dunload

MENINGKATKAN KEMAMPUAN  PEMECAHAN MASALAH MATEMATIKA  SISWA MELALUI PEMBELAJARAN THINK-TALK-WRITE DALAM KELOMPOK KECIL KELAS VIII SMAN…………

 TAHUN PELAJARAN ……….

 

BAB I

PENDAHULUAN

 

1.1   Latar Belakang Masalah

 

Komunikasi dan pemecahan masalah matematis merupakan bagian dari berpikir matematis tingkat tinggi yang bersifat kompleks, karena itu pembelajaran yang berfokus pada kemampuan tersebut memerlukan prasyarat konsep dan proses dari yang lebih rendah. Artinya kemampuan komunikasi dan pemecahan masalah matematis siswa tidak ada tanpa kemampuan pemahaman yang baik. Hal ini meliputi materi maupun cara mempelajari atau mengajarkannya. Untuk itu dalam pembelajaran perlu dipertimbangkan tugas matematika serta suasana belajar yang mendukung untuk mendorong kemampuan tersebut. Pertimbangan ini menyangkut pengambilan keputusan pembelajaran yang digunakan di kelas yang diambil oleh guru.

Salah satu keputusan yang perlu diambil guru tentang pembelajaran adalah pemilihan pendekatan yang digunakan. Masih banyak guru matematika , yang menganut paradigma transfer of knowledge, yang beranggapan bahwa siswa merupakan objek dari belajar. Dalam paradigma ini guru mendominasi dalam proses pembelajaran. Kenyataan ini telah diungkapkan oleh Ruseffendi (1991:328), bahwa matematika yang dipelajari siswa di sekolah sebagian besar tidak diperoleh melalui eksplorasi matematika, tetapi melalui pemberitahuan oleh guru. Walaupun dominasi guru dalam proses pembelajaran matematika tidak selamanya tidak baik, karena terdapat guru yang karena ketegasannya di kelas membuat siswa menjadi lebih bersungguh-sungguh. Namun menurut Sutiarso (2000) kondisi seperti ini menjadikan siswa pasif dalam belajar. Pembelajaran pada kondisi ini berpusat pada keterampilan dasar yang menekankan pada latihan mengerjakan soal rutin (drill) dengan mengulang prosedur serta lebih banyak menggunakan rumus atau algoritma tertentu. Model pembelajaran seperti ini menurut Brooks & Brooks (Ansari, 2004) disebut pembelajaran mekanistik atau konvensional.

Kondisi pembelajaran dimana siswa belajar secara pasif, jelas tidak menguntungkan terhadap hasil belajarnya. Untuk itu perlu usaha guru agar siswa

belajar secara aktif. Sriyono (1992) mengatakan bahwa salah satu cara untuk meningkatkan mutu pendidikan adalah dengan mengaktifkan siswa dalam belajar. Dan proporsi aktivitas siswa dalam belajar akan lebih produktif  apabila siswa belajar dalam kelompok. Sejalan dengan pendapat tersebut Sumarmo (2000) mengatakan agar pembelajaran dapat memaksimalkan proses dan hasil belajar matematika, guru perlu mendorong siswa untuk terlibat secara aktif dalam diskusi, bertanya serta menjawab pertanyaan, berpikir secara kritis, menjelaskan setiap jawaban yang diberikan, serta mengajukan alasan untuk setiap jawaban yang diajukan. Pembelajaran yang diberikan pada kondisi ini ditekankan pada penggunaan diskusi, baik diskusi dalam kelompok kecil maupun diskusi dalam kelas secara keseluruhan. Meskipun kesimpulan tersebut diambil berdasarkan penelitian yang dilakukan terhadap siswa sekolah dasar, namun pengembangannya sangat mungkin untuk siswa pada jenjang sekolah yang lebih tinggi.

Malone dan Krismanto (1997) mengatakan penggunaan kegiatan kelompok dalam belajar matematika direkomendasikan secara tinggi. Hal ini dimaksudkan untuk mendorong motivasi siswa dalam pembelajaran. Salah satu cara pengelompokkan yang disukai siswa adalah berdasarkan keheterogenan siswa, sehingga pada tiap-tiap kelompok terdapat siswa yang pandai. Diharapkan mereka yang pandai ini dapat membantu siswa lainnya yang kemampuannya lebih rendah.

 

Dengan mempertimbangkan beberapa pendapat di atas, penulis melakukan sebuah penelitian kolaboratif bersama guru matematika SMAN…..  Dompu, dengan judul “Meningkatkan Kemampuan Pemecahan Masalah Matematika Siswa Melalui  Pembelajaran Think-Talk-Write dalam Kelompok Kecil  Lelas ……SMA Negeri …..”.  Strategi pembelajaran yang digunakan ini mengharuskan siswa terlibat berpikir, berbicara, dan menulis dalam proses pembelajaran. Sedangkan model yang dipilih adalah pembelajaran dalam kelompok kecil dengan anggota 4 sampai 6 orang siswa yang dikelompokkan secara heterogen menurut kemampuan matematikanya. Pengelompokkan seperti ini dimaksudkan agar semua siswa terlibat secara aktif dalam proses pembelajaran.

 

1.2    Fokus Penelitian

1.2.1 Rumusan Masalah

Dalam penelitian ini permasalahan dibatasi pada pengembangan aspek kemampuan pemecahan masalah matematika siswa SMP Negeri 3 Dompu melalui strategi think-talk-write dalam kelompok kecil. Lebih jelasnya masalah dalam penelitian ini dirumuskan sebagai berikut:

Apakah pembelajaran dengan strategi think-talk-write dalam kelompok kecil dapat meningkatkan kemampuan pemecahan masalah matematika siswa?

 

1.2.2         Tujuan Penelitian

 

Dari Rumusan masalah di atas , tujuan Penelitian  yang ingin di capai adalah :

  1. Menerapkan pembelajaran dengan strategi think-talk-write dalam kelompok kecil sebagai alternatif pemecahan masalah-masalah dalam pembelajaran matematika.
  2. Meningkatkan kemampuan  pemecahan masalah matematika siswa.

1.2.3          Manfaat Penelitian

 

Adapun hasil penelitian ini diharapkan bermanfaat bagi siswa, guru, sekolah maupun bagi penelitian sendiri , dengan rincian sebagai berikut :

  1. Siswa lebih bebas mengekspresikan kemampuan komunikasi matematiknya, sehingga kemampuannya dalam pemecahan masalah matematika menjadi lebih baik.
  2. Guru menemukan pendekatan pembelajaran yang sesuai untuk lebih meningkatkan hasil belajar siswa.
  3. Sekolah mendapatkan dampak positif dari terselenggaranya penelitian ini, karena kualitas siswa, guru dan pembelajaran semakin meningkat.

 

 

1.2.4        Definisi Operasional

 

Untuk menghindari terjadinya perbedaan penafsiran terhadap istilah-istilah yang digunakan pada rumusan masalah penelitian ini, perlu dikemukakan definisi operasional sebagai berikut:

  1. Kemampuan komunikasi matematis siswa adalah kemampuan siswa menyatakan soal ke dalam bahasa atau simbol matematika dalam bentuk grafik dan/atau rumus aljabar dan sebaliknya.
  2. Pemecahan masalah matematis adalah kemampuan siswa dalam menyelesaikan soal dengan memperhatikan langkah-langkah sebagai berikut:

1)      memahami masalah,

2)   merencakan penyelesaian / memilih strategi penyelesaian yang sesuai,

3)   melaksanakan penyelesaian menggunakan strategi yang direncanakan,

4)      memeriksa kembali kebenaran jawaban yang diperoleh.

  1. Strategi think-talk-write merupakan rangkaian pembelajaran yang terdiri dari tiga tahap yaitu:

1)      THINK: siswa secara individu membaca teks bacaan pada lembaran kegiatan siswa (LKS). Siswa memikirkan kemungkinan jawaban (strategi penyelesaian), menandai konsep yang dianggap penting, atau yang tidak dipahami, dan hasilnya ditulis dalam catatan kecil.

2)      TALK: siswa mengkomunikasikan hasil kegiatan membacanya pada tahap think melalui diskusi (brainstorming, sharing, membuat kesepakatan, atau negosiasi ide) dalam kelompoknya yang terdiri dari 4-6 siswa) sampai mendapatkan solusi.

3)      WRITE: Siswa menulis kembali hasil diskusi pada lembaran kegiatan siswa (LKS) berupa landasan, keterkaitan, strategi, serta solusi dari soal.

  1. Pembelajaran dalam kelompok kecil adalah siswa belajar dalam kelompok kecil yang terdiri dari 4-6 orang siswa yang mempunyai kemampuan matematika yang heterogen menurut hasil tes materi prasyarat.
  2. Pembelajaran  konvensional  merupakan  pembelajaran  ekspositori (secara klasikal), dimana guru menjelaskan materi pelajaran, kemudian siswa mengerjakan latihan.

 

1.2.5        Hipotesis Penelitian

Berdasarkan rumusan masalah, maka hipotesis tindakan dalam penelitian ini adalah:

Jika dalam pembelajaran matematika diterapkan strategi Think-Talk-Write, maka kemampuan  pemecahan masalah matematika siswa meningkat.

 

1.3      Lokasi Penelitian

Adapun Lokasi Penelitian akan dilaksanakan di SMAN ……….., Kabupaten Dompu pada kelas ,,,, dengan jumlah siswa sebanyak 22 orang  yang terdiri dari 11 laki dan 11 perempuan.

 

 

BAB II
KAJIAN PUSTAKA

 

 

2.1   Strategi Pembelajaran Think-Talk-Write

Strategi mengajar menyangkut pemilihan cara yang dipilih guru dalam menentukan ruang lingkup, urutan bahasan, kegiatan pembelajaran, dan lain-lain dalam menyampaikan materi matematika kepada siswa di dalam kelas (Hudoyo, 1990: 11). Dalam kegiatan pembelajaran matematika sering ditemui bahwa ketika siswa diberikan tugas tertulis, siswa selalu mencoba untuk langsung memulai menulis jawaban. Walaupun hal itu bukan sesuatu yang salah, namun akan lebih bermakna jika dia terlebih dahulu melakukan kegiatan berpikir, merefleksikan dan menyusun ide-ide, serta menguji ide-ide itu sebelum memulai menulisnya. Strategi think-talk-write yang dipilih pada penelitian ini dibangun dengan memberikan waktu kepada siswa untuk melakukan kegiatan tersebut (berpikir, merefleksikan dan untuk menyusun ide-ide, dan menguji ide-ide itu sebelum menulisnya).

Tahap pertama kegiatan siswa yang belajar dengan strategi think-talk-write adalah think, yaitu tahap berfikir dimana siswa membaca teks berupa soal (kalau memungkinkan dimulai dengan soal yang berhubungan dengan permasalahan sehari-hari siswa atau kontekstual). Dalam tahap ini siswa secara individu memikirkan kemungkinan jawaban (strategi penyelesaian), membuat catatan kecil tentang ide-ide yang terdapat pada bacaan, dan/atau hal-hal yang tidak dipahaminya sesuai dengan bahasanya sendiri.

Tahap kedua adalah talk (berbicara atau diskusi) memberikan kesempatan kepada siswa untuk membicarakan tentang penyelidikannya pada tahap pertama. Pada tahap ini siswa merefleksikan, menyusun, serta menguji (negosiasi, sharing) ide-ide dalam kegiatan diskusi kelompok. Kemajuan komunikasi siswa akan terlihat pada dialognya dalam berdiskusi baik dalam bertukar ide dengan orang lain ataupun refleksi mereka sendiri yang diungkapkannya kepada orang lain.

Tahap ketiga adalah write, siswa menuliskan ide-ide yang diperolehnya dari kegiatan tahap pertama dan kedua. Tulisan ini terdiri atas landasan konsep yang digunakan, keterkaitan dengan materi sebelumnya, strategi penyelesaian, dan solusi yang diperolehnya. Huinker dan Laughlin (1996) mengatakan bahwa strategi ini terlihat secara khusus efektif ketika siswa ditugaskan untuk merencanakan, meringkas, atau merefleksikan dan mereka bekerja dalam grup heterogen yang terdiri  dari 2-6 siswa. Grup heterogen dimaksudkan agar dalam grup tersebut terdapat siswa yang dapat membantu anggota lain dalam menyelesaikan masalah. Diskusi dimulai dari kelompok kecil kemudian ukuran kelompoknya diperbesar sehingga siswa menjadi lebih mampu dengan proses pembelajaran tersebut.

Menurut Silver dan Smith (1996:21), peranan dan tugas guru dalam usaha mengefektifkan penggunaan strategi think-talk-write adalah mengajukan dan menyediakan tugas yang memungkinkan siswa terlibat secara aktif berpikir, mendorong dan menyimak dengan hati-hati ide-ide yang dikemukakan siswa secara lisan dan tertulis, mempertimbangkan dan memberi informasi terhadap apa yang digali siswa dalam diskusi, serta memonitor, menilai, dan mendorong siswa untuk berpartisipasi secara aktif. Tugas yang disiapkan diharapkan dapat menjadi pemicu siswa untuk bekerja secara aktif yaitu soal-soal yang mempunyai jawaban divergen atau open ended task.

Untuk mewujudkan pembelajaran yang sesuai dengan harapan diatas, dirancang pembelajaran yang mengikuti langkah-langkah berikut:

  1. Guru membagi teks bacaan berupa Lembar Kerja Siswa yang dimulai dengan soal-soal yang berhubungan dengan lingkungan sehari-hari siswa (kontekstual) dan jika diperlukan diberikan sedikit petunjuk.
  2. Siswa membaca teks dan membuat catatan kecil secara individu (think). Kegiatan ini bertujuan agar siswa dapat membedakan atau menyatukan ide-ide yang terdapat pada bacaan untuk kemudian diterjemahkan kedalam bahasa sendiri.
  3. Siswa berdiskusi dengan teman dalam kelompok membahas isi catatan yang dibuatnya (talk). Dalam kegiatan ini mereka menggunakan bahasa dan kata-kata yang mereka sendiri untuk menyampaikan ide-ide matematika dalam diskusi. Pemahaman dibangun melalui interaksinya dalam diskusi. Diskusi diharapkan dapat menghasilkan solusi atas soal yang diberikan.
  4. Dari hasil diskusi, siswa secara individu merumuskan pengetahuan berupa jawaban atas soal (berisi landasan dan keterkaitan konsep, strategi dan solusi) dalam bentuk tulisan (write) dengan bahasanya sendiri. Pada tulisan itu siswa menghubungkan ide-ide yang diperolehnya melalui diskusi.
  5.  Kegiatan akhir pembelajaran adalah membuat refleksi dan kesimpulan atas materi yang dipelajari. Sebelum itu dipilih beberapa (atau satu) orang siswa sebagai perwakilan kelompok untuk menyajikan jawabannya, sedangkan kelompok lain diminta memberikan tanggapan.

Selama kegiatan pembelajaran guru bertindak sebagai mediator dan jika diperlukan dapat memberikan arahan, petunjuk, serta dorongan.

