bebas dapat memecahkan sendiri masalah yang dihadapinya.

Menurut Bruce Joyce (dalam Wahab,2007), inkuiri sosial merupakan strategi pem­belajaran dari kelompok sosiaI (social family) subkelompok konsep masyarakat (concept of society). subkelompok ini didasarkan pada asumsi bahwa strategi pendidikan bertujuan untuk mengembangkan anggota masyarakat ideal yang dapat hidup dan dapat mempertinggi kualitas kehidupan masyarakat. Oleh karena itulah siswa harus di­beri pengalaman yang memadai bagaimana caranya memecahkan persoalan-persoalan yang muncul dimasyarakat. Melalui pengalaman itulah setiap individu akan dapat membangun pengetahuan yang berguna bagi diri dan masyarakatnya.

Lebih dari satu abad istilah inkuiri mengandung makna sebagai salah satu usaha kearah pembaruan pendidikan. Namun demikian, istilah inkuiri sering digunakan dalam bermacam­-macam arti. Ada yang menggunakannya berhubungan dengan dengan strategi mengajar yang berpusat pada siswa, ada juga yang menghubungkan istilah inkuiri dengan mengembangkan kemampuan siswa untuk menemukan dan merefleksikan sifat-sifat kehidupan sosial, terutama untuk melatih siswa agar hidup mandiri dalam masyarakatnya.

Terdapat tiga karakteristik pengembangan strategi inkuiri. Pertama, adanya aspek (masalah) sosial dalam kelas yang dianggap penting dan dapat mendorong terciptanya diskusi kelas. Kedua, adanya rumusan hipotesis sebagai fokus untuk inkuiri. Ketiga, penggunaan sebagai pengujian hipotesis. Dari karakteristik inkuiri seperti yang telah diuraikan di atas, maka tampak inkuiri sosial pada dasarnya tidak berbeda dengan inkuiri pada umumnya. Perbedaannya terletak pada masalah yang dikaji adalah masalah-masalah sosial atau masalah kehidupan masyarakat.

. Melalui pembelajaran inkuiri diharapkan peserta didik mampu mengembangkan keterampilan bepikir kritis, mampu memahami konsep-konsep IPS dengan baik dan sekaligus menanamkan sikap ilmiah kepada siswa. Melalui pelatihan keterampilan berpikir secara teratur dan kontinu yang disesuaikan dengan tingkat perkembangan intelektual anak, akan mampu memberikan bekal kemampuan memadai bagi anak, baik untuk bekal hidupnya kelak dimasyarakat maupun untuk melanjutkan pendidikannya kejenjang yang lebih tinggi.

Tahapan proses dalam pembelajaran inkuiri dapat dilaksanakan dengan mengikuti langkah-langkah sebagai berikut (Sanjaya, 2007: 199):

 

Tahap Orientasi:

Beberapa hal yang dapat dilakukan dalam tahapam orientasi ini adalah:

1)      Menjelaskan topik, tujuan dan hasil belajar yang diharapkan dapat dicapai oleh siswa.

2)      Menjelaskan pokok-pokok kegiatan yang harus dilakukan oleh siswa untuk mencapai tujuan. Pada tahap ini dijelaskan langkah-­langkah inkuiri serta tujuan setiap langkah, mulai dari langkah merumuskan masalah sampai dengan merumuskan kesimpulan.

3)      Menjelaskan pentingnya topik dan kegiatan belajar. Hal ini di­lakukan dalam rangka memberikan motivasi belajar siswa.

 

Tahap Merumuskan Masalah:

Merumuskan masalah merupakan langkah membawa siswa pada suatu persoalan yang mengandung teka-teki. Persoalan yang disaji­kan adalah persoalan yang menantang siswa untuk berpikir  meme­cahkan teka-teki itu. Dikatakan teka-teki dalam rumusan masalah yang ingin dikaji disebabkan masalah itu tentu ada jawabannya, dan siswa didorong untuk mencari jawaban yang tepat. Poses mencarl jawaban itulah yang sangat penting dalam strategi inkuiri, oleh sebab itu melalul proses tersebut siswa akan memperoleh peng­alaman yang sangat berharga sebagal upaya mengembangkan mental melalui proses berpikir. Dengan demikian, teka-teki yang menjadi masalah dalam berinkuiri adalah teka-teki yang mengandung konsep yang jelas yang harus dicari dan ditemukan. Ini penting dalam pembeIajaran Inkuiri. Beberapa hal yang harus diperhatikan dalam me­rumuskan masalah, diantaranya:

1)      Masalah hendaknya dirumuskan sendiri oleh siswa. Siswa akan memiliki motivasi belajar yang tinggi manakala dilibatkan dalam merumuskan masalah yang hendak dikaji. Dengan demikian, guru sebaiknya tidak merumuskan sendiri masalah pembelajar­an, guru hanya memberikan topik yang akan dipelajari, sedang­kan bagaimana rumusan masalah yang sesuai dengan topik yang telah ditentukan sebaiknya diserahkan kepada siswa.

2)      Masalah yang dikaji adaIah masaIah yang mengandung teka-teki yang jawabannya pasti. Artinya, guru perlu mendorong agar siswa dapat merumuskan masalah yang menurut guru jawaban sebenarnya sudah ada, tinggal siswa mencari dan mendapatkan jawabannya secara pasti.

3)      Konsep-konsep dalam masalah adalah konsep-konsep yang sudah diketahui terilebih dahulu oleh siswa. Artinya, sebelum masalah itu dikaji lebih jauh melalui proses inkuiri, guru perlu yakin terlebih dahulu bahwa siswa sudah memiliki pemahaman tentang konsep-konsep yang ada dalam rumusan masalah. Jangan harapkan siswa dapat melakukan tahapan inkuiri se­lanjutnya, manakala ia belum paham konsep-konsep yang ter­kandung dalam rumusan masalah.

 

Tahap Merumuskan Hipotesis:

Hipotesis adalah jawaban sementara dari suatu permasalahan yang sedang dikaji. Sebagai jawaban sementara, hipotesis perlu diuji kebenarannya. Kemampuan atau potensi individu untuk berpikir pada dasarnya sudah dimiliki sejak individu itu lahir. Potensi berpikir itu dimulai dari kemampuan setiap individu untuk menebak atau mengira-ngira (berhipotesis) dari suatu permasalahan. Manakala individu dapat membuktikan tebakannya, maka Ia akan sampai pada posisi yang bisa mendorong untuk berpikir lebih lanjut. Oleh sebab itu, potensi untuk mengembangkan kemampuan menebak pada setiap individu harus dibina. Salah satu cara yang dapat dilakukan guru tintuk mengembangkan kemampuan menebak (berhipotesis) pada setiap anak adalah (dengan mengajukan berbagai pertanyaan yang dapat mendorong siswa untuk dapat merumuskan jawaban sementara atau dapat merumuskan berbagai perkiraan kemungkinan jawaban dan suatu permasalahan yang dikaji. Perkiraan sebagai hipotesis bukan sembarang perkiraan, tetapi harus memiliki landasan berpikir yang kokoh, sehingga hipotesis yang dimunculkan itu bersifat rasional dan logis. Kemampuan berpikir logis itu sendiri akan sangat dipengaruhi oleh kedalaman wawasan yang dimiliki serta keluasan pengalaman. Dengan demikian, setiap individu yang kurang mempunyal wawasan akan sulit mengembangkan hipotesis yang rasional dan logis.