 

2.2.  Belajar dalam Kelompok Kecil (Cooperative Learning)

Cooperative Learning merupakan model pembelajaran yang disetting secara sistematis mengelompokkan siswa agar tercipta pembelajaran yang efektif serta dapat mengintegrasikan keterampilan sosial siswa yang bermuatan akademis. Dalam Cooperative Learning, siswa dibagi dalamkelompok kecil yang saling bekerja sama untuk menyelesaikan suatu masalah atau suatu tugas dalam mencapai tujuan bersama (Turmudi, 2001).

Dalam pembelajaran dengan Cooperative Learning siswa berlatih mendengar dan menghargai pendapat orang lain, saling membantu dalam membangun pengetahuan baru dengan mengintegrasikan pengetahuan lama masing-masing individu. Sehingga diharapkan dapat meningkatkan sikap positif siswa terhadap matematika serta dapat menerapkan nilai-nilai kerja sama dalam kehidupan sehari-hari.

Malone dan Krismanto (1997) mengatakan bahwa terdapat fakta bahwa siswa mempunyai perkembangan sifat positif dan persepsi yang baik tentang belajar matematika dengan pengelompokan. Bahkan berdasarkan penelitian yang mereka lakukan, penggunaan kegiatan kelompok dalam belajar matematika direkomendasikan secara tinggi untuk mendorong motivasi siswa dalam pembelajaran. Pada penelitian lain Duren dan Cherrington (1992) menemukan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan dalam ingatan jangka panjang siswa (student’s long-term retention) antara siswa yang dalam belajarnya mengerjakan latihan secara kelompok dibandingkan dengan siswa yang bekerja secara sendiri. Dengan memberikan soal kepada dua kelompok siswa tersebut beberapa bulan setelah proses pembelajaran, diperoleh bahwa siswa yang dalam belajarnya bekerja dalam kelompok ternyata lebih mampu menguasai materi pelajaran dibandingkan dengan siswa yang dalam belajarnya bekerja secara individu.

Terdapat dua teori yang mendukung bahwa prestasi siswa yang dalam belajarnya bekerja dalam kelompok lebih baik dari siswa yang belajar secara tradisional yaitu Teori Motivasional dan Teori Kognitif (Slavin, 1995: 16). Menurut teori motivasional terdapat tiga jenis motivasi orang dalam belajar yaitu: (1) kooperatif, yaitu seseorang yang dalam mencapai tujuan belajarnya diarahkan untuk mendukung pencapaian tujuan (usaha) orang lain; (2) kompetitif, yaitu seseorang yang dalam mencapai tujuan belajarnya diarahkan untuk menghalangi usaha orang lain dalam mencapai tujuannya; dan (3) individualistik, yaitu seseorang yang dalam mencapai tujuan belajarnya tidak mempengaruhi pencapaian tujuan belajar orang lain.

Menurut pandangan teori motivasional, belajar kooperatif menciptakan situasi dimana satu-satunya cara anggota kelompok agar tidak mengutamakan tujuan pribadinya adalah jika kelompoknya berhasil dengan baik. Oleh karena itu, keberhasilan kelompok harus diusahakan secara bersama dengan maksimal. Untuk mempertemukan tujuan dari masing-masing individu yang berbeda tersebut, setiap anggota kelompok harus membantu kelompoknya mengerjakan apapun yang dapat membuat kelompok itu sukses dan mendorong kelompoknya untuk berusaha secara maksimal.Teori kognitif menekankan pengaruh dari kerja kelompok terhadap diri masing-masing anggota kelompok yaitu apakah kelompoknya sedang berusaha mencapai tujuan bersama yang merupakan gabungan dari tujuan masing-masing individu tersebut. Terdapat beberapa teori kognitif, yang secara garis besar dapat dibedakan atas: Teori Perkembangan Mental dan Teori Elaborasi Kognitif.

Menurut teori perkembangan mental pembelajaran terjadi saat anak bekerja pada suatu zona yang disebut zona perkembangan proksimal (zone of proximal development), yaitu suatu tingkat perkembangan sedikit berada diatas tingkat perkembangan seseorang saat ini. Vigotsky (Slavin, 1995:17; Kariadinata, 2001) mendefinisikan zona perkembangan proksimal sebagai jarak antara level perkembangan nyata yang ditandai dengan kemampuan problem solving independent dan level perkembangan potensial ditentukan melalui pemecahan masalah dibawah bimbingan atau kolaborasi dengan orang yang lebih mampu. Untuk mencapai zona tersebut tugas guru adalah memberikan scaffolding, yaitu sejumlah bantuan kepada anak pada tahap awal pembelajaran, dan berangsur-angsur menguranginya untuk memberikan kesempatan kepada anak untuk bekerja secara mandiri pada saat mereka sudah mampu. Bantuan dimaksud dapat berupa petunjuk, peringatan, dorongan, mengaitkan masalah dengan langkah-langkah penyelesaian masalah, memberi contoh, atau hal-hal lain yang memungkinkan anak untuk tumbuh mandiri.

Berdasarkan uraian di atas dapat diketahui bahwa untuk mendapatkan keuntungan belajar dengan Cooperative Learning tidaklah cukup dengan siswa duduk berkelompok kemudian mengerjakan tugasnya secara individu, atau menugaskan seseorang dalam kelompoknya untuk menyelesaikan seluruh tugas kelompoknya. Pelaksanaan model ini haruslah didasari oleh filosofis getting better together, yang artinya untuk mendapatkan hasil belajar yang terbaik hendaklah dilakukan secara bersama-sama.

Johnson & Johnson (Astuti, 2000: 20) mengemukakan syarat agar belajar kooperatif dapat berhasil, yaitu:

  1. Adanya saling ketergantungan yang positif. Hal ni menuntut guru untuk menciptakan suasana belajar mendorong siswa untuk saling membutuhkan.
  2. Adanya interaksi tatap muka secara langsung sehingga dapat melakukan dialog dan dapat mengembangkan komunikasi yang efisien.
  3. Adanya akuntabilitas individu. Artinya setiap individu dituntut memberikan andil bagi keberhasilan kelompok.
    1. Adanya keterampilan menjalin hubungan interpersonal, yang berupa keterampilan sosial berupa: tenggang rasa, bersikap sopan terhadap teman, mengkritik ide orang lain secara benar, berani mempertahankan pikiran dengan logis, dan berbagai keterampilan lain yang bermanfaat untuk menjalin hubungan antar individu.

Untuk memenuhi tujuan tersebut perlu dipenuhi dalam Cooperative Learning hal-hal sebagai berikut bahwa para siswa yang tergabung dalam kelompok harus merasa bahwa: 1) mereka adalah bagian dari tim dan tujuan yang hendak dicapai adalah tujuan  bersama, 2) masalah yang mereka hadapi adalah masalah kelompok dan berhasil tidaknya kelompok menjadi tanggung jawab bersama, 3) untuk mencapai hasil maksimal mereka harus berbicara satu sama lain dalam mendiskusikan masalah yang mereka hadapi, dan 4) setiap pekerjaan siswa berakibat langsung pada keberhasilan kelompoknya (Turmudi, 2001).

Dalam membentuk kelompok Malone dan Krismanto (1997) mengusulkan salah satu cara yang dalam penelitiannya terbukti disukai siswa adalah berdasarkan keheterogenan kemampuan siswa dalam kelompok, sehingga pada setiap kelompok terdapat siswa pandai yang dapat membimbing atau membantu siswa lain dalam kelompok yang berkemampuan kurang. Sebaliknya siswa yang lemah tidak merasa enggan untuk berdiskusi dengan siswa yang pandai, sehingga dapat terjadi kolaborasi antar siswa tanpa melihat perbedaan latar belakang

2.3           Kemampuan Komunikasi Matematika

Kemampuan komunikasi matematika atau komunikasi dalam matematika adalah kemampuan:

  • Menghubungkan benda nyata, gambar, dan diagram ke dalam ide matematika
  • Menjelaskan ide, situasi dan relasi matematik, secara lisan atau tulisan, dengan benda nyata, gambar, grafik, dan aljabar
  • Menyatakan peristiwa sehari-hari dalam bahasa atau simbol matematika
  • Mendengarkan, berdiskusi, dan menulis tentang matematika
  • Membaca presentasi matematika tertulis dan menyusun pernyataan yang relevan
  • Membuat konjektur, menyusun argumen, merumuskan definisi dan generalisasi

 

2.4      Kemampuan Pemecahan Masalah Matematika

Kemampuan pemecahan masalah matematika adalah kemampuan:

  • Mengidentifikasi unsur-unsur yang diketahui, yang ditanyakan, dan kecukupan unsur yang diperlukan
  • Merumuskan masalah matematik atau menyusun model matematik
    • Menerapkan strategi untuk menyelesaikan berbagai masalah (sejenis dan masalah baru) dalam atau di luar matematika
    • Menjelaskan atau menginterpretasikan hasil sesuai permasalahan asal
    • Menggunakan matematika secara bermakna.

    BAB III

    METODOLOGI PENELITIAN

     

     

    3.1   Rancangan Penelitian

    3.1.1  Desain Penelitian

    Penelitian ini menggunakan model Kemmis dan Tanggart dengan tahapan perencanaan, tindakan dan pengamatan serta refleksi untuk setiap siklus. Penelitian ini bersifat kolaboratif karena melibatkan guru matematika di sekolah tempat penelitian  sebagai tim kolaborasi observer. Metode ini digunakan karena masalah dan tujuan penelitian menuntut tindakan kolaborasi sehingga penelitian ini dirasa cocok untuk pemecahan masalah karena memungkinkan peneliti untuk melakukan tindakan atau peningkatan terhadap suatu program dengan melibatkan guru matematika di sekolah lokasi.

     

    3.1.2        Setting Penelitian

    `Penelitian ini dilaksanakan di SMAN ……pada Kelas VIII-B yang jumlah siswanya 22 orang, terdiri dari 11 perempuan dan 11 laki-laki. Penelitian ini akan direncanakan berlangsung bulan Januari s/d Pebruari pada semester genap Tahun Pelajaran 2010/2011. Siswa yang menjadi subyek penelitian memiliki karakteristik yang beragam, baik dari segi kemampuan, motivasi maupun latar belakang pengetahuannya.

     

     

    3.1.3         Faktor yang Diteliti

    Untuk berhasilnya tujuan penelitian, maka beberapa faktor yang diteliti dalam penelitian ini adalah:

    1. Faktor Guru

    Karena penelitian ini bersifat kolaboratif, maka hal-hal yang diamati selama berlangsungnya pembelajaran dalam penelitian ini adalah:

    • apakah guru/peneliti berhasil dalam menyampaikan konsep, membimbing dan memotivasi siswa sebagai suatu pembelajaran yang menyenangkan bagi siswa?
    • Tingkat kemampuan guru/peneliti untuk merencanakan, melaksanakan, mengevaluasi suatu konsep pembelajaran dengan optimal.
    • Perbaikan  pembelajaran yang kurang tepat, agar dapat optimal dalam pembelejaran berikutnya.
    • Apakah perencanaan, metode atau pendekatan pembelajaran dapat berjalan sesuai yang direncanakan.
    1. Faktor Siswa

    Siswa menjadi sentral utama dari penelitian ini. Semua kegiatan siswa selama berlangsungnya pembelajaran diamati dan dicatat perkembangannya untuk selanjutnya dilakukan perbaikan-perbaikan pada siklus pembelajaran selanjutnya.

    • Aktivitas siswa selama berlangsungnya pembelajaran diamati dengan menggunakan instrumen Lembar Observasi.
    • Peningkatan kemampuan  pemecahan masalah  matematika siswa adalah hasil akhir yang diharapkan terlihat setelah pemberian perlakuan. Oleh karena itu setiap akhir siklus, kemampuan ini diukur dengan instrumen tes kemampuan pemecahan masalah matematika untuk mengetahui apakah tujuan penelitian telah tercapai
    • . Prosentase ketuntasan belajar siswa merupakan bagian penting yang diamati dalam penelitian ini. Siswa dianggap tuntas belajar apabila penguasaan materinya sama atau lebih dari kriteria yang telah di tentukan yaitu  60% , atau mendapat nilai rata-rata 60 sesuai dengan Kriteria Ketuntasan Minimal yang ditetapkan dalam kurikulum SMAN….. )

     

    3.2   Teknik  Pengumpulan Data

    Dengan mencermati seluruh uraian di atas, dapat ditetapkan bahwa sumber data penelitian ini berasal dari guru matematika (peneliti) dan siswa. Dari guru (peneliti) memperoleh data tentang implementasi pembelajaran TTW melalui pendekatan kooperative diskusi kelompok kecil. Dari   siswa   peneliti   peroleh   data   prestasi   belajar matematika. Data dari guru diperoleh dari lembar observasi untuk memperoleh kesiapan proses pembelajaran di kelas, sedangkan dari siswa, hasil pengamatan aktifitas  dan lembar tes digunakan untuk mengetahui penguasan standar KKM materi matematika, yaitu pemahaman  (apektif) dan tindakan (kemapuan kognitif) siswa.

     

    3.3   Teknik Analisa Data

    Data yang diperoleh dari keseluruhan tindakan (siklus) selanjutnya dianalisis secara kualitatif dengan tahapan-tahapan meliputi: (1) reduksi data, tim peneliti    akan    melakukan    penyederhanaan   data   mentah    dari   keseluruhan  tahapan siklus dengan jalan membuat fokus, klasifikasi, abstraksi data kasar menjadi data yang bermakna untuk dianalisis; (2) hasil tahapan pertama disajikan secara deskriptif melalui visualisasi bentuk tabel sehingga memudahkan untuk membaca data; (3) penyimpulan atas sajian data hasil analisis. Hasil merupakan dampak yang diperoleh dari keseluruhan siklus sehingga dapat diketahui tingkat keoptimalan tindakan tentang implementasi pembelajaran TTW  melalui pendekatan Diskusi Kempompok kecil ( Kooperatif).

    Indikator keberhasilan tindakan ini, meliputi: (1) motivasi atau minat belajar siswa terhadap pembelajaran dengan strategi TTW  melalui pendekatan kooperatif diskusi dalam kelompok kecil sesuai KTP, ditandai secara kualitatif dengan unsur kreativitas siswa, keaktifan siswa, dan keterlibatan sumber belajar secara menyeluruh; Secara kuantitatif prosentase keberhasilan unsur kualitatif tersebut adalah 90 %  (2) peningkatan kemampuan siswa dalam penguasaan konsep pemecahan masalah matematika ditandai dengan peningkatan prestasi belajar  . Secara kuantitatif jika minimal 90 % dari keseluruhan siswa mencapai ketuntasan belajar individual di atas KKM 65  atau nilai di atas 65, berdasarkan standar KKM materi yang telah ditetapkan.

     

     

     

    3.4    Tahapan Penelitian

    Penelitian ini direncanakan akan dilaksanakan dalam tiga siklus. Setiap siklus terdiri dari perencanaan, pelaksanaan, pengamatan dan refleksi, dengan rincian Kegiatan pada masing-masing siklus diuraikan secara singkat berikut ini:

    1. a.      Tahap Perencanaan,

    Pada tahap ini, kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan meliputi:

    • Kegiatan perencanaan pada siklus pertama adalah mengembangkan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran ( RPP ) dengan strategi think-talk-write bersama guru matematika di kelas tempat penelitian
    •  Mengidentifikasi permasalahan kualitas proses belajar mengajar, penguasaan siswa terhadap standar materi  serta prestasi belajar siswa sebagai   acuan   dalam  memetakan  permasalahan  pokok pada penguasaan metode/pendekatan pembelajaran, serta hasil evaluasi pembelajaran
    • Tim peneliti bersama-sama menyusun model pembelajaran dengan dengan Strategi Thing-Talk-Write untuk tiap siklus.
    • Tim peneliti bersama-sama menyusun alat evaluasi yang digunakan untuk mengetahui kemampuan siswa pada aspek pemecahan masalah pada tiap siklus
    • Tim Peneliti menyusun instrumen yang digunakan untuk mengetahui Aktifitas  siswa dalam mengikuti proses pembelajaran matematika dengan strategi Thing – Talk – Write dalam kelompok kecil untuk tiap siklus..

     

    1. b.      Tahap Pelaksanaan  

                Selanjutnya tahap tindakan  pelaksanaan pembelajaran yaitu melaksanakan pembelajaran  berdasarkan hasil yang telah direncakan sebelumnya pada setiap siklus berdasarkan strategi dan pendekatan yang digunakan dengan melibatkan observer /guru di kelas tersebur sebagai teman kolaborasi melakukan pengamatan dan menilai proses pemberlajaran  dengan menggunakan lembar observasi, dan diakhiri dengan kegiatan evaluasi

    1. c.       Tahap Observasi,

    Pada tahap ini hakekatnya dimaksudkan untuk mengatahui:

    • Apakah   pembelajaran   sesuai dengan strategi/metode/pendekatan yang digunakan/direncanakan;
    • Apakah pembelajaran  telah dilaksanakan oleh guru sesuai dengan pendekatan yang telah ditetapkan;
    • Apakah alat evaluasi telah memenuhi kriteria yang telah ditetapkan;
    • Adakah kesalahan-kesalahan yang dilakukan oleh guru dalam menggunakan strategi Think-Talk-Write  dalam kelompok kecil  seperti yang telah ditetapkan dalam RPP
    • Faktor-faktor apakah yang menyebabkan hal itu terjadi;
    • Alternatif-alternatif apakah yang dapat ditempuh untuk memecahkan masalah yang ada;
    • Apakah hasil yang ingin dicapai dari kegiatan tersebut telah berhasil atau belum.

     

    1.  Tahap Refleksi dan Evaluasi

    Pada tahap ini tim peneliti berdiskusi untuk membahas temuan selama kegiatan observasi. Hasil  yang  telah  diperoleh  dari sebelumnya dan sesudah dilakukannya tindakan, kemudian hasil keduanya dibandingkan. Kegiatan  ini untuk mengetahui efektifitas implementasi pembelajaran matematika melalui strategi TTW dengan pendekatan kooperatif /diskusi dalam kelompok kecil  sesuai KTSP dan tingkat penguasaan siswa terhadap Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM)  SK/KD pada mata Pelajaran   matematika di SMAN…

    Hasil akhir pada refleksi dan evaluasi siklus pertama digunakan sebagai dasar untuk melakukan perencanaan pada siklus keduadan seterusnya sampai dengan siklus ketiga (terakhir). Pada bagian siklus ketiga, peneliti memperoleh model pembelajaran matematika  ( TTW ) melalui pendekatan kooperasi Diskusi Kelompok Kecil, sesuai dengan KTSP.

    IV. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

     

    4.1.     Hasil Penelitian

    Seperti tertuang dalam tujuan penelitian, penelitian ini dimaksudkan untuk memperbaiki  kemampuan komunikasi dan pemecahan masalah  matematika siswa dengan penerapan strategi think-talk-write dalam kelompok kecil. Hasil observasi tim peneliti selama pelaksanaan pembelajaran diuraikan sebagai berikut:

    1. Pada siklus pertama, tim peneliti belum berhasil menjadikan semua siswa memahami konsep. Tetapi kegiatan membimbing dan memotivasi siswa sudah mulai terlihat hasilnya. Penanaman konsep pada siklus kedua dan ketiga lebih ditingkatkan lagi dengan tidak mengurangi kegiatan membimbing dan memotivasi siswa.
    2. Kegiatan pembelajaran sejak siklus pertama sampai siklus ketiga berjalan sesuai yang direncanakan, meskipun ada hambatan dari siswa karena masalah kebiasaan.
    3. Hasil pengamatan terhadap aktifitas siswa selama berlangsungnya kegiatan penelitian dapat dilihat pada Tabel 4.1 berikut:

    Tabel 4.1

    Aktifitas Siswa dalam Pembelajaran Think-Talk-Write dalam Kelompok Kecil

    No.

    Aspek yang Diamati

    Siklus I

    Siklus II

    Siklus III

    B

    C

    K

    B

    C

    K

    B

    C

    K

    1 Think:

    Membaca dan mencari informasi yang berkenaan dengan tugas.

     

     

    v

     

     

     

     

     

     

     

     

     

    v

     

     

     

     

     

     

     

     

     

    v

     

     

     

     

     

     

      Talk:

    a)  Mengajukan pertanyaan/ Mengemukakan pendapat/ Menanggapi pendapat

       

     

    v

         

     

    v

       

     

    v

       
    b) Mencari informasi yang berkenaan dengan tugas (bertanya dan membaca)    

    v

         

    v

       

    v

       
    c) Penyelesaian tugas     v   v   v    
    d) Keterlibatan anggota dalam kegiatan Kelompok      

    v

       

    v

       

    v

       
    3 Write:

    Menulis

         

    v

       

    v

       

    v

       
    1. Kemampuan komunikasi dan pemecahan masalah matematika siswa berdasarkan hasil tes selama tiga siklus dapat dilihat pada diagram  berikut:

     

    Gambar 4.1 Diagram Kemampuan Komunikasi dan Pemecahan Masalah Matematika

    1. Ketuntasan Belajar

    Ketuntasan belajar siswa selama tiga siklus dapat dilihat pada Gambar 4.2 berikut ini.

     

    Gambar 4.2 Diagram Ketuntasan Belajar

    4.2.  Pembahasan

    Berdasarkan hasil pengumpulan data secara sederhana, maka beberapa hal  yang terungkap dalam penelitian ini adalah:

    a.      Siswa berpartisipasi lebih aktif dalam pelajaran dan lebih mudah  mengungkapkan ide-idenya. Pembelajaran dengan strategi think-talk-write membuat suasana pembelajaran yang bebas, responsif, dan mendukung karena banyak jawaban benar sehingga setiap siswa memiliki kesempatan untuk memperoleh jawaban sendiri. Dengan demikian siswa memiliki keinginan untuk  mengetahui jawaban yang lain, dan mereka dapat membandingkan dan mendiskusikan solusi masing-masing. Karena siswa sangat aktif maka hal tersebut membawa semua siswa pada diskusi kelas yang menarik.

    b.    Siswa memiliki lebih banyak kesempatan untuk menggunakan pengetahuan dan keterampilan matematiknya secara komprehensif. Karena banyak solusi berbeda maka semua siswa dapat memilih cara yang paling mereka sukai dan memunculkan ide mereka sendiri untuk menyelesaikan soal.

    c.     Setiap siswa dapat merespon soal dalam beberapa cara berbeda menurut caranya sendiri. Banyaknya siswa yang menjawab benar dengan alasan yang benar semakin meningkat.

    d. Pembelajaran dengan strategi think-talk-write memberikan siswa pengalaman bernalar melalui kegiatan membandingkan dan diskusi dalam kelas, sehingga siswa sangat termotivasi untuk memberikan alasan dari jawaban-jawabannya kapada siswa-siswa lain. Kegiatan ini merupakan kesempatan untuk mengembangkan cara berpikir mereka.

    1. Terjadi penambahan pengalaman bagi siswa untuk menikmati kesenangan menemukan dan menerima persetujuan dari teman sekelasnya. Karena siswa memiliki jawaban sendiri maka siswa akan tertarik untuk mengetahui jawaban teman-temannya.

    Dari kegiatan pembelajaran dengan strategi think-talk-write dalam kelompok kecil, yang telah dilakukan dalam penelitian ini, terlihat bahwa telah terjadi peningkatan kemampuan komunikasi dan pemecahan masalah matematika siswa.

    V. SIMPULAN DAN SARAN

     

    4.1.    Simpulan

    Berdasarkan hasil penelitian tindakan kelas dan pembahasan  hasil pengamatan yang dilaksanakan, dapat disimpulkan bahwa:

    1. Kemampuan komunikasi dan pemecahan masalah matematika siswa meningkat setelah mendapatkan pembelajaran dengan strategi Think-Talk-Write dalam Kelompok Kecil.
    2. Meningkatnya kemampuan komunikasi dan pemecahan masalah matematika mengoptimalkan prestasi belajar matematika siswa.

     

    4.2.    Saran

    Pembelajaran dengan strategi Think-Talk-Write dalam Kelompok Kecil adalah pembelajaran yang bernafaskan konstruktivisme. Menurut faham ini, ilmu pengetahuan dibangun sendiri oleh siswa dan bukan dipindahkan begitu saja dari guru ke siswa. Oleh karena itu, pendekatan pembelajaran ini sangat cocok dilakukan di kelas untuk membantu siswa membangun pengetahuannya. Pembelajaran ini tidak membutuhkan biaya seperti halnya bentuk-bentuk pembelajaran lainnya, hanya saja diperlukan persiapan yang matang terutama dalam hal mengembangkan soal-soal contoh dan latihan. Penerapan pembelajaran dengan Pembelajaran dengan strategi Think-Talk-Write dalam Kelompok Kecil ini memungkinkan untuk diterapkan pada mata pelajaran lain selain matematika.

    Hasil  penelitian ini hendaknya menjadi sumber inspirasi bagi pengawas untuk lebih meningkatkan mutu pembelajaran di sekola-sekolah binaan. Sedangkan bagi sekolah, hendaknya dapat diterapkan strategi pembelajaran yang inovatif agar diperoleh hasil belajar yang berkualitas.

     

     =======================================================================

     

    BAB I 

    PENDAHULUAN

     

     

    1. A.            Latar  Belakang  Masalah

                Kemampuan   seorang  guru  sebagai  tenaga pendidik  menempati posisi terpenting untuk tercapainya  tujuan  pendidikan. Dengan  peranannya  yang  begitu sentral  dalam proses pendidikan, maka hampir  sebagian besar  kebikan dalam meningkatkan kualitas pendidikan, diarahkan pada upaya  peningkatan kemampuan dan kualitas guru sebagai tenaga pengajar.

    Untuk  mencapai target tersebut, maka pendidikan yang diselenggarakan oleh berbagai kalangan baik pemerintah maupun masyarakat, dari waktu ke waktu makin bervariasi dan beragam. Beberapa diantaranya seperti orientasi dalam pendirian, tujuan,muatan program,bentuk jenis dan penjenjangan, cara pembinaan dan pengelolaan, tingkat mobilitas, kualitas serta kurikulum (Sukmadinata,2002: 92), semua itu dilakukan dalam rangka memperbaiki dan meningkatkan  mutu pendidikan.

    Lebih lanjut, utnuk mewujudkan pembelajaran yang berhasil dan efektif, bukan suatu pekerjaan yang mudah. Selain membuthkan kesanggupan guru untuk mau mengembangkan model-model pembelajarannya sesuai dengan criteria siswa yang dihadapi,juga dituntut adanya kreatifitas dan kecerdasan guru  yang tinggi  untuk mengkreasikan sumber-sumber  pembelajaran  yang ada dan memanfaatkannya  secaraproposional

    Salah satu kenyataan yang sering terjadi pada tiap-tiap lembaga  pendidikan, baik yang berstatus negeri maupun swasta bahwa  masih terlihat sebagian guru dan calon guru atau siapapun yang dihadapkan dengan suatu  tugas  mengajar, belum memahami atau  terampil  dalam memilih, menetapkan dan menggunakan sarana yang ada dengan tepat dan benar. Disi lain, ada juga sebagian guru yang secara terus menerus hanya mengguanakan satu strategis pembelajaran untuk menyampaikan semua jenis bahan pelajaran  kepada siswa. Sebagian guru lainnya hanya mengajar secara  klasik. Mereka mengajar  sebagaimana guru mereka mengajar dulu sewaktu mereka menjadi siswa. Akibatnya hasil pembelajaran  yang diinginkan belum optimal.

    Demikian  pula dalam pembelajaran matematika. Sebagai guru  tidak mengetahui apa tujuannya mengajarkan ini kompetensi apa yang diinginkan pada anak untuk dikuasainya. Menurut GBPP  Matematika  bahwa tujuan diberikannya matematika pada jenjang pendidikan dasar dan  menengah adalah :

    (1)   Mempersiapkan siswa yang  sanggup menhadapi kehidupan yang kmpotitif dan menggunakan daya piker yang selalu berkembang melalui latihan bertindak atas dasar yang logis, rasional, kritis, jujur, cermat, efektif dan efisien. (2) Mempersiapkan siswa agar dapat menggunakan matematika dalam kehidupan sehari-hari dan dalam mempelajari berbagai ilmu pengetahuan (GBPP 1994  :  1 )

    Tetapi pada pelaksanaannya, hasil belajar yang di peroleh setelah berlangsung proses belajar mengajar di sekolah menunjukkan bahwa  Nilai Ebtanas Murni (NEM) siswa pada tingkat SD, SMP, dan SMA sederajat untuk mata pelajaran matematika selalu menempati kategori sedangmenengah ke bawah, dan sangat kurang ( Data Hasil Belajar Matematika, Badan Statistik NTB ).

    Di SMP Negeri 3 Dompu misalnya hasil belajar matematika siswa selama lima tahun terakhir belum menunjukkan peningkatan yang signifikan. Sepertinya rata-rata nilai mata pelajaran ini  sulit bergeser dari angka 4 (empat). Berikut data rata-rata hasil UN mata pelajaran matematika pada SMP Negeri 3 Dompu 2010-2011

    Tabel. 01

    Tahun

    2007/2008

    2008/2009

    2009/2010

    Rata-rata

    4,75

    4,35

    4,76

     

    Kenyataan menunjukkan bahwa kemampuan siswa masih jauh dari standar yang di harapkan, dan ini merupakan sebuah masalah yang cukup pelik, untuk itu, sekolah secara intern telah mengupayakan berbagai alternative pemecahannya seperti menyelenggarakan MGMP, meningkatkan para guru dalam Diklat, pengayaan intensif bagi siswa kelas III, pembuatan alat peraga, pengadaan buku-buku dan lainnya. Semuanya bertujuan untuk meningkatkan hasil belajar siswa. Namun kenyataannya, hasilnya tetap belum meningkat.