Tahap Mengumpulkan Data:

Mengumpulkan data adalah aktivitas menjaring informasi yang dibutuhkan untuk menguji hipotesis yang diajukan. Dalam strategi pembelajaran inkuiri, mengumpulkan data merupakan proses mental yang sangat penting dalam pengembangan intelektual. Proses pengumpulan data bukan hanya memerlukan motivasi yang kuat dalam belajar, akan tetapi juga membutuhkan ketekunan dan ke­mampuan menggunakan potensi berpikirnya. Oleh sebab itu, tugas dan peran guru dalam tahapan ini adalah mengajukan pertanyaan-­pertanyaan yang dapat mendorong siswa untuk berpikir mencari informasi yang dibutuhkan. Sering terjadi kemacetan berinkuiri ada­lah manakala siswa tidak apresiatif terhadap pokok permasalahan. Tidak apresiatif itu biasanya ditunjukkan oleh gejala-gejala ketidak­bergairahan dalam belajar. Manakala guru menemukan gejala-gejala semacam ini, maka guru hendaknya secara terus-menerus memberi­kan dorongan kepada siswa untuk belajar melalui penyuguhan ber­bagai jenis pertanyaan secara menata kepada seluruh siswa sehingga mereka terangsang untuk berpikir.

 

Tahap Menguji Hipotesis:

 Proses menentukan jawaban yang dianggap diterima sesuai dengan data atau informasi yang diperoleh berdasarkan pengumpulan data. Yang terpenting dalam menguji bipotesis adalah mencari tingkat keyakinan siswa atas jawaban yang diberikan. Disamping itu, menguji hipotesis juga berarti mengembangkan kemampuan berpikir rasional. Artinya, kebenaran jawaban yang diberikan bukan banya berdasarkan argumentasi, akan tetapi harus didukung oleh data yang ditemukan dan dapat dipertanggungjawabkan.

 

Tahap Merumuskan kesimpulan:

 Proses mendeskripsikan temuan yang diperoleh berdasarkan hasil pengujian hipotesis. Merumuskan kesimpulan merupakan gongnya dalam proses pembelajaran. Sering terjadi, oleh karena banyaknya data yang diperoleh, menyebabkan kesimpulan yang dirumuskan tidak fokus terhadap masalah yang hendak dipecahkan. Karena itu, untuk mencapai kesimpulan yang akurat sebaiknya guru mampu menunjukkan pada siswa data mana yang relevan.

 

  1. Hipotesis Tindakan

Berdasarkan kajian teoretis tentang pembelajaran inkuiri sosial dan hasil belajar siswa, maka dapat dikemukakan hipotesis: “Jika Pembelajaran inkuiri diterapkan dalam mata pelajaran ekonomi maka aktifitas dan hasil belajar siswa dapat meningkatkan ”.


BAB III

METODE PENELITIAN

  1. A.    Prosedur Penelitian

Penelitian dilaksanakan dengan menggunakan metode penelitian tindakan kelas (PTK). Jenis tindakan yang dilakukan adalah penggunaan model pembelajaran inkuiri yang diterapkan untuk meningkatkan aktifitas dan hasil belajar siswa dalam mata pelajaran ekonomi. Implementasi tindakan diterapkan dalam materi Standar kompetensi ”Konsep Ekonomi dalam kaitannya dengan kegiatan ekonomi konsumen dan produsen”  . Dengan langkah sebagai berikut :

 

………………………………………………………………………………………………

Gambar 3.1: Siklus Kegiatan Penelitian Tindakan Kelas

 

Perencanaan :

Perencanaan dalam penelitian ini berupa penyusunan rancangan tindakan yaitu merancang penggunaan model pembelajaran inkuiri yang dituangkan dalam rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP).

Pelaksanaan :

Pelaksanaan tindakan daalam penelitian ini adalah implementasi tindakan dalam kegiatan pembelajaran.

Pengamatan :

Pengamatan/observasi yaitu mengamati dan mencatat hal-hal penting yang terjadi selama pelaksanaan tindakan berlangsung. Pada tahap ini dilakukan pula penilaian keberhasilan atas tindakan yang dilaksanakan.

Refleksi :

Tahap refleksi adalah mengkaji secara keseluruhan proses pembelajaran atau tindakan yang dilakukan dan dilanjutkan  dengan evaluasi guna menyempurnakan tindakan yang berikutnya. Refleksi mencakup analisis, sintesis, dan penilaian terhadap hasil pengamatan atas tindakan yang dilakukan. Jika terdapat masalah dan proses refleksi, dilakukan proses pengkajian ulang melalui tindakan berikutnya yang meliputi kegiatan: perencanaan ulang, tindakan ulang, dan pengamatan ulang sehingga permasalahan yang dihadapi dapat teratasi.

Pelaksanaan penelitian dilaksanakan dalam bentuk siklus yang berulang, di dalamnya terdapat empat tahapan kegiatan sebagimana dikemukakan di atas. Pelaksanaan penelitian dimulai dengan siklus pertama yang terdiri dari empat kegiatan. Apabila sudah diketahui letak keberhasilan dan hambatan dari tindakan yang dilaksanakan pada siklus pertama tersebut, ditentukan rancangan siklus kedua. pada siklus kedua dapat berupa kegiatan yang sama dengan kegiatan sebelumnya bila ditujukan untuk mengulangi keberhasilan, untuk meyakinkan atau menguatkan hasil. Kegiatan yang dilakukan dalam siklus kedua mempunyai berbagai tambahan perbaikan dari tindakan terdahulu yang ditunjukan untuk mengatasi berbagai hambatan/kesulitan yang ditemukan dalam siklus pertama.

B.     Setting Penelitian

Penelitian tindakan kelas ini dilakukan pada siswa kelas X-C  SMA Negeri 1 Woja Kabupaten Dompu. Obyek penelitian diambil siswa kelas X-C dengan jumlah siswa sebanyak 35 orang. Kegiatan penelitian dilaksanakan pada bulan September s.d. Oktober, awal semester ganjil tahun pelajaran 2007/2008. Penyusunan laporan dilaksanakan pada bulan Nopember sampai dengan Desember 2007.

C.    Teknik Pengumpulan Data Dan Instrumen Penelitian

Data yang dihimpun dalam penelitian ini adalah aaktifitas dan data hasil belajar siswa yang meliputi hasil Tes Siklus I dan Tes Siklus II. Instrumen yang digunakan untuk mengukur hasil belajar disusun dalam bentuk tes obyektif dan tes essay. Data lain yang perlu dikumpulkan untuk menunjang penelitian ini adalah deskripsi proses tindakan yang diperoleh melalui pengamatan selama kegiatan pembelajaran berlangsung. Kegiatan observasi dilakukan dengan bantuan rekan sejawat, yaitu guru mata pelajaran ekonomi di SMAN 1 Woja sebagai observer. Di samping itu, dilakukan pula wawancara kepada siswa dan observer untuk mengetahui pendapat atau tanggapan atas tindakan/kegiatan pembelajaran yang dilaksanakan.

D.    Teknik Analisis Data

Data-data yang telah terkumpul dari hasil tes hasil belajar, obeservasi, dan wawancara akan digunakan sebagai acuan untuk mengetahui keterlaksanaan proses pembelaharan serta hasil belajar yang dicapai. Data tersebut dianalisis dan diolah menggunakan teknik analisis deskriptif sebagai acuan dalam menarik kesimpulan.