    Menyikapi fenomena tersebut, penulis terinspirasi oleh sebuah teknik pembelajaran matematika, yaitu pola Latihan Berjenjang yang di anggap cukup berhasil di Laksanakan oleh para guru IPA-FISIKA. Kemampuan siswa meningkat cukup cukup signifikan. Berangkat dari asumsi bahwa matematika dan fisika sam- sama mata pelajaran eksakta, sehingga penulis tertarik untuk mengkaji Pola Latihan Berjenjang dalam pembelajaran matematika, khususnya dalam pembelajaran Operasi Bentuk Aljabar pada siawa kelas IX SMP Negeri 3 Dompu

    Prestasi belajar matematika siswa kelas IX yang di kutip dari Data Hasil Ulangan Harian pada setiap SK/KD pada semester Ganjil tahun Pelajaran 2010-2011, menunjukkan hasil yang kurang memuaskan.

    Tabel. 02

    No

    Kelas

    Rata-Rata Kelas/Ketuntasa Belajar pokok Bahasan

    Kesebangunan

    Tabung,Kerucut, Bola

    Staistik

    Peluang

    RT

    KB

    RT

    KB

    RT

    KB

    RT

    KB

    1

    IX-A

    6,50

    76%

    6,34

    75%

    6,79

    74%

    6,75

    78%

    2

    IX-B

    5,68

    70%

    5,27

    74%

    6,29

    69%

    5,42

    77%

    3

    IX-C

    5,28

    66%

    5,56

    72%

    6,50

    72%

    6,26

    75%

    4

    IX-D

    5,43

    65%

    5,34

    73%

    6,05

    66%

    6,53

    72%

     

    Dari table di atas, rata-rata prosentase belajar siswa kelas IX belum memenuhi standar ketuntasan belajar secara klasikal yaitu mencapai 85% (Departemen Pendidikan Dan Kebudayaaan, 1997 : 12 ). Lebih khusus lagi pada siswa kelas IX B rata-rata kelas maupun prosentase belajar paling rendah dibandingkan dengan kelas IX yang lain.

    Untuk itu, diambil kelas IX B di pilih sebagai objek penelitian. Dipilihnya kelas IX-B sebagai obyek penelitian karena dari hasil informasi beberapa guru matematika di seklah tempat penelitian selama mengajar di kelas IX tahun pelajaran 2009/2010 memiliki ketuntasan belajar yang masih kurang terhadap materi pelajaran matematika khususnya operasi-operasi hitung. Sebagai mana di ketahui bahwa kemampuan operasi hitung merupakan kemampuan dasar yang di harus di milii siswa sebelum mempelajari operasi aljabar yang melibatkan bilangan berpangkat bulat san bentuk akar serta penggunaannya dalam memecahkan masaalah sederhana.

    Pada pokok Bahasan Operasi Aljabar yang melibatkan bilangan berpangkat bulat dan bentuk akar , dipandang perlu menggunakan Pola Latihan Berjenjang. Alasannya Bahwa kemampuan siswa pada jenjang SMP masih pada tahap Operasi Formal yang sebaran usia II tahun atau 12 keatas, tahap bilamana pengerjaan-pengerjaan dan yang logis dikerjakan tanpa bantuan benda-benda konkret. Teori J Peaget yang di kutip Russeffendi (lisnawati, 1993:85).

    Pola latihan Berjenjang adalah sebuah pola pembelajaran yang di mulai dari tahap pemahaman sederhana menuju tahap pemahaman yang lebih komplek, pola ini mungkin di anggap efektif untuk di terapkan pada operasi aljabar yang melibatkan bilangan berpangkat bulat dan bentuk akar , karena dapat membimbing siswa menyelesaikan soal-soal latihan yang di berikan secara bertahap dari yang sederhana sampai soal-soal latihan yang sifatnya lebih kompleks.

     

    1. Permasalahan

    Berdasarkan latar belakang di atas, maka dapat di rumuskan permasalahan dalam penelitian ini sebagai berikut :

    1. Apakah Pola Latihan Berjenjang cukup efektif dalam pembelajaran operasi aljabar yang melibatkan bilangan berpangkat bulat dan bentuk akar pada  siswa kelas IX  SMP 3 Dompu ?
    2. Faktor-faktor apa yang di turut mempengaruhi efektifnya Pola Latihan Berjenjang dalam pembelajaran Operasi Aljabar yang melibatkan bilangan berpangkat bulat dan bentuk akar pada siswa kelas IX SMP Negeri 3 Dompu ?.
      1. Tujuan Penelitian

    Penelitian  ini  bertujuan  untuk  :

    1. Mengetahui  efektifitas  penggunaan Pola  Latihan  Berjenjang  terhadap

    Pembelajaran Operasi  Aljabar yang melibatkan bilangan berpangkat bulat dan bentuk akar siswa kelas IX  SMP 3 Dompu  tahun pelajaran  2010 – 2011

    1. Menemukan  factor-faktor paling dominant  yang turut mempengaruhi  pola Latihan Berjenjang  dalam pembelajaran  Operasi    Aljabar  yang melibatkan bilangan berpangkat bulat dan bentuk akar siswa  kelas  IX SMP  Negeri  3  Dompu  tahun  pelajaran 2010/2011

     

    D.      Manfaat  Penelitian

    Penelitian  ini  diharapkan  dapat  memberikan  kontribusi positif  terhadap   pihak baik  Khususnya  :

    1. 1.          Bagi  Siswa, diharapkan  terjadi  peningkatan  kualitas proses  dan hasil belajar  matematika Sebagai   imbas  dari  penerapan  Pola  Latihan  Berjenjang  khusunya  dalam pembelajaran   Operasi    Aljabar  yang melibatkan bilangan berpangkat bulat dan bentuk akar bidang  studi  Matematika. Selain  itu, diharapkan  dapat  memberikan  gambaran  bagaimana  cara belajar  yang  efektif  sehingga  memungkinkan  bagi peningkatan prestasi  belajar.
    2. 2.           Bagi  Guru, dapat  menemukan salah  satu   pola pembelajaran  beserta   tekhnik  Penerapannya  yang   benar  sehingga  dapat  membantu  mereka

    dalam   memecahkan permasalah  kemampuan siswa   yang  rendah, khususnya dalam operasi  hitung, Selain  itu, mengingat  penelitian ini  akan dilaksanakan  dalam bentuk  Penelitian Tindakan  Kelas (PTK)  diharapkan  guru  akan termotivasi  untuk  mengadakan  Penelitian  Tindakan  Kelas (PTK) karena sangat  bermanfaat  dalam mempebaiki  kegiatan  pembelajaran.

    1. Bagi  Sekolah , hasil  penelitian ini diharapkan  akan memberikan sumbangan  yang  baik  pada  sekolah  dalam  rangka  memperbaiki  proses   pembelajaran  matematika sehingga  diharapkan  akan muncul  kebijakan – kebijakan yang mengarah  kepada peningkatan kualitas  dan prestasi  belajar  matematika siswa.

     

    1. Hipotesis Penelitian

    Berdasarkan rumusan masalah, maka hipotesis tindakan dalam penelitian ini adalah:

    “Untuk mengetahui  efektifitas  penggunaan Pola  Latihan  Berjenjang  terhadap

    Pembelajaran Operasi  Aljabar yang melibatkan bilangan berpangkat bulat dan bentuk akar siswa kelas IX  SMP 3 Dompu  tahun pelajaran  2010 – 2011”

    BAB II

    LANDASAN    TEORI

     

    A.     Deskripsi   Teori

    1. 1.      Hakekat  Matematika

    Matematika  adalah  ratunya  ilmu  pengetahuan ( matematics  is the queen of  sciences), maksudnya  adalah  matematika itu  tidak  tergantung  kepada bidang  studi  lain, dan agar  dapat  dipahami  orang dengan  tepat kita harus  menggunakan symbol dan istilah  yang cermat  yang disepakati  secara bersama. Meliputi  ilmu  dedukatif  ilmu  tentang  pola  keteraturan; ilmu  tentang struktur yang terorganisasi   mulai  dari  unsur yang tidak didefinisikan, ke aksioma atau postulat dan akhirnya ke dalil; dan matematika adalah pelayan ilmu, ( Russefendi,1984:261)

     

     

     

    Matematika  dengan  pengertiannya   adalah  materi  dan pola  pikirnya telah dipilh  dan disesuaikan dengan proses  perkembangan  kemampuan  siswa, Walaupun  objek  matematika adalah abstrak, namun pengajarannya  dapat dimulai dari objek yang konkret. Demikian pula  pola pikir  matematika adalah  dedukatif   namun  dalam pembelajaran pada  jenjang  SMP, pada  tahap  pertama dapat dimulai  dengan induktif. ( GBPP, 1995:3 )

    Menurut  Dines dalam Lisnawati ( 1993:229) matematika  seyogyanya  diajarkan  dengan  urutan konsep  murni, dilanjutkan dengan  konsep notasi dan diakhiri  dengan  konsep terapan, disamping  untuk dapat   mempelajari  matematika  dengan  baik  dimulai  dari  benda-benda konkret  yang  beragam. Matematika adalah  suatu  kumpulan system, yang setiap  dari system-sistem itu  mempunyai  struktur   tersendiri  yang sifatnya  dedukatfi ( Hudoyo, 1982 : 95 )

    Oleh  sebab  itu  dapat  kita  tarik  kesimpulan  bahwa  matemaika  merupakan ilmu  yang sangat  penting  karena matematika  dapat  membantu  seseorang  dalam  mempelajari  ilmu  yang lain  seperti ilmu Pengetahuan  Alam dan Ilmu  Pengetahuan  Sosial, selain itu juga  matematika  dapat diterapkan dalam kehidupan  sehari-hari  dan perkembangan  ilmu pengetahuan dan tekhnologi ( IPTEK  ) disebutkan dalam ( GBPP, 1995 : 3 )

    1. Aspek-Aspek Tujuan  Pembelajaran Matematika

                Tujuan  Pendidikan  dan  Pengajaran  matematika dapat dibedakan  dan disusun menurut  hierarkinya  sebagai berikut :  Tujuan  Umum, Tujuan instusional, Tujuan Kurikuler  dan Tujuan  Instruksional  dikemukan oleh  Purwanto  (2002:40)

    Tujuan  Umum  ialah  tujuan  pendidikan  yang berlaku untuk  seluruh  lembaga pendidikan  yang diselenggarakan oleh suatu negara. Tujuan Institusional  adalah tujuan  pendidikan  yang  akan dicapai  menurut jenis dan tingkatan sekolah atau  lembaga pendidikan masing-masing. Tujuan Kurikuler  adalah  tujuan kurikulum sekolah yang telah diperinci menurut  mata  pelajaran atau  kelompok mata pelajaran. Sedangkan  Tujuan  instruksional  adalah  tujuan  pokok  bahasan atau  sub pokok bahasan  yang akan diajarkan  oleh  guru.

    Tujuan-tujuan  yang disebutkan  diatas  dapat  dijelaskan  secara  lebih  rinci  menurut  pendapat  Bloom  dalam Purwanto ( 2002:45 ) ada tiga macam  ranah yang merupakan hasil  belajar  yaitu : (1) ranah kognitif

    Mencakup  hasil  belajar  yang berhubungan  dengan ingatan, pengetahuan  dan kemampuan  intelektual. (2) Ranah efektif  mencakup  hasil  belajar  yang berhubungan dengan sikap, nilai-nilai, perasaan  dan minat. (3)  Ranah  Psikomotorik   mencakup hasil belajar yang berhubungan dengan ketrampilan fisik/gerak yang di tunjang oleh kemampuan psikis.

    Dalam merancang sebuah pembelajaran matematika, ketiga ranah tersebut selalu di munculkan, oleh Bloom dalam purwanto(2002:45-47) ranah kognitif di bagi lagi menjadi enam tingkatan yaitu : (1) ingatan, (2) pemahaman, (3) penerapan, (4)penguraian, (5) penyatuan, (6) penilaian, Keterkaitan keenam tingkat kemampuan itu dengan perumusan TIK, dapat di jelaskan sebagai berikut :

    1. Kemampuan ingatan (knowledge) ialah tingkat kemampuan yang hanya meminta responden atau siswa yang mengenal atau mengetahui adanya konsep, fakta, atau istillah – istilah.
    2. Kemampuan pemamhaman (comprehension) adalh tingkat kemampuan yang menuntut siswa mampu memahami arti atau konsep, siuasi serta fakta yang di ketahuinya.
    3. Tingkat penerapan (application), di sini siswa di tuntut kemampuannya untuk menerapkan atau menggunakan apa yang telah di ketahuinya dalam suatu situasi yang baru baginya.
    4. Tingkat kemampuan penguraian (Analysis) adalah tingkat kemampuan yang menuntut siswa untuk menguraikan atau menganalisis suatu integritas atau situasi tertentu ke dalam komponen – komponen atau unsure-unsur pembentuknya.
    5. Tingkat kemampuan penyatuan (Syntesa) adalh tingkat kemampuan siswa untuk menyatukan atau menggabungkan beberpa pengetahuan yang di milikinya untuk dapat menemukan abstraksinya yang berupa integritas.
    6. Tingkat kemampuan penilaian (evaluation) adalah tingkat kemampuan untuk mengetahui sejauh mana kemampuan yang telah di miliki oleh seorang siswa tentang pernyataan, konsep, situasi, dan sebagainya, berdasarkan criteria yang telah di tentukan
    7. 3.      Tahap Perkembangan Anak dalam Pembelajaran Matematika

    Tahap perkembangan setiap indifidu atau peserta didik tentunya berbeda-beda Tahap prtkembangan yang di maksud adalah tingkat kematangan berfikir dari setiap peserta didik dalam belajar. Setiap manusia memiliki perkembangan yang berbeda-beda, di sesuaikan dengan kondisi yang di hadapinya, factor-faktor tersebut antara lain : factor lingkungan, factor umur dan sebagainya.

    Dengan teori J. Russeffendi dalam (Lisnawati 1993: 85-86) memisah-misahkan tahap perkembangan anak sebagai berikut :

    1. Tahap Sensori Motor Integligence yaitu dari lahir sampai usia 1½  tahun atau 2 tahun. Pada sebaran usia 0 tahun sampai 2 tahun, tahap sensasi (rabaan) dan gerak merupakan hal- hal yang  penting  dalam  pengalamanya dan  anak  belajar  berdasarkan  pengalaman  berfikir  dengan  perbuatan atau  berfikir  dahulu  sebelum  bertindak.
    2. Tahap  Pra  Operasi  yaitu  tahap  persiapan  kearah  mengorganisir pengerjaan-pengerjaan yang konkret/kerja praktek.

    1)      sebaran usia  2 tahun  sampai  4 tahun  tahap  dimana representase .Dimungkinkan  bila dalam  bentuk bahasa, permainan imaginasi dan gambar.

    2)      Sebaran  usia  4 tahun sampai  7  tahun atau  8  tahun  mulai  berfikir Intuitif   kalau  pertimbangannya  tentang  besar, bentuk, dan Hubungannya  dengan  benda-benda  didasarkan pada interprestasi  Dan pengalamnnya  (  presepsi  sendiri  ) tanpa  masuk  akal.