 


BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

 BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

 

  1. A.    Kesimpulan

Berdasarkan hasil analisis data serta pembahasan yang telah dikemukakan sebelumnya diperoleh kesimpulan sebagai berikut:

Pertama, strategi pembelajaran inkuiri sosial yang diterapkan dalam penelitian ini adalah pembelajaran yang menekankan pada proses mencari dan menemukan sendiri jawaban atas suatu masalah yang dipertanyakan sebagai upaya memahami materi pelajaran. Implementasi strtegi pembelajaran inkuiri sosial menempatkan siswa sebagai subjek belajar serta menempatkan guru sebagai fasilitator dan motivator belajar bagi siswa.

Kedua, implementasi strategi pembelajaran inkuiri sosial dalam penelitian ini dilaksanakan melalui tahapan sebagai berikut: (1) Tahap Orientasi: Tahap ini dilaksanakan dengan tujuan untuk membina suasana atau iklim pembelajaran yang responsif dalam arti mampu merangsang siswa untuk belajar. (2) Tahap Merumuskan Masalah: dilaksanakan dengan tujuan membawa siswa pada suatu persoalan atau pemasalahan yang menantang siswa untuk berpikir dalam meme­cahkannya, mengandung konsep yang jelas, serta menarik; (3) Tahap Mengajukan Hipotesis: dilaksanakan dengan tujuan agar siswa dapat mengajukan jawaban sementara (hipotesis) atas masalah yang dikaji. (4) Tahap Pengumpulkan Data: dilaksanakan dengan tujuan mendapatkan landasan yang tepat dalam menarik kesimpulan; (5) Tahap Pengujian Hipotesis: dilaksanakan dengan tujuan agar siswa mampu menentukan jawaban yang dianggap benar yaitu jawaban yang sesuai dengan data/informasi yang diperoleh melalui pengumpulan data; (6) Tahap Menarik Kesimpulan: dilaksanakan dengan tujuan agar siawa mampu mendeskripsikan temuan yang diperoleh berdasarkan hasil uji hipotesis.

Ketiga, implementasi strategi pembelajaran inkuiri sosial dapat dijadikan sebagai alternatif strategi untuk meningkatkan hasil belajar siswa pada mata pelajaran geografi..

 

  1. B.     Saran-saran

Berdasarkan hasil penelitian sebagaimana telah dikemukakan sebelumnya dapat diajukan saran sebagai berikut:

Pertama: Hasil penelitian ini memperlihatkan pentingnya pembelajaran inkuiri sosial diterapkan pada konsep-konsep IPS lain yang sulit untuk dipahami siswa. Implementasinya menekankan pada proses pencarian dari pada transfer ilmu pengetahuan. Peran guru hanya sebagai fasilitator yang membimbing dan mengkoordinasikan kegiatan belajar siswa.

Kedua: Dalam merancang, mengembangkan, dan menerapkan strategi pembelajaran yang dapat meningkatkan hasil belajar siswa diperlukan dasar-dasar teori pembelajaran yang mendukung dan harus dikuasai guru. Dengan demikian diperlukan adanya bimbingan khusus tentang apa keterampilan belajar dan bagaimana pengembangannya dalam model pembelajaran.

Ketiga: Untuk keberhasilan penerapan startegi pembelajaran inkuiri sosial, perlu didukung pandangan, kesanggupan dan kesediaan guru untuk melakukan perubahan dalam pola dan model mengajar yang selama ini dipraktikkan dan dianggap sebagai suatu kerangka konseptual yang baku. Kemampuan untuk menerima sesuatu yang baru dan menerapkannya sebagai bagian dari konsep model yang dianutnya, merupakan indikator penting dari kompetensi profesional guru untuk mengembangkan kreativitas guna meningkatkan mutu pembelajaran.

Kelima: Penelitian tindakan tentang penerapan strategi pembelajaran inkuiri sosial masih perlu ditindaklanjuti secara komprehensif, baik dari segi unsur-unsuk pembelajaran yang diteelaahnya maupun pilihan setting sekolahnya.

 


DAFTAR PUSTAKA

 

 

Burton, W.H. dan H.C. Witherington. (1986). Teknik-Teknik Belajar dan Mengajar. Bandung: Jammars.

Sanjaya, Wina. (2006). Strategi Pembelajaran, Berorientasi Standar Proses Pendidikan. Jakarta: Prenada Media Group.

Slameto. (2003). Belajar dan Faktor-faktor yang Mempengaruhinya. Jakarta: Rineka Cipta.

Sudjana, Djudju. (2000) Strategi Pembelajaran. Bandung: Falah, 2000.

Sudjana, Nana. (1989). Dasar-dasar Proses Belajar Mengajar.  Bandung; Sinar Baru.

Sudjana, Nana. (1995) Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.

Suryadi, Ace dan H.A.R. Tilaar. (1993). Analisis Kebijakan Pendidikan Suatu Pendidikan. Bandung: Remaja Rosda Karya.

Syah, Muhibbin. (2003) Psikologi Pendidikan. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.

Wartono. (1996) Pengembangan Model Pembelajaran Inkuiri Akrab Lingkungan untuk Mengembangkan Keterampilan Berpikir dan Meningkatkan Hasil belajar Siswa dalam Bidang Sains di Sekolah Dasar. (Disertasi) Tidak Diterbitkan. Bandung; PPS IKIP.

 

 

PENINGKATAN AKTIFTAS DAN HASIL BELAJAR EKONOMI MATERI KEGIATAN EKONOMI PRODUSEN DAN KONSUMEN MELALUI MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TEKNIK  STAD PADA  SISWA KELAS XI-B   SMA NEGERI 1 WOJA

 SEMESTER GAZAL TANUN 2006/2007

BAB  I

PENDAHULUAN

 

  1. A.    Latar Belakang Masalah

 

Upaya meningkatkan kualitas pendidikan baik oleh pemerintah pusat maupun pemerintah daerah serta terobosan baru terus diperkenalkan antara lain manajemen sekolah, peningkatan sumber daya tenaga kependidikan, pengembangan materi ajar dan sebagainya. Namun pada kenyataannya belum menampakkan hasil yang menggembirakan.

Guru merupakan salah satu komponen utama yang sangat menentukan keberhasilan proses belajar-mengajar. Hal ini sejalan dengan pandangan moderen tentang guru, yakni guru bukan hanya sebagai penyampai informasi  tetapi juga bertindak sebagai fasilitator dalam proses belajar. Dengan demikian guru seyogianya menciptakan situasi  dan kondisi yang tepat agar memungkinkan terjadinya proses belajar pada diri siswa dengan mengarahkan  segala sumber dan menggunakan strategi belajar mengajar yang tepat, yang meliputi pendekatan, metode dan teknik pembelajaran yang spesifik. Kemampuan guru dalam memilih Model pembelajaran  serta menerapkannya dalam kegiatan pembelajaran turut mempengaruhi keberhasilan peserta didik dalam pembelajaran.

 

Paradigma baru dalam proses belajar mengajar bukanlah mengajarkan mata pelajaran kepada para siswa tetapi mengajarkan kepada siswa tersebut bagaimana cara mereka mempelajari mata pelajaran secara efektif dan efisien.  Seorang guru yang profesional tidak lagi berfikir bagaimana mengajar atau “bagaimana belajar” akan tetapi seorang guru yang profesional harus mengajarkan kepada siswanya konsep pendekatan “ belajar bagaimana cara belajar”.  Melalui konsep ini seorang guru dituntut untuk mengajarkan strategi atau cara belajar yang efektif dan efisien kepada siswanya agar dapat mempelajarinya, mengeksplorasi dan mengkaji sendiri setiap persoalan, kasus atau masalah yang diberikan oleh guru mereka di sekolah dengan mudah dan menyenangkan sesuai dengan potensi dan modalitas belajar mereka.

 

Maata pelajaran Ekonomi merupakan ilmu tentang perilaku dan tindakan manusia untuk memenuhi kebutuhan hidupnya yang bervariasi, dan berkembang dengan sumber daya yang ada melalui pilihan-pilihan kegiatan produksi, konsumsi, dan/atau distribusi. Luasnya ilmu ekonomi dan terbatasnya waktu yang tersedia membuat standar kompetensi dan kompetensi dasar ini dibatasi dan difokuskan kepada fenomena empirik ekonomi yang ada disekitar peserta didik, sehingga peserta didik dapat merekam peristiwa ekonomi yang terjadi disekitar lingkungannya dan mengambil manfaat untuk kehidupannya yang lebih baik. Mata pelajaran Ekonomi diberikan pada tingkat pendidikan dasar sebagai bagian integral dari IPS. Pada tingkat pendidikan menengah, ekonomi diberikan sebagai mata pelajaran tersendiri.

Mata pelajaran Ekonomi bertujuan agar peserta didik memiliki kemampuan (1). memahami sejumlah konsep ekonomi untuk mengkaitkan peristiwa dan masalah ekonomi dengan kehidupan sehari-hari, terutama yang terjadi dilingkungan individu, rumah tangga, masyarakat, dan negar. (2). Menampilkan sikap ingin tahu terhadap sejumlah konsep ekonomi yang diperlukan untuk mendalami ilmu ekonomi. (3).membentuk sikap bijak, rasional dan bertanggungjawab dengan memiliki pengetahuan dan keterampilan ilmu ekonomi, manajemen, dan akuntansi yang bermanfaat bagi diri sendiri, rumah tangga, masyarakat, dan Negara. (4). membuat keputusan yang bertanggungjawab mengenai nilai-nilai sosial ekonom dalam masyarakat yang majemuk, baik dalam skala nasional maupun internasional

 

Berdasarkan uraian  atas maka seharusnya pembelajaran Ekonomi di sekolah merupakan suatu kegiatan pembelajaran yang disenangi, menantang dan mempunyai makna tersendiri bagi siswa.  Namu selama ini sering terjadi di sekolah termasuk pada SMAN 1 Woja ,   pembelajaran Ekonomi kurang dikemas dengan metode pembelajaran yang menarik, menantang dan menyenangkan. Guru masih sering kali menyampaikan materi Ekonomi secara konvensional (apa adanya), sehingga pembelajaran Ekonomi cendrung membosankan dan kurang menarik minat para siswa dan pada akhirnya menyebabkan prestasi /hasil belajar siswa masih rendah.  Hal ini dapat di lihat dari daftar analisis hasil ulangan harian siswa kelas XI-IPS-2  pada Semester Pertama tahun pelajaran 2007 / 2008 dari 36 siswa yang mampu memperoleh nilai dengan kriteria minimal (KKM. 65) untuk mata pelajaran Ekonomi hanya mampu dicapai  8 orang (22,22 %). Di sisi lain ada kecendrungan bahwa aktivitas siswa dalam pembelajaran Ekonomi juga  masih sangat rendah, adapun indikator penyebabnya antara lain : (1). siswa masih kurang berani untuk menyampaikan pendapat, (2). siswa masih kurang memiliki kemampuan untuk merumuskan gagasan sendiri, dan, (3) siswa belum terbiasa bersaing dalam menyampaikan pendapat dengan temannya.

 

Untuk meningkatkan kualitas keterampilan berdiskusi yang diselenggarakan dalam proses pembelajaran mungkin dapat dilakukan dengan meningkatkan frekuensi atau dengan mencobakan teknik-teknik pembelajaran dalam model pembelajaran kooperatif, salah satu diantaranya adalah  teknik STAD (Student Teams Achievement Division) atau tim siswa kelompok prestasi.

STAD merupakan salah satu metode atau pendekatan dalam pembelajaran kooperatif yang sederhana. Kooperatif  teknik STAD terdiri dari 5 komponen utama yakni : Penyajian kelas, belajar kelompok, kuis, skor pengembangan dan penghargaan kelompok.

Untuk menciptakan pembelajaran yang aktif, kreatif, efektif dan menyenangkan (PAKEM) dapat dilakukan melalui berbagai cara, dan salah satu cara yang cukup efektif untuk memecahkan masalah yangb terjadi di SMAN 1 Woja adalah melalui “Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe STAD (Student Teams Achievement Divisions).

 

  1. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang diatas, maka rumusan masalah dalam penelitian ini sebagai berikut:

  1. Apakah dengan model pembelajaran kooperatif teknik STAD dapat meningkatkan aktifitas berdiskusi siswa kelas XI-IPS SMA Negeri 1 Woja pada mata pelajaran ekonomi ?
  2. Apakah dengan meningkatnya aktifitas keterampilan berdiskusi melalui model pembelajaran teknik STAD dapat meningkatkan hasil belajar siswa kelas XI-IPS SMAN 1 Woja dalam mata pelajaran ekonomi ?.

 

  1. Tujuan Penelitian

1.  Untuk mengetahui peningkatan aktifitas berdiskusi siswa kelas XI-IPS SMAN 1 Hu’u mata pelajaran ekonomi melalui penerapan model pembelajaran kooperatif teknik STAD

2.  Untuk mengetahui peningkatan aktifitas berdiskusi melalui model pembelajaran teknik STAD dapat meningkatkan hasil belajar ekonomi siswa kelas XI-IPS SMAN 1 Hu’u .

E. Manfaat Penelitian

Diharapkan penelitian ini akan bermanfaat :

1.   Bagi siswa

a.   Meningkatnya kemampuan aktifitas berdiskusi siswa pada               pembelajaran   ekonomi.

b.   Membangun pengetahuan siswa  tentang konsep-konsep ekonomi  melalui diskusi dengan sesama teman

c. Meningkatnya kemampuan bekerja sama secara demokratis dalam diri siswa.

2.   Bagi guru

  1. Meningkatnya keterampilan guru dalam memimpin diskusi sebagai salah satu metode dalam pembelajaran.
  2. Memberikan alternatif dalam pengelolaan pembelajaran dengan model pembelajaran kooperatif Teknik STAD untuk mengembangkan keterampilan berdiskusi siswa.

 

BAB  II

 

TINJAUAN  PUSTAKA

 

A. Hakikat Pembelajaran

            Belajar adalah proses perubahan tingkah laku individu yang relatif tetap sebagai hasil dari pengalaman, sedangkan pembelajaran merupakan upaya penataan lingkungan yang memberi nuansa agar program belajar tumbuh dan berkembang secara optimal. Dengan demikian proses belajar bersifat internal dan unik dalam diri individu siswa, sedang proses pembelajaran bersifat eksternal yang sengaja direncanakan dan bersifat rekayasa perilaku.  Peristiwa belajar disertai dengan proses pembelajaran akan lebih terarah dan sistematik dari pada belajar yang hanya semata-mata dari pengalaman dalam kehidupan sosial di masyarakat. Belajar dengan proses pembelajaran ada peran guru, bahan belajar, dan lingkungan kondusif yang sengaja diciptakan..