    1. Tahap  operasi  konkret  sebaran  usia  7  tahun  atau 8  tahun  sampai  11  tahun atau 12  tahun, tahap bilamana  pekerjaan, dapat  dilakukan  dengan Bantuan  benda-benda konkret  atau  dalam  keadaan tertentu.

    d.   Tahap  operasi  Formal  sebaran  usia   11 tahun  atau  12  tahun  ke atas, tahap  bilamana  pengerjaan-pengerjaan  dan  yang logis  dikerjakan tanpa     bantuan  benda-benda  konkret.

    Peserta  didik  usia  sekolah  menengah  khususnya  kelas IX  berada   pada  tahap operasi  formal, dengan demikian  mereka mampu  berfikir secara   abstrak, membayangkan  sesuatu yang kompleks, serta  menguji benar  tidaknya  suatu  dugaan atau  hipotesis. Namun perlu  ditekankan bahwa  usia yang dicantumkan untuk  setiap  tahap  bukannya  suatu  yang  mutlak . Piaget  sendiri  menekankan  bahwa  proses  perkembangan kognitif  berlangsung sesuai dengan  tahap-tahap diatas, namun usia  manusia  dalam  mencapai  tahap  tersebut, dapat  berbeda-beda. Kadangkala  diperlukan  penggolongan  terhadap  proses  berfikir ( Meir,1978:45). Pengalaman  belajar  yang efektif  cenderung untuk  memajukan  perkembangan kognitif. (Suherman,: 1992 :103 )

    Selanjutnya  dapat  ditarik suatu  kesimpulan  bahwa dalam belajar  matematika  diperlukan  penguasaan  konsep  secara  bertahap, dalam arti  belajar . Dari  konsep  yang sederhana menuju  ke  konsep yang lebih  sulit, selanjutnya  siswa belajar  menuju ketahap  yang lebih kompleks. Dengan methode semacam ini anak di bimbibng  untuk  dapat  menyelesaikan  soal-soal  latihan  yang diberikan mulai  dari  latihan yang sifatnya  sederhana, sulit  kemudian  kompleks, dengan  cara seperti  itu  anak  dilatih  untuk dapat  menyelesaikan  semua  evaluasi  dalam  bentuk  latihan  yang  diberikan.

    Menurut  Lisnawati  (1993:230)  methode  mengajar  yang  diterapkan  dalam  suatu  pengajaran dikatakan  efektif  bila  menghasilkan  sesuatu sesuai  dengan  apa yang diharapkan  atau  dengan  kata  lain  tujuannya  tercapai bila  makin tinggi  kekuatannnya  untuk  meghasilakn sesuatu  maka makin  efektif  methode  pembelajaran  yang  digunakan.

     

    B.        Pengertian  Belajar  dan  Prestasi  Belajar

    1. Pengertian  Belajar

    Belajar   adalah  kegiatan para  siswa baik  itu  dengan  bimbingan  guru atau  usaha  sendiri  sepenuhnya. Guru  sebagai  pendidik  berusaha membantu  agar  siswa belajar  lebih  terarah, lebih  lancer,lebih  mudah  dan lebih  berhasil. dan  bila  ada  sejumlah  orang  yang  enggan  belajar, membimbing  agar  siswa mencapai  tujuan, dan  dapat  meningkatkan  minat  belajar  siswa  ( Nasution,1984:21 )

    Belajar bukan  hanya  aktifitas  yang  terjadi  pada diri  sendiri  akan  tetapi merupakan  sesuatu  yang  terjadi atas  diri  individu dengan  mengolah  informasi yang ada  dan menerapkannya  ( Nasution,1984:30 )   Menurut  Slamento ( 2003:2) belajar adalah  suatu  proses usaha  yang dilakukan seseorang  untuk  memperoleh satu  perubahan tingkah  laku yang baru  secara  keseluruhan, sebagai  hasil  pengalamannya sendiri  dalam interaksi  dengan  lingkungannya.

    Menurut  Meir ( 2004 : 90 ) belajar berarti  bergerak aktif  secara   fisik  yaitu  dengan  memanfaatkan  indra  sebanyak mungkin  dan membuat seluruh tubuh/pikiran terlibat  dalam  proses  belajar, karena  gerakan  fisik dapat  meningkatkan kecerdasan  mental  yang baik dalam sebuah  pembelajaran. Sedangkan  belajar  adalah  aktifitas  yang dilakukan  secara  terus menerus dan berulang-ulang  yang dilakukan  dengan  latihan ( Lisnawati, 1993 : 68 )

    1. 2.       Pengertian Prestasi  Belajar

                                    Menurut  Suherman  ( 1992 :121 )  bahwa  preestasi  adalah  hasil  yang diperoleh  dari  kegiatan  yang  dilakukan  atau  dikerjakan baik secara  individu  atau  kelompok, Hudoyo ( 1982 :235 ) mengemukan  bahwa  prestasi  belajarmerupakan  hasil  nyata  yang  diperoleh suatu  kegiatan yang dilakukan baik individu  maupun  kelompok. Sementara  itu  Nurkancana ( 1987 : 2 )  menjelaskan  bahwa  prestasi  belajar  merupakan hasil  yang  dapat dicapai oleh  seseorang  setelah  yang bersangkutan  mengalami  proses  belajar  dalam  jangka waktu  tertentu.

    1. Faktor-faktor   Yang   Mempengaruhi  Prestasi  Belajar

    Rusefendi   ( 1984 :53  )  menjelaskan  bahwa  factor-faktor  yang  mempengaruhi  keberhasilan  belajar siswa  yaitu  : (1) factor  siswa  sendiri  yang meliputi : kecerdasan, kesiapan,kepribadian,bakat serta minat,(2) factor  yang berasal dari  luar yang antara lain : meliputi : suasana  belajar, social  ekonomi  dan kondisi masyarakat.

    Lebuh lanjut  lagi ahli lain menyatakan  bahwa  factor  yang  mempengaruhi  prestasi  belajar  factor  intrn dan factor ekstern. Faktor intrn yang dimaksud  adalah  factor jasmaniah  yang meliputi  kesehatan  dan cacat tubuh, factor psiologis, meliputi  intelegensi, perhatian , minat, bakat, motivasi  dan kematangan ( Suryabrata,1984:97). Faktor eksternal terdiri  dari  faktor keluarga, sekolah, dan masyarakat ( Slamento,2001 : 60 ).

    Sujana  ( 1989 :41 )  mengatakan  bahwa  faktor  yang  paling  dominan  mempengaruhi  kualitas  hasil hasil  belajar siswa adalah kompetensi  professional  yang dimiliki oleh  guru selaku  actor  atau  sutradara  dalam  pembelajaran, artinya  kemampuan yang dimiliki  oleh  seorang  guru, baik dibidang kognitif ( intelektual ), seperti  penguasaan  bahan, bidang sikap seperti  mencintai  profesinya dan bidang prilaku seperti  keterampilan  mengajar, menilai  hasil  belajar  dan lain-lain. Ahli lain  mengatakan  bahwa salah  satu factor  yang  mempengaruhi  prestasi belajar  adalah yang berasal  dari  proses  belajar  mengajar yaitu  methode serta  tekhnik  evalusai  belajar  yang diterpkan (Slamento,2001:33).

    Methode  belajar  yang  dimaksud  adalah methode mengajar yang efektif dan sesuai dengan  kondisi kegiatan  belajar  mengajar, baik  berupa factor siswa  dan dari factor materi  pelajran  yang disampaikan, serta tekhnik  evaluasi yang sesuai   dan  efektiv  digunakan. Tekhnik  atau  pola evaluasi  yang  efektif  digunakan. Tekhnik  atau  pola evaluasi  yang  efektif  tentunya  akan dapat mempengaruhi  prestasi  belajar siswa, guna  tercapainya tujuan  pendidikan secara menyeluruh.

    1. 4.    Proses  Belajar  Mengajar

    a.    Proses   Belajar          

    Gagne  dalam Sudjana (2004:46 )  berpendapat, bahwa  belajar  dapat dilihat  dari  segi  proses  dan  dapat  pula  dilihat  dari  segi  hasil, Dari  segi proses  dibagi  menjadi  delapan tipe perbuatan, yakni :

    1)      Belajar  Signal. Bentuk  belajar  ini   paling  sederhana  yaitu  memberikan   Reaksi  terhadap  perangsang.

    2)      Belajar  mereaksi  perangsang  melalui  pengamatan, yaitu memberikan  Reaksi  berulang-ulang manakala  terjadi  reifocement  atau  penguatan.

    3)      Belajar  membantu  rangkaian,yaitu  belajar  menghubungkan  gejala/factor / yang  satu  dengan yang lain,  sehingga  menjadi satu  kesatuan (rangkaian) yang berarti.

    4)      Belajar  Asossiasi Verbal, yaitu  memberikan reaksi dalam  bentuk  kata -kata, bahasa terhadap perangsang  yang diterima.

    5)      Belajar  konsep, yaitu menempatkan  objek  menjadi satu klasifikasi  tertentu.

    6)      Belajar  kaidah atau  belajar  prinsip, yaitu  menghubung-hubungkan beberapa  konsep.

    7)      Belajar  memecahkan  masalah, yaitu  menggambungkan  beberapa  kaidah  atau prinsip, untuk memecahkan  persoalan.

     

    Kedelapan  tipe  diatas disusun  mulai dari  yang  sederhana  sampai  kepada  yang  kompleks. Dengan  kata  lain  mempunyai  hubungan  hirarki.

    Artinya  dalam sebuah  kegiatan  belajar  sebaiknya  guru  harus  mampu  memilih  strategi  dan  methode  pembelajaran   yang  baik  yang disesuaikan dengan tingkat kesulitan dari  materi.

    b.      Proses  Mengajar

          Menurut  Sukmadinata ( 2004 : 264-265 ), Peristiwa  mengajar berhadapan  dengan  dua aspek, yaitu  siswa sebagai peserta didik  atau  aspek  belajar, sedangkan  dilihat  dari  segi  guru  merupakan  kegiatan  belajar. Hal  ini  mudah dipahami, karena  mengajar  merupakan usaha guru  dalam menciptakan situasi agar siswa belajar. Ada  beberapa  bentuk  kegiatan  mengajar  yang dapat  dilakukan guru (Sukmadinata,264-265).

    1)                  Berdasarkan  jumlah siswa  yang  diajar  dibedakan  antara  kegiatan Mengajar klasikal, kelompok dan individu.

    2)                  berdasarkan  jarak  antara  guru  dengan siswa  dibedakan antara

    mengajar  jarak  jauh  dan tatap  muka, atau belajar  dengan  komunikasi  tidak  langsung dan komukisa  langsung.

    3)                  berdasarkan  media  yang  digunakannya dibedakan antara

    mengajar  secara  lisan, menggunakan media tulis dan media  elektronika.

    4)                  Berdasarkan  dominasi peranan guru  dan siswa, dibedakan

    Mengajar  yang  bersifat  ekspositori  dan  mengajar inkuiri-discaveri. Mengajar  bersifat ekspoisitori  yang   lebih  berperan aktif  adalah guru, sedangkan mengajara bersifat inkuiri-diskaveri  yang lebih aktif adalah  siswa.

    5)                  Mengajar  dengan  menggunakan  alat  peraga  atau  audio visual aid

     

    c.      Methode  dalam  Proses  belajar – Mengajar

     

                Methode  pengajaran  dapat  diartikan  sebagai  cara-cara atau tekhnik  mengajar  topic-topik tertentu  yang disusun secara  teratur dan logis ( Hudoyo,1982:126)

    Dilihat   dari  segi  cara  bekerjanya  methode  mengajar  tersebut  bermacam-macam  yang seyogyanya  dipersiapkan  sebelum  pembelajaran dimulai, dan secara  totalitas dapat  digunakan selama  proses belajar mengakar  berlangsung.

    Methode  mengajar  pada dasarnya memberikan  petunjuk  tentang apa yang harus  dikerjakan oleh seorang  guru.  Methode  mengajar  yang  dipilih  dan  digunakan  oleh  guru  sangat  menentukan  tingkat keaktifan  siswa    dalam  belajar., serta  penggunaan  alat  Bantu peraga  pengajaran  yang  tepat.

    Oleh sebab  itu apabila  seorang  guru  menginginkan  siswa  aktif  dan  kreatif  dalam belajar, hendaknya dipilih  methode yang  menunjang tumbuhnya  kegiatan belajar siswa  secara  optimal, baik itu  kegiatan belajar  mandiri maupun  kelompok. Karena  metode atau pendekatan dalam  pembelajaran  cukup  banyak antara  lain meliputi  metode  ceramah, demonstrasi, eksperimen, tanya  jawab, ekspositori  dan lain-lain ( Lisnawati,1993 :81 )

    Menurut  Nasution  (1996:27)  bahwa  metode  mengajar  adalah  suatu  cara kerja yang dilakukan secara  sistimatis  dan  merupakan salah  satu alat  untuk mencapai  suatu  tujuan.

     

    C.        Pola  Latihan   Berjenjang   pada  Operasi  Bentuk  Aljabar

    1. 1.      Pola   Latihan  Berjenjang

    Menurut  Lisnawati (  1993 :67  )   pada  prinsipnya  pengajaran  matematika  agar  berhasil   harus  dimulai  dari  operasi  konkret  atau  kerja  praktek Yang dilanjutkan  ke operasi  semi  konkret  terus  ke semi  abstrak  dan terakhir  ke  operasi  bentuk  abstrak.

    Tekhnik  pola  latihan  berjenjang   dalam  pelaksanaannya  diberikan selama  tahap pengembangan konsep, diikuti  dengan  tahap  penerapan. Pada tahap penerapan  inilah  pola  latihan  berjenjang  diberikan. Dengan demikian menggunakan pola  semacam ini peserta  didik dilatih  berfikir secara  berjenjang  atau  bertahap  dan  membiasakan siswa agar  menjadikannya  sebagai salah satu tolak  ukur terhadap pendalaman materi  pada  tahap berikutnya ( Lisnawati,1993:67 )

    Sistem  pembelajaran  melalaui  pola  latihan  berjenjang  cocok diterapkan pada  materi yang sifatnya kontinyu dan saling berkaitan, karena pola ini  menekankan  pada  konsep  berfikir  dari  yang  sifatnya  sederhana

    Menuju  ke konsep  berfikir dari yang sifatnya sederhana menuju ke konsep berfikir yang sifatnya kompleks. Konsepberfikir seperti ini merupakan ikatan kebertahapan yang saling berkaitan.