Menurut konsep sosiologi, belajar adalah jantungnya dari proses sosialisasi, pembelajaranadalah rekaya sosio-psikologis untuk memelihara kegiatan belajar tersebutsehingga tiap individu yang belajar akan secara optimal dalam mencapai tingkat kedewasaan dan dapat hidup sebagai anggota masyarakat yang baik.

Dalam arti sempit, proses pembelajaran adalah proses pendidkan dalam lingkup persekolahan, sehingga arti dari proses sosialisasi individu siswa dengan lingkungan sekolah, seperti guru, sumber/fasilitas, dan teman sesama siswa.

Pola interaksi antara guru dengan siswa pada hakikatnya adalah hubungan antara dua pihak yang setara, yaitu interaksi antara dua manusia yang tengah mendewasakan diri, meskipun yang satu telah ada pada tahap yang seharusnya lebih maju dalam aspek akal, moral, maupun emosional. Dengan kata lain, guru dan siswa merupakan subyek, karena masing-masing memiliki kesadaran dan kebebasan secara aktif. Dengan menyadari pada pola interaksi tersebut akan memungkinkan keterlibatan mental siswa secara optimal dalam merealisasikan pengalaman belajar. Pengertian inilah yang dinamakan Cara Belajar Siswa Aktif (CBSA), yang pada hakikatnya dapat dipulangkan kembali pada tujuan pendidikan yang hakiki, yaitu untuk peningkatan martabat kemanusiaan. (Suherman; 2003)

 

B. Mengajar

Mengajar adalah  suatu usaha yang sangat kompleks, sehingga sulit menentukan bagaimana sebenarnya pengertiannya. Walaupun demikian terdapat beberapa definisi yang dikemukakan (Nasution,1986) diantaranya :

  1. Mengajar adalah menanamkan pengetahuan pada anak.
  2. Mengajar adalah menyampaikan kebudayaan .
  3. Mengajar adalah suatu aktivitas mengorganisasi atau mengatur lingkungan  sebaik-baiknya dan menghubungkan dengan anak sehingga terjadi proses belajar     mengajar

 

Dari definisi di atas dapat diperoleh pengertian bahwa  dalam belajar diharapkan  anak bukan hanya menguasai kebudayaan yang ada tetapi  diharapkan turut membantu memperkaya kebudayaan dengan menciptakan kebudayaan yang baru menurut zaman yang senantiasa berubah. Mengajar adalah suatu usaha guru yakni mengatur lingkungan, sehingga terbentuklah  suasana yang sebaik- baiknya bagi anak untuk belajar. Definisi ini memperluas arti tentang mengajar dan konsekwensi-konsekwensinya. Mengajar kehilangan maknanya jika pada prakteknya tidak dapat menciptakan suasana belajar.Yang belajar adalah siswa itu sendiri, guru hanya dapat membimbing siswa  untuk belajar.

Konsekwensi dari definisi diatas  adalah bahwa  mengajar adalah membimbing aktivitas anak. Bahwa  anak  hanya dapat berenang dengan berenang sendiri, jadi melakukan kegiatan  itu sendiri. Dengan demikian mengajar  dapat dikatakan berhasil apabila anak-anak belajar dengan usaha .

Belajar berdasarkan definisi diatas   bersifat intelektualistik, dan sering dimaksud sebagai menguasai bahan pelajaran, tetapi pengertian tersebut banyak ditentang, bahwa tujuan  itu terlalu sempit. Bagi mereka belajar adalah mengubah kelakuan anak (Nasution,1986), jadi mengenai pembentukan pribadi anak hasil-hasil yang diharapakan  bukan hanya bersifat pengetahuan, akan tetapi juga sikap, pemahaman, perluasan minat, penghargaan, norma-norma, ketrampilan, jadi meliputi seluruh pribadi anak.

 

C. Model Pembelajaran Kooperatif

 

      Suherman (2003)  mengemukakan pembelajaran kooperatif  merupakan suatu model pengajaran dimana siswa belajar dalam kelompok-kelompok kecil yang memiliki tingkat kemampuan berbeda sebagai suatu tim untuk menyelesaikan suatu masalah, menyelesaikan suatu tugas atau mengerjakan sesuatu untuk mencapai tujuan bersama. Dalam menyelesaikan tugas kelompok,  setiap anggota saling bekerja sama dan membantu untuk memahami suatu bahan pembelajaran . Belajar belum selesai jika salah satu teman dalam kelompok belum menguasai bahan pembelajaran. Tidaklah cukup menunjukkan cooperative lerning jika para siswa  duduk bersama dalam suatu kelompok kecil tetapi menyelesaikan masalahnya sendiri-sendiri. Kooperatif learning menekankan pada kehadiran teman sebaya yang berinteraksi antar sesamanya sebagai sebuah tim dalam membahas suatu masalah

Slavin dalam Model Fis B 02 mengemukakan bahwa model pembelajaran kooperatif ini dikembangkan berdasarkan teori belajar kognitif–kontruktivis. Hal ini terlihat pada salah satu teori vigotsky, yaitu tentang penekanan pada hakekat sosiokultural dari pembelajaran. Vigotsky yakin bahwa fungsi mental yang lebih tinggi pada umumnya muncul dalam percakapan atau kerja sama antar individu sebelum fungsi mental yang lebih tinggi itu terserap kedalam individu tersebut. Implikasi dari terori Vigotsky ini dikehendakinya susunan kelas berbentuk pembelajaran kooperatif. Penerapan model pembelajaran koperatif ini juga sesuai dengan  yang dikehendaki oleh prinsip CTL yaitu tentang learning community.

Selanjutnya Slavin dalam Fis C 03 mengemukakan model pembelajaran kooperatif disamping  dikembangkan untuk mencapai hasil belajar akademik, model pembelajaran kooperatif ini juga efektif untuk mengembangkan ketrampilan sosial siswa.  Beberapa ahli berpendapat bahwa model ini unggul dalam membantu siswa memahami konsep-konsep yang sulit. Para pengembang model ini menunjukkan bahwa model pembelajaran kooperatif telah  dapat meningkatkan penilaian siswa pada belajar akademik dan perubahan norma yang berhubungan dengan hasil belajar, dalam banyak kasus, norma budaya anak muda  sebenarnya tidak menyukai siswa-siswa yang ingin menonjol secara akademis. Robert Slavin dan pakar lain telah berusaha untuk mengubah norma ini melalui penggunaan pembelajaran kooperatif.  Disamping mengubah norma yang berhubungan dengan hasil belajar, pembelajaran kooperatif dapat memberi keuntungan baik pada siswa kelompok bawah maupun kelompok atas yang bekerja bersama menyelesaikan tugas-tugas akademik. Siswa kelompok atas diharapkan akan menjadi tutor bagi siswa kelompok bawah, jadi memperoleh bantuan khusus dari teman – teman sebaya, yang memiliki orientasi dan bahasa yang sama. Dalam proses tutorial ini, siswa kelompok atas akan meningkatkan akademiknya karena memberi pelayanan sebagai tutor membutuhkan pemikiran lebih mendalam tentang hubungan ide-ide yang terdapat di dalam materi tertentu.

Tujuan penting lain dari pembelajaran kooperatif adalah untuk mengajarkan kepada siswa ketrampilan kerja sama dan kolaborasi. Ketrampilan ini amat penting untuk dimiliki di dalam masyarakat .

E. Model Pembelajaran Kooperatif Teknik Student Teams Achievment Divisions (STAD)

STAD ( Student Tam Achievement Devision) dikembangkan oleh Robert Slavin merupakan pendekatan pembelajaran kooperatif paling sederhana. Model pembelajaran STAD terdiri dari lima komponen utama yaitu presentasi kelas, belajar kelompok kuis, skor kemajuan individual dan penghargan kelompok. Presentasi kelas dalam model pembelajaran STAD dapat dilaksanakan dimana materi diperkenalkan melalui pembelajaran langsung atau diskusi dengan presentasi audiovisual. Dalam hal ini, peserta didik harus benar – benar memberi perhatian penuh selama kegiatan presentasi berlangsung. Tim dalam model pembelajaran STAD adalah kelompok – kelompok peserta didik yang terdiri dari 4 – 5 orang yang mewakili kinerja akademik, jenis kelamin, etnis dan sebagainya. Fungsi tim ini adalah memastikan bahwa semua anggota tim benar – benar belajar dan mempersiapkan setiap anggotanya untuk dapat mengerjakan kuis dengan baik. Kuis dalam model pembelajaran STAD dapat dilaksanakan setelah sekitar satu atau dua periode setelah guru memberikan presentasi. Kuis dilaksanakan secara individual dan peserta didik tidak boleh saling membantu dalam mengerjakannya. Dalam mengerjakan kuis, setiap peserta didik bertanggung jawab secara individu untuk memahami materinya. Skor kemajuan individual merupakan gagasan untuk memberikan kesempatan peserta didik bekerja lebih giat dan memberikan kontribusi maksimal terhadap kinerja tim.

Berdasarkan uraian diatas, langkah – langkah model pembelajaran STAD yang dapat dilakukan meliputi ;

1.   Peserta didik membentuk kelompok – kelompok kecil yang beranggota 4 – 5 orang secara heterogen menurut prestasi, jenis kelamin, etnis dan sebagainya.

2.   Guru menyajikan pembelajaran dengan terlebih dahulu memilih materi pokok yang akan dipelajari

3.   Guru membagi tugas kelompok untuk dikerjakan oleh anggota – anggota kelompok. Anggota kelompok yang telah paham, menjelaskan pada anggota lainnya sampai semua anggota kelompok mengerti.

4.   Guru memberikan kuis atau pertanyaan dan saat menjawab kuis, tidak boleh saling membantu

5.  Memberi evaluasi

6.   Penutup

F.   Kerangka Berpikir

Berdasarkan rumusan masalah, tujuan dan manfaat penelitian tersebut didapat suatu kerangka pemikiran, yaitu: a). Keterampilan berdiskusi siswa perlu dikembangkan yakni keterampilan berkomunikasi, mengajukan pertanyaan, menjawab pertanyaan, menganalisis masalah. Karena unsur-unsur ini merupakan aktivitas yang paling berharga dan berguna untuk pemecahan masalah dalam kehidupan. b).Model pembelajaran kooperatif teknik STAD mampu meningkatkan keterampilan berdiskusi siswa. c).Dengan ketrampilan berdiskusi, diharapkan siswa mampu membangun sendiri pengetahuannya serta menguasai dan memahami ilmu pengetahuan.

G.     Hipotesis

Jika model pembelajaran kooperatif teknik STAD diterapkan maka aktifitas keterampilan berdiskusi siswa kelas XI-IPS  SMA Negeri 1 Woja  dapat ditingkatkan , demikian bwrdanpak pada meningkatkan hasil belajar siswa dalam mata pelajaran ekonomi

 

 

 

 

 

 

BAB  III

METODOLOGI PENELITIAN

 

A..Metode Penelitian

 

B. Rancangan Penelitian

Berdasarkan gambar di atas dapat di jelaskan sebagai berikut:

  1. Analisis materi.

Analisis materi mengacu pada  standar kompetensi dan kompetensi dasar yang tertuang  pada silabus sesuai kurikulum SMAN 1 Woja, lamanya waktu mengajarkan suatu konsep, urutan keterhubungan konsep-konsep esensial, tingkat kesulitan materi dan juga memikirkan apa yang diharapkan dari siswa setelah materi tersebut diajarkan.

  1. Penyusunan Rencana pelaksanaan Pembelajaran (RPP) berdasarkan pada kompetensi dasar dan indikator yang  ada pada silabus, mengacu pada model pembelajaran kooperatif .
  2. Penyiapan fasilitas dan sarana pendukung yaitu yang berhubungan dengan pembelajaran, seperti alat tulis menulis. Juga menyiapkan data-data kemampuan akademik masing-masing siswa untuk keperluan pembagian kelompok kerja.
  3. Kegiatan pembelajaran mengacu pada Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP).
  4. Evaluasi dilaksanakan sementara dan setelah proses belajar mengajar Evaluasi dilaksanakan mengikuti format penilaian pembelajaran kooperatif. Format penilaian dirancang untuk mengukur kemampuan akademik siswa dan  ketrampilan kooperatif.
  5. Refleksi  dalam PTK ini adalah upaya untuk menganalisis, interpretasi dan penjelasan terhadap semua informasi yang diperoleh dari pelaksanaan tindakan. Hasil refleksi ini digunakan untuk menetapkan langkah lebih lanjut dalam upaya mencapai tujuan PTK. Dengan kata lain, refleksi merupakan pengkajian terhadap keberhasilan atau kegagalan dalam menentukan tindak lanjut  dalam rangka pencapaian tujuan yang diharapakan.

 

C. Subjek dan Pelaksanaan  Penelitian

Penelitian tindakan kelas ini dilaksanakan di SMAN 1 Woja                                                      pada kelas XI IPS. tahun pelajaran 2006/2007, dengan jumlah siswa kelas 37 orang yang terdiri dari 19 laki-laki dan 18 perempuan. Pengamatan terhadap siswa-siswa tersebut umumnya memiliki kecepatan pertumbuhan kemampuan akademik yang bervariasi juga rendah dalam ketrampilan sosialnya. Waktu penelitian dilakukan pada semester ganjil  tahun pelajaran 2006/2007.

D. Teknik Pengumpulan Data

Data yang dimaksud adalah data nilai hasil evaluasi setelah kegiatan pembelajaran satu siklus dilaksanakan. Data nilai ini diperoleh melalui tes. Disamping itu diperoleh data keterampilan sosial . Data ini diperoleh selama poses pembelajaran berlangsung dan ada format khusus untuk itu.yakni lembar observasi penilaian  keterampilan berdiskusi.

 

E. Alat dan teknik pemantauan

a.Instrumen pengamatan keterampilan diskusi siswa

b.Instrument pengamatan keterampilan  kegiatan guru

c.Rencana pelaksanaan  pembelajaran  (RPP)

F. Kriteria atau Ukuran Keberhasilan

Yang menjadi kriteria keberhasilan penelitian tindakan kelas ini yaitu apabila jumlah yang siswa menunjukkan ketuntasan belajar secara klasikal mencapai 85 % dengan memperoleh nilai sesuai  kriteria ketuntasan Minimal / KKM  untuk mata pelajaran Fisika kelas XI –IPS SMA Negeri 1 Kempo semester ganjil yaitu  65

Nilai perolehan            =

G. Observasi

Untuk memantau atau memonitor kegiatan penelitian tindakan kelas ini, peneliti selaku guru  mata pelajaran memonitor melalui hasil tes yang dilakukan pada setiap tahap dan nilai-rata-rata  siswa akhir tes setelah tindakan tahap pertama sampai tahap ketiga  selesai dilaksanakan. Kebenaran pelaksanaan penelitian tindakan kelas ini juga dimonitor oleh rekan sejawat dan kepala sekolah. Yang terlibat dalam tim kolaborasi adalah teman sejawat sesama guru mata pelajaran ekonomi  di SMA  Negeri 1 Woja serta didampingi oleh pengawas sekolah.