    Pembelajaran operasi bentuk aljabar dengan menggunakan pola latihan berjenjang sangatlah sesuai. Karena pada pokok bahasan operasi bentuk aljabar di perlukan kemampuan operasi hitung yang baik, di mana operasi hitung di mulai dari penguasaan operasi hitung sederhana kemudian  menuju operasi hitung kompleks.Dalam hal ini di mulai dari operasi penjumlahan suku- suku sejenis, pengurangan suku-suku sejenis, perkalian suku dua, memfaktorkan bentuk aljabar sampai menyederhanakan pecahan bentuk aljabar. Pada pokok bahasan operasi bentuk aljabar , Pola latihan  berjenjang akan sangat efektif apabila menggunakan alat sumber bahan yang mendukung, seperti lembar kegiatan siswa (LKS) yang menuntut sekaligus membimbing siswa dalam memecahkan masalah dari sifatnya sederhana sampai pada pemecahan masalah yang lebih rumit. Misalnya, pembelajaran di mulai dari operasi penjumlahan dan pengurangan suku- suku sejenis, lalu perkalian suku dua, kemudian pemprokator, dan akhirnya menyederhanakan pemecahan dalam bentuk aljabar (Lisnawati, 1993:68).  Selain itu, di gunakannya pola latihan berjenjang karena konsep matematika dalam kurikulum di mulai dari konsep yang sifatnya sederhana menuju konsep yang sifat kompleks (Lisnawati, 1993: 70).

    1.  Teknik Evaluasi Berjenjang

    Lisnawati (1993: 67) menemukakan bahwa tehnik evaluasi harus mengacu pada prinsip pengajaran matematika, evaluasi yang di lakukan melalui tahapan-tahapan pemaham,an serta kemampuan siswa yang bertujuan untuk memungkinkan siswa memiliki pemahaman dasar kemampuan pemahaman siswa dengan tingkatan lebih tinggi. Nurkancana (1986:37) juga mengatakan bahwa ilmu –ilmu eksak di perlukan penanaman konsep pemikiran secara bertahap sebagai tolak ukur terhadap tahap berikutnya.

    Prinsip evaluasi secara kontinuitas menemukakan bahwa evaluasi yang baik tidak mungkin hanya di lakukan secara insidentil belaka, karena penilaianpun harus di lakukan secara kontinyu. Hasil penilaian yang di peroleh di suatu waktu harus senantiasa di hubungkan dengan hasil – hasil penilaian pada waktu sebelumnya, sehingga dengan demikian dapat di peroleh gambaran yang jelas tentang perkembangan peserta didik selam kegiatan belajar mengajar berlangsung ( Purwanto, 2002: 3).

     

    Salah satu pertimbangan yang harus di gunakan dalam memilih satu metode untuk suatu tindakan evaluasi yang akan di lakukan dalam memperhatikan dan mempertimbangkan tingkat kemampuan dari objek yang akan di evaluasi. Sistim evaluasi berjenjang pada dasrnya merupakan teknih evaluasi belajar yang di lakukan secara bertahap, dari pemberian soal- soal yang sangat sederhana menuju soal yang sangat kompeks. Dengan kata lain, teknik evaluasi berjenjang dalam pola evaluasi dengan menggunakan latihan soal-soal yang bersifat bertahap atau berjenjang yaitu dari soal latihan yang sifatnya sederhana menuju soal yang bersifat nya kompleks.

     

    1. A.              Kerangka Berpikir

    Dengan berlandasan pada teori –teori di atas maka pada pokok  bahasa operasi  aljabar yang melibatkan bilangan berpangkat bulat dan bentuk akar di pandang perlu menggunakan metode mengajar serta pola pembelajaran yang efektik. Pola pembelajaran yang efektif di maksud dalam teknik pola pembelajaran yang mampu membimbing siswa menguasai materi pembelajaran dari konsep- konsep yang dekat dengan mereka, yang mudah, lalu kemudian  mereka di hadapkan kepada konsep-konsep yang lebih rumit, dan setelah terjadi proses pembiasaan, siswa pada akhirnya di berikan permasalhan –permasalahan yang di anggap cukup kompleks bagi mereka. Oleh sebab itu di dalam pembelajaran operasi aljabar di perlukan teknik pembelajaran seperti pola latihan berjenjang.

    Dalam pokok bahasan atau materi pokok operasi  aljabar yang melibatkan bilangan berpangkat bulat dan bentuk akar di perlukan kemampuam operasi hitung dari paling sederhana sampai paling rumit, yang melibatkan sifat bilnagn berpangkat dan bentuk akar, bilangan berpangkat bulat daan bentuk akar, memecahkan masalah sederhana yang berkaitan dengan bilangan berpangkat dan bentuk akar, dan menyederhanakan pecahan dalam bentuk aljabar . Semua itu harus di lakukan dengan sebuah teknik pembelajaran yang tepat dan sesuai yaitu menggunakan pola latihan berjenjang.

    BAB III

    METODELOGI PENELITIAN

    1. Desain Penelitian.

    Penelitian ini di lakukan dalam bentuk tindakan kelas (Classroom Action Reserch). Dengan demikian, prilaku- prilaku yang di berikan kepada siswa akan di kelompkkan dalam siklus- siklus yang  terintegrasi. Kendala- kendala yang di temukan pada siklus sebelumnya akan di temukan solusinya pada siklus berikutnya,  demikian seterusnya sehingga di peroleh ketuntasan belajar siswa, khususnya dalam pembelajaran operasi bentuk aljabar. Sebuah penelitian tindakan kelas tentu saja mencakup tindakan dan harapan. Dengan kata lain, melalui tindakan –tindakan yang terpadu dan terencana (Pembelajaran Matematika dengan pola latihan berjenjang). Diharapkan siswa mampu menguasai sifat-sifat bilangan berpangkat dan bentuk akar dengan baik.

    B.        Setting Penelitian

    1. Waktu Penelitian

    Kegiatan penelitian ini dilaksanakan pada semester genap  tahun pelajaran 2010 /2011  mulai bulan september 2010 sampai dengan januari 2011 dengan penjelasan  rincian waktu kerja atau time scedule sebagai berikut:

     

    NO

    URAIAN KEGIATAN Okt

    Nop

    Des Jan Pebr. Maret Ket

    1

    Observasi

    XX

               

    2

    Menyusun Proposal     XX

    XX

           

    3

    Seminar Prroposal  

    XX

           

    4

    Perijinan Penelitin    

    x

           

    5

    Menyusun Instrumen    

    x

         

    6

    Pengumpulan data dengan tindakan              

    7

    1. a.  Kondisi awal
       

    x

    xx

         

    1. b.  Siklus – 1
         

    xx

       

    1. c.  Siklus – 2
         

    x

    xx

    x

     

    8

    Analisis Data      

    x

    x

     

    9

    Penyusunan Laporan hasil Skripsi PTK        

    x

       

    10

    Persiapan dan pelaksanaan  ujian Akhir        

    x

    x

     

    11

    Pelaporan hasil Skripsi / PTK          

    x

     

     

    1. Tempat Penelitian

    Penelitian ini dilaksanakan di SMP Negeri 3 Dompu Kelas IX-B sesuai dengan tujuan dari metode penelitian tindakan kelas.

    1. B.        Subyek Penelitian

    Sebagai mana telah di kemukan sebelumnya, bahwa penelitian tindakan kelas ini akan di laksanakan di kelas IX-B SMP 3 Dompu. tahun   pelajaran  2010 – 2011. Adapun jumlah siswa  kelas IX-B  sebanyak  36  orang  yang  terdiri  dari  13  orang  laki-laki dan 23 orang  perempuan. Dengan  kata  lain, penelitian  ini  dilaksanakan  dalam  bentuk  penelitian populasi  karena  mengambil  seluruh  populasi  sebagai subyek (sample) penelitian.

    D.    Pelaksanaan / Prosedur  penelitian

    Penelitian  ini  mengambil  pokok  bahasan  atau materi pokok operasi  bentuk aljabar  yang   dilaksanakan  maksimal  dalm  tiga siklus. Untuk  dapat melihat  efektifitas  pembelajaran   menggunakan   tekhnik  pola  berjenjang terhadap  kemampuan  siswa  dalam  operasi  bentuk aljabar  serta hasil  yang dicapai  setelah dilakukan  evaluasi  secara  bertahap.

    Penelitian  tindakan  kelas   ini  dilaksanakan  dengan  mengikuti   prosedur  sebagai  yang meliputi : (i). Perencanaan, (ii). pelaksanaan  Tindakan, (iii). Observasi, dan (iv). Refleksi  dalam   setiap  siklus

    Secara  rinci  prosedur  penelitian  tindakan  untuk  setiap siklus  dapat  dijabarkan  sebagai  berikut  :

    1. Perencanaan

    Pada  tahap  perencanaan  kegiatan  yang  dilakukan  sebagai  berikut :

    1. Menyusun silabus  materi  pembelajaran.
    2. Membuat  rencana   pembelajaran pokok  bahasan  operasi  bentuk  aljabar  ( scenario  pembelajaran ).
    3. Menyiapjkan  lembar observasi  untuk  melihat  bagaimana  kondisi  belajar  mengajar  dikelas ketika  penilaian  proses  maupun  metode   mengajar  dilaksanakan.
    4. Menyiapkan  alat  peraga  mengajar  berupa  pola  aljabar  yang sudah  disiapkan  oleh  guru
    5. Menyiapkan  Alat  evaluasi
    6. Pelaksanaan  Tindakan

    Pada  tahap ini  kegiatan  yang  dilakukan  adalah  :

    1. Melaksanakan  scenario  pembelajaran  pada  setiap  siklus.
    2. Mengobservasi  pelaksanaan  scenario  pembelajaran
    3. Melaksanakan  evaluasi  pada  setiap  siklus
    4. Menganalisis  hasil evaluasi  pada  setiap  siklus
    5. Wawancara  hasil  evaluasi
    6. Observasi

    Pada  tahap  ini  dilakukan  observasi  terhadap  pelaksanaan  tindakan  dengan  menggunakan  lembar  observasi. Untuk melihat  pelaksanaan kegiatan  belajar  mengajar  dikelas. Dalam  hal ini guru (peneliti)  diobservasi  oleh guru mata  pelajaran  sejawat, dan siswa diobservasi  oleh guru  (peneliti) ketika  proses  belajar mengajar  berlangsung.

    1. Refleksi  dalam setiap siklus

    Hasil  yang  diperoleh  dari  observasi  dan  hasil  belajar siswa dikumpulkan serta  dianalisa, sehingga  dari hasil  tersebut  guru dapat merefleksi  diri  dengan  melihat  data  dari lembar  observasi . Apakah kegiatan yang di lakukan mengefektifkan kemampuan siswa pada pokok bahasan operasi bentuk aljabar, setelah di laksanakan pembelajarandengan menggunakan teknik evaluasi piola latihan berjenjang. Adapun hasil analisis data yang di lakukan dalam tahap ini termasuk kekurangan-kekurangan yang ada akan di gunakan sebagai acuan untuk merencanakan siklus berikutnya.

    Langkah  –  langkah  tersebut  dapat  disajikan  dalam  gambar  skema sebagai berikut :

     

    E    Jenis dan Sumber Dana

    1. Jenis Data

    Untuk mengatasi masalah daya serap siswa yang kurang terhadap pembelajaran, ada beberapa factor yang ingin di teliti. Factor – factor tersebut adalah

    Data Primer di perolah dari siswa, yaitu kemampuan siswa kelas IX- B SMPN 3 Dompu dalam menyelesaikan soal–soal latihan pada operasi bentuk aljabar.Atau dengan kata lain merupakan data utama hasil  obeservasi guru terhadap siswa berupa keadaan hasil ulangan harian saat kondisi awal, pada siklus 1 dan  siklus 2

    Data sekunder merupakan data penunjang sebagai data pelengkap berupa :

    1) Daftar nama siswa yang tidak berperan aktif saat pembelajaran berlangsung terdiri atas siswa yang bercanda sendiri dan terlihat malas hasil observasi teman sejawat

    2)  Data hasil observasi teman sejawat terhadap guru dan siswa saat pembelajaran.

    3)      Data yang di peroleh dari guru berupa cara merencanakan pembelajaran, metode pengajaran, teknik evaluasi yang efektif, serta pelaksanaannya di dalam kelas, apakah sudah mencakup tujuan pembelajaran yang ingin di capai.

    1. Sumber Data

    Sumber data penelitian ini adalah siswa dan proses belajar mengajar.

    1. Data hasil Siswa
      1. Data Hasil Observasi terhadap guru tentang pelaksanaan scenario pembelajaran yang telah di susun.

    F    Teknik dan Alat pengumpulan Data

     a.  Teknik pengumpulan data

    1.) tes

    2.) non tes

    b.  Alat pengumpulan data

    1.) Tes : Tertulis

    2.) Non tes :  lembar pengamatan / observasi

     

    G.  Validasi Data

    a. tes

    1.) membuat kisi – kisi soal

    2.) membuat instrumen soal

    3.) sistim penilaian

    4.)  membuat kunci penyelesaian jawaban

    5.) membuat skor penilaian butir soal

    6.) menetapkan standar dan jenis penilaian

    b. non tes

    7.) lembar pengamatan siswa menetapkan jenis penyimpangan siswa saat KBM berlangsung.

    8.) lembar pengamatan guru tentang persiapan , pelaksanaan

     

    H.  Analisa Data

     

    Yang digunakan untuk menganalisa data adalah diskriptis komperatif kuantitatif yaitu dengan cara membandingkan datas – data angka yang diperoleh dari hasil ulangan harian pada kondisi awal dan setelah dilakukan tindakan pada siklus ke 1 dan siklus ke 2 . , adapun pembandingannya sebagai berikut :

    1.      Perbandingan antara kondisi awal dengan tindakan siklus ke 1 adalah ada perubahan yang signifikan

    2.      Perbandingan antara kondisi siklus tindakan siklus ke 1 dengan siklus ke 2

    3.      Perbandingan antara kondisi awal dengan tindakan siklus ke 2.

    4.      Perbandingan antara kondisi awal dengan siklus 1 dan siklus 2 sekaligus.

     

     

    I.  Indikator Kinerja

     

    Sebagai indikator kerja sesuai dengan penilaian hasil pada kurikulum 2006 yang berlaku sekarang berdasarkan pada Kriteria Ketuntasan Minimal ( KKM ) yang ditetapkan oleh sekolah melalui tim MGMP sekolah pada awal semester ganjil yaitu 66, jika siswa mendapatkan nilai ulangan 66 atau lebih maka siswa dinyatakan telah tuntas belajar individu pada kompetensi dasar tertentu,sedangkan apabila nilai siswa 66 maka siswa dinyatakan belum tuntas belajarnya dan harus remidial pembelajaran dan atau remidial tes penilaian.

    Pada indikator keberhasilan guru sesuai kurikulum ketuntasan klasikal 85 % dari seluruh siswa yang tuntas belajar individu, jika ketuntasan klasikal lebih dari atau sama dengan 85 % maka pengajaran guru berhasil , jika dibawah 85 % berarti pengajaran tidak berhasil dan harus dicari penyebabnya selanjutnya untuk ditindaklanjuti dengan melakukan perubahan baik pada strategi pembelajaran, model dan metode pembelajarannya ataupun pemanfaatan media ataupun alat peraga bagi siswa.