UPAYA PENINGKATAN AKTIFITAS DAN HASIL BELAJAR SISWA DALAM PEMBELAJARAN EKONOMI MELALUI PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN LATIHAN INKUIRI DI KELAS X-C SMA NEGERI 1 WOJA KABUPATEN DOMPU SEMESTER GANJIL THN 2007/2008

ABSTRAK

Slamet Sisubali: Upaya Meningkatkan Aktifitas dan Hasil Belajar Siswa  Mata Pelajaran Ekonomi Melalui Penerapan Model Pembelajaran Latihan Inkuiri Pada Siswa Kelas X-C SMA  Negeri 1 Woja Kabupaten Dompu Semester Ganjil Thn Pelajaran  2007/2008

 

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah melalui pembelajaran Latihan Inkuri  dapat meningkatkan aktifitas dan hasil belajar siswa SMAN 1 Woja. Yang menjadi permasalahan dalam penelitian ini adalah : “ Apakah dengan melalui penerapam model pembelajaran latihan inkuri  pada mata pelajaran ekonomi di kelas X-C SMA Negeri 1 Woja dapat meningkatkan aktifitas dan hasil belajar siswa? Strategi dalam penelitian tindakan kelas ini dilakukan melalui 2 siklus dan pada setiap siklus meliputi kegiatan perencanaan , pelaksanaan , observasi dan refleksi

Jenis Penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK) penerapan model  pembelajaran latihan inkuiri, sedangkan yang menjadi subjek pada penelitian tindakan kelas ini adalah siswa kelas X-C SMA Negeri 1 Woja, sedang objeknya adalah pembelajaran inkuiri   pada mata pelajaran Ekonomi. Dari penelitian yang diadakan dengan meneliti kondisi awal siswa yang diukur dengan alat tes tertulis dan hasil penelitian tindakan kelas dengan 2 siklus terlihat adanya peningkatan hasil yang dicapai siswa dalam menguasai materi “Konsep ekonomindalam kaitannyandengan kegiatan ekonomi konsumen dan produsen” yang diberikan. Peningkatan penguasaan materi “Konsep ekonomindalam kaitannyandengan kegiatan ekonomi konsumen dan produsen” ini dengan menerapkan model pembelajaran latihan inkuiri   hasilnya mencapai ketuntasan secara klasikal. Hal ini dapat dilihat hasil tes tertulis mulai dari siklus I siswa dapat meningkat dari 55,40 kondisi awal menjadi 59,68 pada siklus I, dan meningkat menjadi   72,14 pada siklus II dengan prosentase ketuntasan klasikal berturut-turut 40% pada siklus I dan meningkat menjadi 88,57% pada siklus II. sudah melampuai capaian mencapai nilai KKM  > 70. Berdasarkan hasil di atas dengan memperhatikan indikator kinerja dapat disimpulkan tujuan penelitaian ini tercapai dan hipotesis tindakan yang dirumuskan dapat diterima.

Dari Hasil penelitian tindakan kelas ini maka peneliti merekomendasikan pada rekan sejawat selaku praktisi pelaksana pembelajaran dalam hal ini yaitu pengajar untuk menerapkan model pembelajaran latihan inkuiri  dalam mengajarkan materi pembelajaran untuk mengaktifkan siswa .

 

Kata kunci : aktfitas dan hasil belajar, Model pembelajaran, Latihan iquir,

 

 

A.    Latar Belakang Masalah

 

Pembelajaran IPS Ekonomi di SMA difokuskan pada fenomena empirik permasalahan ekonomi yang terjadi masyarakat. Materi ekonomi ini sangat komplek karena terkait dengan perkembangan ekonomi yang senantiasa terus menerus berkembang sejalan perkembangan dunia yang mengglobal, mulai dari sistem ekonomi mikro sampai dengan ekonomi makro (perdagangan internasional). Melalui mata pelajaran IPS  Ekonomi , peserta didik diarahkan untuk dapat menjadi warga negara Indonesia yang demokratis, dan bertanggung jawab, serta warga dunia yang cinta damai.

Mata pelajaran Ekonomi SMA/MA bertujuan agar peserta didik memiliki kemampuan sebagai berikut.

1. Memahami sejumlah konsep ekonomi untuk mengkaitkan peristiwa dan masalah ekonomi dengan kehidupan sehari-hari, terutama yang terjadi dilingkungan individu, rumah tangga, masyarakat, dan negara

2. Menampilkan sikap ingin tahu terhadap sejumlah konsep ekonomi yang diperlukan untuk mendalami ilmu ekonomi

3. Membentuk sikap bijak, rasional dan bertanggungjawab dengan memiliki pengetahuan dan keterampilan ilmu ekonomi, manajemen, dan akuntansi yang

bermanfaat bagi diri sendiri, rumah tangga, masyarakat, dan negara

4. Membuat keputusan yang bertanggungjawab mengenai nilai-nilai sosial ekonomi dalam masyarakat yang majemuk, baik dalam skala nasional maupun internasional.

SMAN 1 Woja merupakan salah satu SMA di Kota Dompu yang di didirikan tahun 1985 ,namun prestasi belajar siswa khususnya ekonomi tidak mengalami perubahan yang berarti . Dilihat dari hasil belajar siswa, hasil analisis Ulangan Harian untuk 13 KD ( Kompetensi Dasar) dari 3 SK ( Standar Kompetensi ) mata pelajaran ekonomi kelas X , pada semester ganjil tahun pelajaran 2007/2008 nilai rata-rata  diperoleh siswa 55,40 dan rata-rata nilai kelas untuk UTS adalah 59,2, dan rata-rata nilai raport kelas sebesar 61,25 sehingga masih ada siswa yang nilai raport di semester ganjil dibawah kriteria ketuntasan minimal (KKM) yang ditentukan .Padahal KKM yang ditentukan untuk mata pelajaran Ekonomi kels X sama dengan  70.  Deminikan pula berdasarkan rekap nilai rata-rata Ujian Nasional th 2006/2007  menurut mata pelajaran, ternyata rata-rata nilai pelajaran ekonomi  hanya 4,5 dengan kualifikasi C

Dari hasil belajar di atas dapat disimpulkan bahwa hasil belajar siswa untuk ulangan harian masuk dalam kategori rendah, untuk hasil belajar UTS masuk dalam kategori sedang dan nilai raport semester ganjil masuk dalam kategori sedang.  Hasil tersebut menunjukkan hasil yang memprihatinkan, dan mungkin dipengaruhi oleh beberapa faktor, di antaranya adalah perencaaan pengajaran  yang kurang, penggunaan metode yang tidak tepat dapat menimbulkan kebosanan, dan kurang kondusifnya sistem pembelajaran, sehingga penyerapan pelajaran kurang. Hal ini merupakan salah satu masalah yang dihadapi dalam pembelajaran IPS , khususnya  mata pelajaran ekonomi di SMAN 1 Woja.

.