    Untuk indikator lain sebagai tolok ukur keberhasilan dalam pembelajaran adalah nilai tertinggi dan banyaknya siswa yang mendapat nilai tertinggi, rata – rata kelas minimal sama dengan KKM dan lebih baik lagi  diatas minimal ketuntasan klasikan 85 , serta nilai terendah dengan banyaknya siswa yang mendapat nilai   minimal

    BAB IV

    HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

    A.  Uraian Kondisi  Awal

    1. Proses Pembelajaran.

    Pada kondisi  awal  seperti  biasanya  guru  dalam  menyampaikan materi pokok operasi bentuk aljabar kompetensi dasar mengidentifikasi sifat-sifat bilangan berpangkat dan bentuk akar secara klasikal sedangkan siswa mendengarkan, melihat paparan materi, mencatat / merangkum dan selanjutnya tanya jawab kemudian secara berkelompok siswa mengerjakan latihan soal sacara berjenjang dan mendiskusikan jawabannya pada masing – masing kelompok berikutnya mempresentasikan hasil kerja kelompok ke papan tulis  dan kelompok  lain  menanggapinya  serta  menyimpulkan  hasilnya  dengan bimbingan guru.

    Dari  hasil  observasi  yang  dilakukan  teman  sejawat  diperoleh gambaran sebagai berikut :

    1. Observasi Guru

    1) Penyampaian Guru sangat baik sekali

    2) Kurang memberi kesempatan waktu yang lebih pada siswa untuk mencatat .

    b.      Observasi Siswa

    Siswa terlihat malas mengikuti 1 orang dan bermain sendiri Satu orang  sedangkan  yang  lainnya  terlihat  aktif,  senang, semangat

    1. 2.      Hasil Pembelajaran              Pada kondisi awal setelah selesai melaksanakan proses pembelajaran dilakukan  uji  tes  ulangan  harian  dengan  Kriteria  Ketuntasan  Minimal ( KKM ) = 66 sebagai  tolok ukur keberhasilan pembelajaran individu siswa , pada uji tes kompetensi dasar mengidentifikasi sifat-sifat bilangan berpangkat dan bentuk akar ulangan harian ( UH ) diperoleh hasil  sebagai berikut :

      Tabel 2 : Hasil Ulangan Harian Kondisi Awal

      Dari data tersebut diatas dapat didiskripsikan sebagai berikut :

      a.      Nilai  rata  –  rata  kelas  dicapai  standar  KKM  66  tetapi  masih tergolong rendah.

      b.      Masih banyak sisws harus mengulang karena hasilnya dibwah KKM

      individual 66 yaitu 16 siswa

      c.            Pencapaian ketuntasan secara klasikal hanya 56 % dibawah standar KKM Klasikal 85 % berarti hasil pembelajaran secara umum tidak tercapai sesuai dengan harapan.

      Kesimpulannya  perlu  adanya  perubahan  kegiatan  proses  pembelajaran agar  tujuan  belajar  tercapai  dengan  harapan  dapat  melampaui  standar KKM  individual        maupun           klasikal.             Adapun                         untuk        pembelajaran selanjutnya   perlu  adanya  tindakan  perubahan melalui pola berjenjang dengan  pembelajaran berkelompok dengan menghadirkan LKS .

      B.     Uraian Tindakan Siklus ke – 1

      1.      Tahap Perencanaan Tindakan.

      a.   Langkah Pendahuluan

      1)  menyiapkan  perangkat  pembelajaran  RPP, menyusun perangkat uji tes ulangan harian.

      2)   Mempersiapkan kelompok belajar  4-5  siswa

      3). Mengingatkan siswa tentang pengertian bilangan berpangkat yang sudah dikenal, antara lain kuadrat dan kubik, bentuk pecahan , bentuk akar dan bilangan bulat.

      4). Menyampaikan tujuan pembelajaran, dan manfaat materi pembelajaran dalam kehidupan sehari-hari misalnya : dapat digunakan untuk penulisan perkalian bilangan berulang agar lebih praktis.

       b.   Kegiatan inti

      Rencana Pertemuan 1 :

      1)      Guru membagi siswa menjadi kelompok-kelompok yang terdiri dari 4-5 orang untuk mendiskusikan LKS (sifat-sifat bilangan berpangkat dan bentuk akar) , dan guru sebagai fasilitator.

      2)      Guru menjelaskan tentang  sifat-sifat bilangan berpangkat dan bentuk akar melalui contoh bilangan berpangkat dan bentuk akar sedangkan siswa berkelompok  memperhatikan dan selanjutnya mempelajari mempraktekkan dengan menyusunnya dari contoh contoh bilangan berpangkat dan bentuk akar ,meringkas dan mengerjakan  latihan yang di buat secara berjenjang

      3)   Secara kelompok siswa mempresentasikan dipapan tulis dan yang lain  menanggapi lalu menyimpulkan kebenaran jawaban yang lain menanggapi lalu menyimpulkan kebenaran jawaban dengan bimbingan guru.

      4)      Follow  up  bagi  siswa  dengan  memberikan  tugas  pekerjaan rumah

      Rencana Pertemuan 2 :

      1)   Guru membagi siswa menjadi kelompok-kelompok yang terdiri dari 4-5 orang untuk mendiskusikan LKS (Bentuk akar) , dan guru sebagai fasilitator.

      2)  Guru membagi siswa menjadi kelompok-kelompok yang terdiri dari 4-5 orang untuk mendiskusikan LKS (Operasi aljabar yang melibatkan bilangan berpangkat bulat dan bentuk akar 1,2,3) , dan guru sebagai fasilitator.

      3) Beberapa siswa wakil dari kelompok diminta kedepan untuk mempresentasikan hasil diskusinya, dan siswa lain menanggapi.

      4.)  Untuk mengecek pemahaman siswa diminta mengerjakan latihan soal terpilih4)     Secara berkelompok siswa mengerjakan latihan secara berjenjang  dan mempresentasikan dipapan tulis dan yang lain menanggapi lalu menyimpulkan kebenaran jawaban dengan bimbingan guru.

      5)  Secara berkelompok siswa mengerjakan latihan tentang operasi perpangkatan bilangan bentuk aljabar   dengan kehadiran   alat bantu   peraga   model  kartu  aljabar  dan  mempresentasikan dipapan tulis dan yang lain menanggapi lalu menyimpulkan kebenaran jawaban dengan bimbingan guru.

      6) Guru dan siswa menyimpulkan hasil diskusi

      7)      Follow  up  bagi  siswa  dengan  memberikan  tugas  pekerjaan rumah,  sekaligus  sebagai  persiapan  menghadapi  tes  ulangan harian.

      c.  Penutup.

      Rencana setelah selesai mempelajari   materi  maka  dilaksanakan  uji  tes  ulangan  harian  pada siklus ke – 1

      2.      Tahap Pelaksanaan Tindakan

      a.   Langkah Pendahuluan

      1)  menyiapkan  perangkat  pembelajaran  RPP, LKS, menyusun perangkat uji tes ulangan harian.

      2)  Mempersiapkan kelompok belajar 3-5 siswa

      b.   Kegiatan Inti

      Pelaksanaan Pembelajaran Pertemuan 1 :

      1)            Guru membagi kelompok belajar 3-5 siswa\

      2)            Guru membagi siswa menjadi kelompok-kelompok yang terdiri dari 4-5 orang untuk mendiskusikan LKS (Operasi aljabar yang melibatkan bilangan berpangkat bulat dan bentuk akar 4,5,6 dan memecahkan masalah) , dan guru sebagai fasilitator.

      3)            Beberapa siswa wakil dari kelompok diminta kedepan untuk mempresentasikan hasil diskusinya, dan siswa lain menanggapi.

      4)            Guru dan siswa menyimpulkan hasil diskusi.

      5)            Untuk mengecek pemahaman siswa diminta mengerjakan latihan soal terpilih.

      6)      Secara   berkelompok    siswa        mengerjaka latiha dengan kehadiran alat  bantu  LKS             dan mempresentasikan dipapan tulis dan yang lain menanggapi lalu menyimpulkan kebenaran jawaban dengan bimbingan guru.

      7)      Follow  up  bagi  siswa  dengan  memberikan  tugas  pekerjaan rumah.

      Pelaksanaan Pembelajaran  Pertemuan 2 :

      1)      Guru membagi kelompok besar beranggota 9 orang

      2)      Guru   membagikan   seperangkat   alat   peraga   model   kartu bilangan bentuk aljabar pada tiap – tiap kelompok.

      3)      Guru  menjelaskan  tentang  operasi  perkalian  dan  pembagian bilangan  bentuk               aljabar  dengan  alat  peraga  kartu  aljabar sedangkan siswa  berkelompok dengan alat bantu model kartu aljabar              memperhatikan  ,  mempelajari  dan               mempraktekkan dengan menyusun kartu tersebut sesuai bentuk aljabarnya dari contoh  soal  pelatihan  ,  selanjutnya   meringkasnya  dengan bimbingan guru.

      4)      Secara berkelompok siswa mengerjakan latihan tentang operasi perkalian  dan  pembagian  bilangan  bentuk  aljabar                                                   dengan kehadiran         alat  bantu  peraga  model  kartu  aljabar                                           dan mempresentasikan dipapan tulis dan yang lain menanggapi lalu menyimpulkan kebenaran jawaban dengan bimbingan guru.

      5)      Guru  menjelaskan  tentang  operasi  perpangkatan      bilangan bentuk  aljabar  dengan  alat  peraga  kartu  aljabar  sedangkan siswa  berkelompok  dengan  alat  bantu  model  kartu  aljabar memperhatikan  ,  mempelajari  dan         mempraktekkan  dengan menyusun kartu tersebut sesuai bentuk aljabarnya dari contoh soal  pelatihan  , selanjutnya meringkasnya dengan bimbingan guru.

      6)      Secara berkelompok siswa mengerjakan latihan tentang operasi perpangkatan bilangan bentuk aljabar   dengan kehadiran   alat bantu   peraga   model  kartu  aljabar      dan  mempresentasikan dipapan tulis dan yang lain menanggapi lalu menyimpulkan kebenaran jawaban dengan bimbingan guru.

      7)      Untuk follow up pada siswa diberi tugas pekerjaan rumah guna pendalaman  materi  untuk  persiapan  uji  tes  ulangan  harian siklus ke 1

      c.  Penutup

       

      Setelah selesai mempelajari      materi operasi bilangan bentuk aljabar  dan  follow  up  untuk  siswa  maka  dilaksanakan  uji  tes ulangan harian pada siklus ke – 1

      3.  Tahap Observasi

       

      Pada tahapan ini terbagi atas dua jenis kegiatan yaitu proses belajar mengajar dan  hasil belajar mengajar.

      a.  Proses Belajar Mengajar

       

      Didalam proses belajar mengajar siklus ke -1  siswa dalam kelompok    masing  –  masing  dibimbing  oleh  guru  dalam mempelajari  operasi  bilangan  bentuk  aljabar  menggunakan  alat LKS

      Dari hasil observasi teman sejawat diperoleh data sebagai berikut :

      1)  Observasi guru

       

      a)  Program Penyampaian pembelajaran sangat baik sekali b)   Aktifkan siswa untuk bertanya

      2)  Obsevasi siswa

       

      Sikap siswa dalam mengikuti pembelajaran sangat baik, aktif, ceria, senang.

      b.  Hasil Belajar Mengajar

       

      Setelah selesai  melaksanakan  tindakan  pembelajaran  pada siklus ke  –  1 dilaksanakan tes  uji ulangan harian dengan hasil sebagai berikut :

      Dari data  keterangan diatas dapat diperoleh kesimpulan  bahwa :

       

      1)      Hasil yang dicapai dari rata – rata kelas 73  telah melampaui nilai batas minimal KKM 66

      2)      Masih  banyak     yang  belum  tuntas  belajar  yakni  6  siswa karena hasil nilai dibawah standar KKM 66

      3)      Tingkat  keberhasilan  pembelajaran  secara  klasikal  83  % masih dibawah KKM Klasikal 85 %.

       

      4.  Tahap Refleksi

       

      Pada    tahapan     ini    untuk    mengetahui     perubahan     hasil pembelajaran dengan cara membandingkan antara kondisi awal dengan tindakan siklus ke – 1 sebagai berikut :

      a.  Proses Belajar Mengajar.

      Tabel 4 : perbandingan antara proses pembelajaran kondisi awal dengan tindakan siklus ke – 1

       

      KONDISI AWAL

       

      TINDAKAN SIKLUS  KE – 1

       

      ∆ Pembelajaran klasikal

       

       

      ∆ Tidak menggunakan alat peraga

       

      ∆ Pembelajaran berkelompok

       

       

      ∆ Mengunakan alat peraga     model kartu   bilangan bentuk aljabar

       

      Didalam proses belajar mengajar telah terjadi perubahan yang lebih baik  dari  kondisi  awal  belum  menggunakan  pola latiaahn berjenjang  pada tindakan siklus ke 1

      b.  Hasil Pembelajaran

      Guna mengetahui perubahan hasil nilai dari kondisi awal dan tindakan  siklus  ke  1  dapat  dilihat  ringkasan  data  pada  tabel  5 berikut ini :

      Tabel 5 : Perbandingan Hasil Ulangan Harian kondisi awal

    Dari tabel 5 dapat dijelaskan  bahwa terjadi peningkatan hasil belajar sebagai berikut :

    a)  Meningkatnya perolehan nilai terendah dari 28 menjadi 40 maka naik 12 poin berarti terjadi kenaikan  keberhasilan individu untuk nilai terendah .

    b)  Meningkatnya  perolehan  nilai  rata –  rata  dari  68  menjadi  73 maka      naik     5            poin   berarti      terjadi    kenaikan                  keberhasilan pembelajaran klasikal .

    c)  Meningkatnya perolehan nilai tertinggi dari 92 menjadi 95 maka naik  3  poin  berarti  terjadi  kenaikan  perolehan  hasil  belajar individu dari prestasi nilai tertinggi .

    d)  Banyaknya nilai dibawah KKM  dari 16 menjadi 6 maka terjadi penurunan          10                    poin           berarti    banyaknya   keberhasilan    siswa melebihi batas KKM meningkat .

    e)  Meningkatnya perolehan hasil ketuntasan pembelajaran klasikal dari 56 %  menjadi 83 % maka terjadi kenaikan 27 poin berarti keberhasilan pembelajaran meningkat, akan tetapi masih dibawah standar pembelajaran KKM klasikal 85 %

    C.  Uraian Tindakan Siklus ke – 2

    1.  Tahap Perencanaan Tindakan

     

    1)  Langkah Pendahuluan

     

    a)  Merencanakan menyiapkan perangkat pembelajaran RPP,media pembelajaran  OHP  dan  tranparansinya,  Alat  peraga  model kartu Bilangan  bentuk  aljabar,  menyusun  perangkat  uji  tes ulangan harian.

    b)  Mempersiapkan kelompok belajar skala kecil 4 siswa

     

    2)  Kegiatan inti

    Rencana Pertemuan 1 :

    a)  Guru membagi kelompok kecil  4  orang

    b)  Guru    memberikan    seperangkat   alat    peraga    model    kartu bilangan  bentuk  aljabar  beserta  penjelasan  penggunaannya pada tiap – tiap kelompok.