Setelah direnungi dan ditelusuri ke belakang , munculnya permasalahan di atas disebabkan oleh beberapa hal, yaitu (1) aktivitas pembelajaran masih didominasi guru, siswa banyak mencatat; (2) metode pembelajaran yang digunakan guru tidak variatif, cenderung ceramah (ekspositori); (3) penggunaan media pembelajaran kurang optimal; (4) hasil belajar siswa kurang mengembirakan. Ini karena Kondisi di SMAN 1 Woja  menunjukkan bahwa hasil belajar ekonomi kurang menggembirakan, meskipun ada anggapan siswa bahwa mata pelajaran ekonomi itu relatig mudah dan bersifat hafalan. Hal ini pasti menjadi bahan renungan para guru IPS , ekonomi khususnya. Namun dalam kenyataannya dapat dilihat bahwa keaktifan dan hasil belajar ekonomi  yang dicapai siswa SMAN 1 Woja masih rendah.

Berkaitan dengan masalah tersebut, factor penyebab lainya  pada pembelajaran ekonomi ditemukan juga keragaman masalah sebagai berikut: 1) keaktifan siswa dalam mengikuti pembelajaran masih belum nampak, 2) siswa jarang mengajukan pertanyaan, walaupun guru sering meminta agar siswa bertanya jika ada hal-hal yang belum jelas, atau kurang paham, 3) keaktifan dalam mengerjakan soal-soal latihan pada proses pembelajaran juga masih kurang, 4) kurangnya keberanian siswa untuk mengemukakan gagasan/pendapat dalam pembelajaran, dan 5) kurangnya keberanian siswa dalam mengerjakan soal di depan kelas. Hal ini menggambarkan efektifitas belajar mengajar dalam kelas masih rendah.

Kondisi atau model pembelajaran seperti di atas dapat mengakibatkan (1) siswa kurang kreatif karena guru terlalu dominan; (2) semangat belajar siswa rendah karena pembelajaran monoton sehingga aktivitas belajar siswa menurun. Menurunnya akitivitas siswa dapat berdampak terhadap rendahnya pemahaman siswa terhadap materi pembelajaran yang diberikan guru; (3) siswa jenuh dan bosan dengan serta pada akhirnya tidak menyukai mata pelajaran ekonomi ; dan (3) anak-anak menjadi rentan tidak lulus mata pelajaran ekonomi.

Untuk menumbuhkan sikap aktif dari siswa tidaklah mudah. Fakta yang terjadi di SMAN 1 Woja selama ini  guru dianggap sumber belajar yang paling benar. Proses pembelajaran yang terjadi memposisikan siswa sebagai pendengar ceramah guru. Akibatnya proses belajar mengajar cenderung membosankan dan menjadikan siswa malas belajar. Sikap anak didik yang pasif tersebut ternyata tidak hanya terjadi pada mata pelajaran tertentu saja tetapi pada hampir semua mata pelajaran termasuk pelajaran ekonomi .

Untuk mengatasi kesulitan pemahaman tersebut, maka perlu ada upaya-upaya guru dalam mengelola pembelajaran ekonomi sehingga aktifitas dan prestasi belajar peserta didik dapat ditingkatkan. Untuk mewujudkan maka siswa harus dilibatkan secara aktif dalam proses belajar. Keberhasilan mencapai tujuan tersebut tidak lepas dari peran guru pembimbing. Di samping itu, pembelajaran Ekonomi juga memperhatikan tingkat perkembangan intelektual dan mental siswa, terkait dengan cara mengajarkannya. Selain menguasai konsep-konsep ekonomi dan metode mengajar, guru Ekonomi juga harus menguasai teori-teori belajar agar apa yang disampaikan dapat dipahami dengan mudah oleh siswa. Sebelum memasuki pelajaran Ekonomi, siswa sudah memiliki pengetahuan dan pengalaman yang berhubungan dengan pengajaran Ekonomi itu sendiri.

Berdasarkan kenyataan di atas, perlu dilakukan upaya meningkatkan hasil belajar siswa pada mata pelajaran Ekonomi. Salah satu diantaranya adalah melalui pendekatan/metode/strategi pembelajaran yang sesuai. Terkait dengan hal tersebut dapat diterapkan pembelajaran inkuiri. Melalui penelitian ini ingin mnegetahui apakah  pembelajaran inkuiri ini dapat meningkatkan aktifitas dan hasil belajar siswa dalam pembelajaran ekonomi.

.

  1. Perumusan Masalah dan Alternatif Pemecahan Masalah

 

  1. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah yang dikemukakan di atas, penelitian ini difokuskan untuk menjawab masalah:

a). Bagaimanakah meningkatkan aktifitas proses  belajar ekonomi , melalui       pembelajaran latihan inkuiri?”

b). Apakah melalui penerapan Pembelajaran latihan inkuiri dapat meningkatkan hasil  belajar siswa?.

 

2.  Pemecahan Masalah

 

Pembelajaran latihan inkuiri  dalam hal ini ditetapkan sebagi alternatif pemecahan masalah terkait dengan rendahnya hasil belajar siswa. Pembelajaran latihan inkuiri  merupakan rangkaian kegiatan pembelajaran yang menekankan pada proses berpikir kritis dan analitis untuk mencari dan menemukan sendiri jawaban dari suatu masalah yang dipertanyakan.

Masalah tentang kurangnya keaktifan siswa serta rendahnya hasil belajar siswa kelas X-C di SMA Negeri 1 Woja akan dipecahkan dengan menerapkan model pembelajaran latihan  inkuiri, yaitu model pembelajaran yang terdiri dari 5 fase pembelajaran, sebagai berikut:  (1) Orientasi, membina iklim pembelajaran yang merangsang siswa belajar dengan mengajak siswa berpikir memecahkan suatu masalah melalui tanya jawab agar tercipta suasana dialogis, (2) Merumuskan masalah, membawa siswa pada suatu permasalahan menantang serta mengandung konsep yang jelas dan menarik, (3) Mengajukan hipotesis, mengarahkan siswa mengemukakan hipotesis atas masalah yang diajukan, (4) Pengumpulkan data, mengarahkan siswa untuk mendapatkan landasan dalam menarik kesimpulan, (5) Pengujian hipotesis, mengarahkan siswa menentukan jawaban yang dianggap benar sesuai data yang diperoleh; serta (6) Menarik kesimpulan, mengarahkan siswa mendeskripsikan temuan yang diperoleh berdasarkan uji hipotesis. Ketiga, implementasi pembelajaran inkuiri sosial dapat dijadikan sebagai alternatif untuk meningkatkan hasil belajar siswa pada mata pelajaran matematika.

 

  1. Tujuan dan Manfaat Penelitian
  2. 1.      Tujuan Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan untuk meengetahui peningkatan aktifias dan  hasil belajar siswa pada mata pelajaran ekonomi melalui penerapan model pembelajaran latihan  inkuiry di kelas X-C  SMAN 1 Woja Kabupaten Dompu .

  1. 2.      Manfaat Penelitian
    1. Bagi Guru : Hasil penelitian ini dapat dimanfaatkan dalam upaya mengembangkan kemampuan guru menyampaikan materi pelajaran ekonomi
    2. Bagi Sekolah : Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi masukan bagi upaya peningkatan mutu pembelajaran di sekolah.
    3. Bagi Siswa : Harapan lainnya, hasil penelitian dapat memberikan gambaran mengenai upaya peningkatan hasil belajar siswa dalam pembelajaran ekonomi  melalui model  pembelajaran inkuiri sehingga dapat dimanfaatkan sebagai bahan kajian  dalam memperbaiki mutu pembelajaran sesuai kebutuhan.

dan seterusnya…!