    c)  Guru menjelaskan tentang cara menentukan KPK dan FPB dari dua bentuk aljabar suku tunggal dengan alat bantu model kartu aljabar melalui contoh  sedangkan siswa berkelompok dengan alat bantu model kartu aljabar  memperhatikan dan selanjutnya mempelajari  mempraktekkan  dengan   menyusunnya  tentang cara menentukan KPK dan FPB dari contoh dua bentuk aljabar suku tunggal ,meringkas dan mengerjakan  pelatihan.

    d)  Secara kelompok siswa mempresentasikan dipapan tulis dan yang lain  menanggapi lalu menyimpulkan kebenaran jawaban dengan bimbingan guru.

    e)  Guru menjelaskan     tentang                        operasi penjumlahan    dan pengurangan  bilangan  bentuk  pecahan  aljabar  dengan  alat peraga kartu aljabar sedangkan siswa berkelompok dengan alat bantu  model  kartu   aljabar      memperhatikan  ,mempelajari

    contoh  soal  pelatihan  ,  selanjutnya  meringkasnya  dengan bimbingan guru.

    f)     Secara           berkelompok   siswa   mengerjakan    latiha tentang

    penjumlahan dan pengurangan bilangan bentuk aljabar  dengan kehadiran         alat  bantu  peraga  model  kartu  aljabar     dan mempresentasikan dipapan tulis dan yang lain menanggapi lal menyimpulkan kebenaran jawaban dengan bimbingan guru.

    g)  Untuk follow up pada siswa diberi tugas pekerjaan rumah. Rencana Pertemuan 2 :

    a)  Guru membagi kelompok kecil  beranggota 4 orang

    b)  Guru   membagikan   seperangkat   alat   peraga   model   kartu bilangan bentuk aljabar pada tiap – tiap kelompok.

    c)  Guru  menjelaskan  tentang  operasi  perkalian  dan  pembagian bilangan  bentuk  pecahan  aljabar  dengan  alat  peraga  kartu aljabar sedangkan siswa berkelompok dengan alat bantu model kartu   aljabar                memperhatikan ,            mempelajari dan mempraktekkan dengan menyusun kartu tersebut sesuai bentuk aljabarnya         dari             contoh        soal          pelatihan   ,     selanjutnya meringkasnya dengan bimbingan guru.

    d)  Secara berkelompok siswa mengerjakan latihan tentang operasi perkalian  dan  pembagian  bilangan  bentuk  pecahan                                                 aljabar dengan kehadiran  alat bantu peraga model kartu aljabar  dan mempresentasikan dipapan tulis dan yang lain menanggapi lalu menyimpulkan kebenaran jawaban dengan bimbingan guru.

    e)  Guru  menjelaskan  tentang  operasi  perpangkatan       bilangan bentuk pecahan aljabar suku tunggal dengan alat peraga kartu aljabar sedangkan siswa berkelompok dengan alat bantu model kartu   aljabar                memperhatikan ,    mempelajari         dan mempraktekkan dengan menyusun kartu tersebut sesuai bentuk aljabarnya         dari             contoh        soal          pelatihan   ,     selanjutnya meringkasnya dengan bimbingan guru.

    f)          Secara berkelompok siswa mengerjakan latihan tentang operasi perpangkatan  bilangan  bentuk  pecahan      aljabardengan kehadiran     alat  bantu  peraga  model  kartu  aljabar      dan mempresentasikan dipapan tulis dan yang lain menanggapi lalu menyimpulkan kebenaran jawaban dengan bimbingan guru

    g)  Guru  membimbing  siswa  menyelesaikan  soal  cerita  terkait operasi bilangan aljabar.

    h)  Secara  berkelompok siswa mengerjakan latihan tentang soal cerita   terkait  operasi  bilangan  bentuk  aljabar  selanjutnya mempresentasikan dipapan tulis dan yang lain menanggapi lalu menyimpulkan kebenaran jawaban dengan bimbingan guru

    i)    Untuk follou up pada siswa diberi tugas pekerjaan rumah guna pendalaman materi untuk persiapan uji tes ulangan harian.

    3)  Penutup

    Rencana pelaksanaan  proses  pembelajaran  siklus  ke  –  2  selesai kemudian dilaksanakan rencana uji tes ulangan harian siklus ke – 2.

    2.  Tahap Pelaksanaan Tindakan

    1)  Langkah Pendahuluan

    a)  Menyusun perangkat pembelajaran RPP tindakan siklus ke – 2 , menyiapkan  media pembelajaran OHP dan tranparansinya, Alat peraga model kartu Bilangan bentuk aljabar, menyusun perangkat uji tes ulangan harian.

    b)  Mempersiapkan kelompok belajar skala kecil  4  siswa

    2)  Kegiatan inti

    Pelaksanaan Pertemuan 1 :

    a)  Guru membagi kelompok kecil  4 orang

    b)  Guru memberikan seperangkat alat peraga model kartu bilangan

    bentuk aljabar beserta penjelasan penggunaannya pada tiap – tiap kelompok.

    c)  Guru menjelaskan tentang cara menentukan KPK dan FPB dari dua bentuk  aljabar suku tunggal dengan alat bantu model kartu aljabar melalui contoh sedangkan siswa berkelompok dengan alat bantu  model  kartu  aljabar       memperhatikan  dan  selanjutnya mempelajari mempraktekkan dengan menyusunnya tentang cara menentukan KPK dan FPB dari contoh dua bentuk aljabar suku tunggal ,meringkas dan mengerjakan  pelatihan.

    d)  Secara  kelompok  siswa  mempresentasikan  dipapan  tulis  dan yang  lain  menanggapi  lalu  menyimpulkan  kebenaran  jawaban dengan bimbingan guru.

    e)  Guru menjelaskan tentang operasi penjumlahan dan pengurangan bilangan bentuk pecahan aljabar dengan alat peraga kartu aljabar

    sedangkan siswa  berkelompok  dengan  alat  bantu  model  kartu aljabar   memperhatikan , mempelajari contoh soal pelatihan , selanjutnya meringkasnya dengan bimbingan guru.

    f)   Secara     berkelompok     siswa    mengerjakan     latihan    tentang penjumlahan dan pengurangan bilangan bentuk pecahan  aljabar dengan  kehadiran  alat bantu peraga model kartu aljabar            dan mempresentasikan dipapan tulis dan yang lain menanggapi lalu menyimpulkan kebenaran jawaban dengan bimbingan guru.

    g)  Untuk follow up pada siswa diberi tugas pekerjaan rumah. Pelaksanaan  Pertemuan 2 :

    a)  Guru membagi kelompok kecil  beranggota 4 orang

    b)  Guru membagikan seperangkat alat peraga model kartu bilangan bentuk aljabar pada tiap – tiap kelompok.

    c)  Guru  menjelaskan  tentang  operasi  perkalian  dan  pembagian bilangan bentuk pecahan aljabar dengan alat peraga kartu aljabar sedangkan  siswa  berkelompok  dengan  alat  bantu  model  kartu aljabar          memperhatikan  ,  mempelajari  dan      mempraktekkan dengan menyusun kartu tersebut sesuai  bentuk aljabarnya dari contoh     soal      pelatihan          ,              selanjutnya          meringkasnya    dengan bimbingan guru.

    d)  Secara berkelompok siswa mengerjakan latihan tentang operasi perkalian   dan   pembagian  bilangan  bentuk  pecahan                                                    aljabar dengan kehadiran         alat bantu peraga model kartu aljabar                                        dan

     

    mempresentasikan dipapan tulis dan yang lain menanggapi lalu menyimpulkan kebenaran jawaban dengan bimbingan guru

    e)  Guru menjelaskan tentang operasi perpangkatan  bilangan bentuk pecahan aljabar dengan alat peraga kartu aljabar sedangkan siswa berkelompok dengan alat       bantu               model                          kartu        aljabar memperhatikan  ,  mempelajari  dan       mempraktekkan  dengan menyusun  kartu tersebut sesuai bentuk aljabarnya dari contoh soal  pelatihan  ,  selanjutnya  meringkasnya  dengan  bimbingan guru.

    f)   Secara berkelompok siswa mengerjakan latihan tentang operasi perpangkatan                 bilangan           bentuk pecahan           aljabar  dengan kehadiran        alat   bantu   peraga   model   kartu   aljabar                      dan mempresentasikan  dipapan tulis dan yang lain menanggapi lalu menyimpulkan kebenaran jawaban dengan bimbingan guru g)  Guru  membimbing  siswa  menyelesaikan  soal  cerita  terkait operasi bilangan aljabar.

    h)  Secara  berkelompok  siswa  mengerjakan  latihan  tentang  soal cerita      terkait  operasi            bilangan               bentuk      aljabar    selanjutnya mempresentasikan  dipapan tulis dan yang lain menanggapi lalu menyimpulkan kebenaran jawaban dengan bimbingan guru

    i)    Untuk  follow  up  pada  siswa  diberi  tugas  pekerjaan  rumah sebagai pendalaman materi guna persiapan uji tes ulangan harian berikutnya.

    3)  Penutup

    Pelaksanaan proses pembelajaran siklus ke – 2 selesai kemudian dilaksanakan uji tes ulangan harian siklus ke – 2

    3.  Tahap Observas

    a.  Proses Belajar Mengajar

    Didalam proses belajar mengajar siklus ke -2  siswa dalam kelompok  sedang masing – masing dibimbing oleh guru dalam operasi bilangan bentuk pecahan aljabar menggunakan alat peraga model kartu bilangan bentuk aljabar

    Dari hasil observasi teman sejawat diperoleh data sebagai berikut :

    1)  Observasi guru

    a)  Penyampaian pembelajaran sangat baik dan bervariasi b)  Alat   peraga  perlu  dikembangkan  dan  diusahakan

    cukup memfasilitasi semua siswa.

    2)  Obsevasi siswa

    a)  masih adanya siswa yang terlihat malas 1 orang, main sendiri 1 orang, takut menjawab 2 orang.

    b)  Rata rata sikap siswa dalam mengikuti pembelajaran sangat baik, aktif, ceria, senang.

    b.  Hasil Belajar Mengajar

     

    Setelah selesai melaksanakan kegiatan proses pembelajaran pada  tindakan siklus ke – 2 , dilaksanakan tes uji ulangan harian materi pecahan aljabar  dengan hasil  sebagai berikut :

     

    dansteerusnyaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa…………………..

    BAB V

     

    PENUTUP

     

     

     

     

    A.     Kesimpulan.

     

    Berdasarkan uraian yang ada secara keseluruhan dari kondisi awal yang  selanjutnya dilakukan tindakan siklus ke – 1 dan siklus ke – 2 yang berupa  data  kuantitatif  setelah  dianalisa  didapat  gambaran  sebuah  hasil penelitian  yang  berupa  kebenaran  empiris  dengan  didukung  kebenaran teoritis didapat kesimpulan sebagai berikut :

    Dengan  Optimalisasi  Alat  Peraga  model  kartu  bilangan  aljabar  dapat meningkatkan  hasil  belajar  matematika  tentang  Operasi  bilangan  Bentuk Aljabar bagi Siswa Kelas 7B SMP Negeri 5 Surakarta pada semester genap tahun Pelajaran 2009 – 2010 dengan peningkatan ketuntasan belajar secara klasikal dari :

    a.      Kondisi Awal ke tindakan siklus 1 dengan peningkatan 27 % b.   Kondisi Awal ke tindakan siklus 2 dengan peningkatan  25 % c.   Tindakan siklus 1 ke siklus 2 menurun 2 %

     

     

     

    B.     Saran.

     

    Sebagai    upaya    untuk   meningkatkan    kemampuan    kinerja    dan profesionalisme diri sebagai pendidik peneliti menyarankan kepada :

    1.  Guru.

     

    Mengharapkan  kepada   rekan   –   rekan   guru   untuk   berupaya meningkatkan kemampuan diri menuju profesional sejati dengan

    berusaha mengatasi permasalahan didalam proses belajar mengajar dengan  melakukan  inovasi  pembelajaran  sesuai  dengan  materi melalui  pemanfaatan  alat  peraga,  media  pembelajaran  ataupun model  pembelajaran  serta  peningkatan  kemampuan  diri  melalui penelitian.

    2.  Siswa

     

    Didalam belajar siswa agar mau berusaha secara mandiri individu maupun  kelompok  meningkatkan  kemampuan  diri  dengan  cara memanfaatkan           secara  maksimal                           media    ataupun      alat       peraga pembelajaran yang  ada disekolah ataupun dengan cara membuat sendiri  jika  memungkinkan   agar   materi  yang  dipelajari  dapat maksimal.

    3.  Sekolah

     

    Sekolah sebagai institusi penentu kebijakan di lingkungan sekolah agar  lebih                       memahami,  mengetahui      kebutuhan  akan  sarana prasarana  pembelajaran                       khususnya  media  ataupun  alat  –  alat peraga pembelajaran  yang dibutuhkan guru maupun siswa dalam usaha mengingkatkan hasil belajar peserta didiknya.

     

    66

     

     

    DAFTAR PUSTAKA

     

    A.G.M. Van Melsen , Dr. 1985. Ilmu Pengetahuan dan Tanggung JawabKita. Gramedia Jakarta

     

    Dedi Junaedi,Drs., dkk. 1998.  Penuntun Belajar matematika untuk SMP Pegangan Guru.  Mizan Bandung

    Eko Purwanti, 2003, Pemilihan Media Dan Sumber – Sumber Pembelajaran.Depdikbud Jateng

     

    H. Martinis yamin, Drs., M.Pd. 2007 , Desain Pembelajaran Berbasis TingkatSatuan Pendidikan. Gaung Persada Press Jakarta.

     

    J.J. Hasibuan, Drs.,Dip.Ed. dan Moedjiono, Drs. 1985. Proses BelajarMengajar. Remaja Rosda Karya Bandung.

     

    Kurikulum 2004. Pedoman khusus Pengembangan Silabus berbasisKompetensi Mapel Matematika.  Depdiknas jakarta

     

    ————– .2004. Pedoman khusus Pengembangan Sistem Penilaian Berbasis Kompetensi SMP Mata Pelajaran Matematika. Depdiknas Jakarta.

    ………………. 2004. Pedoman Memilih dan Menyusun Bahan Ajar, DepdiknasJakarta

     

    ……………… 1995.  Petunjuk Teknis Mata Pelajaran Matematika. DepdikbudJakarta

     

    ………………..2006, K.urikulum Tingkat satuan Pendidikan.

     

    Mulyadi HP,2009. Pengantar Pengembangan Profesi. LPMP Jawa tengahSemarang.

     

    ………………………., Laporan Penelitian Tindakan Kelas, LPMP Jawa TengahSemarang

     

    Nana Sudjana ,Drs. 2008. Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar. Remaja

     

    Rosdakarya Bandung.

     

    R. Soedjadi dan Djoko Moesono,1995 ,  Matematika 2 Petunjuk Guru , Depdikbud jakarta

    Rochman Natawidjaja, Drs. Dan L.J. Moleong, Drs. MA.  Psikologi

     

    Pendidikan Untuk SPG. CV Prindo Jaya Jakarta. Roy Hollands, 1983. kamus matematika. Erlangga Jakarta

     

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s